HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kampung Toladan butuh uluran tangan pasca banjir bandang

Kondisi Kampung Toladan atau Pulau yang hancur akibat banjir bandang di Kabupaten Jayapura – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi – Sedikitnya 30an Kepala Keluarga (KK) yang mendiami Kampung Toladan, Kelurahan Sentani Kota, Kabupaten Jayapura hingga kini belum mendapatkan bantuan dari dinas terkait akibat banjir bandang yang terjadi pada Sabtu (16/3/2019) malam hingga dini hari.

Einus Kiwok salah satu kepala keluarga yang mendiami daerah ‘pulau’ (disebut pulau karena berada ditengah-tengah dua aliran kali Toladan) mengatakan intensitas hujan mulai terjadi pada pukul 20.00 WP malam.

“Kalau hujan saja sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja ini banjir kiriman dari gunung Siklop (Cycloop) berupa material batu dan pasir. Untungnya kami tidak panik sehingga tidak ada korban jiwa,” katanya kepada Jubi, Senin (27/3/2019).

Kata Einus, dari 30an rumah yang ada di pulau ada 11 rumah rusak parah, tiga di antaranya hanyut tanpa bekas diterjang oleh aliran sungai pada malam hari.

Loading...
;

“Kami hanya menyelamatkan diri dan pakaian di badan. Saat ini kami sangat membutuhkan pakaian, makanan dan obat-obatan. Yang kami pikirkan ini anak-anak, kalau orang dewasa kami bisa tahan dingin. Anak-anak ini yang tidak bisa,” ujarnya.

Einus mengatakan bahwa hingga kini belum ada bantuan dari dinas sosial. “Kami hanya mendapatkan bantuan tenda dari pihak Rindam XVII Cenderawasih. Tenda ini kami bangun di Gereja Baptis Emanuel Toladan, karena anak-anak dan perempuan kami ungsikan ke sana,” katanya.

Masyarakat yang mendiami daerah pulau adalah dari suku Dani. Untuk menghilangkan trauma atau sebuah peristiwa biasanya Suku Dani dilakukan aksi bakar batu dan makan bersama.

“Kami tidak ingin larut dalam bencana alam ini. Kami lalukan prosesi ini (bakar batu) sebagai wujud terimakasih kepada Tuhan karena masih memberikan kami kehidupan, walaupun saudara-saudara kami di luar meninggal akibat bencana ini,” kata Yance Wenda menambahkan.

Kata Yance, kejadian banjir bandang tersebut pernah terjadi pada tahun 2007 silam, dan banjir kali ini yang parah menurutnya.

“Kami pernah alami di 2007, jadi yang sekarang ini kami tidak trauma. Hanya dampaknya lebih parah saat ini karena air membawa material air dan kayu,” ujarnya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top