Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kampus ini pasang detektor puting beliung dan tanah longsor

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jember, Jubi – Universitas Jember (Unej) memasang alat detektor angin puting beliung dan tanah longsor untuk mengantisipasi datangnya bencana alam selama musim hujan di daerah setempat. Alat deteksi bencana hasil karya akademik peneliti dari Fakultas Teknik Unej yakni Januar Fery Irawan, Satrio Budi Utomo, FX. Kristianta dan Ike Fibriani.

"Detektor angin puting beliung dipasang di Desa Karangrejo, Kecamatan Sumbersari sebanyak dua buah, dan satu alat di Desa Pakusari, Kecamatan Pakusari, sedangkan untuk detektor tanah longsor dipasang di Desa Suci, Kecamatan Panti, dan di Desa Pace, Kecamatan Silo," kata ketua tim pembuat alat detektor, Januar Fery Irawan , Jumat, ( 14/12/2018).

Sistem kerja detektor angin puting beliung yang diciptakan dengan cara mengukur kecepatan angin, para peneliti menempatkan animometer analog yang fungsinya mengukur kecepatan angin.”Jika kecepatan angin mencapai 35 kilometer per jam, maka otomatis sensor akan mendeteksi sebagai gejala angin puting beliung dan sirine akan berbunyi,” kata Januar menambahkan .

Sirine akan berbunyi selama kurang lebih 10 hingga 15 menit guna memperingatkan warga sekitar, sehingga memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Menurut dia, proses terbentuknya angin puting beliung atau angin ribut didahului terlebih oleh angin yang kecepatannya bertambah secara bertahap.

Loading...
;

Penempatan detektor angin puting beliung di lokasi Desa Karangrejo, Kecamatan Sumbersari dan Dusun Gempal, Kecamatan Pakusari berdasarkan riwayat terjadinya bencana sebelumnya karena Desa Karangrejo pernah dilanda angin puting beliung hingga merobohkan pohon-pohon besar di tepi jalan pada 2017.

Di sekitar lokasi terdapat sekolah dan merupakan jalan yang menjadi urat nadi transportasi di wilayah ini, namun peristiwa angin puting beliung tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, sehingga tim peneliti Unej berinisiatif menempatkan dua detektor di pinggir jalan dan di sekitar perumahan warga.

"Harapannya, jika terjadi angin puting beliung maka warga sekitar bisa bersiap-siap agar tak ada korban jiwa, apalagi suara sirine bisa menjangkau wilayah seluas 1 kilometer," kata Januar menjelaskan.

Sedangkan detektor longsor cara kerjanya hampir mirip dengan detektor angin puting beliung, namun bedanya sensor ditanam di dalam tanah sehingga bisa mendeteksi gerakan tanah yang terjadi.

"Sensor yang kami tanam mampu mendeteksi gerakan tanah hingga pergeseran lima milimeter dan jika terjadi gerakan tanah selama 1 menit maka sensor akan memerintahkan sirine untuk berbunyi,” kata peneliti Unnej, Satrio Budi Utomo.

Pemasangan detektor longsor di Desa Suci Kecamatan Panti dan Desa Pace Kecamatan Silo karena kedua daerah tersebut termasuk daerah rawan longsor. Tim Fakultas Teknik Unnej juga bekerja sama dengan Pusat Lingkungan dan Kebencanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unej memberikan sosialisasi mitigasi bencana di tiap lokasi detektor ditempatkan.

“Tim peneliti dari Fakultas Teknik Unej itu ingin mengembangkan detektor tidak hanya untuk deteksi dini bencana alam angin puting beliung dan longsor saja, namun dikembangkan untuk deteksi dini bencana lainnya,” kata Satrio menjelaskan. (*)

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top