Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kantongi ijazah sarjana, Jomina pilih berdagang es ketimbang mengangggur

Jomina Kobak saat melayani pembeli es jeruk peras – Jubi/Arjuna.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Salah seorang perempuan asli Papua yang sehari-harinya berjualan es jeruk peras di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Jomina Kobak (33) mengajak masyarakat asli Papua menciptakan lapangan kerja sendiri.

Ia mengatakan, jika ada keinginan orang asli Papua juga bisa menjalankan usaha yang dilakukan masyarakat dari luar Papua.

“Perputaran uang di Papua selalu ada setiap hari. Kita tidak bisa tunggu yang besar-besar. Mesti dimulai dari yang kecil. Tidak bisa kita mau langsung dapat hasil yang besar. Kalau orang lain bisa kita orang Papua juga bisa,” kata Jomina Kobak kepada Jubi, Kamis (21/11/2019).

Menurut alumni Universitas Kristen Indonesia Jakarta, jurusan adminsitrasi niaga pada 2012 ini, pemikiran itulah yang memotivasinya sehingga sejak satu setengah tahun lalu ia mulai berjualan es jeruk peras.

Loading...
;

Awalnya Jomina Kobak berkeliling menjajakan dagangannya di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Jayapura.

Barulah beberapa bulan terakhir, warga Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura ini memilih tempat berjualan tetap di lahan kosong di samping Markas Komando Angkatan Udara Republik Indonesia atau AURI.

Setiap hari Jomina Kobak mulai berjualan pukul 09.00-17.00 Waktu Papua. Dalam sehari, minimal Jomina Kobak mendapat keuntungan bersih Rp 500 ribu.

“Daripada tinggal di rumah tidak ada pekerjaan, saya memilih berjualan es jeruk peras. Ijazah itukan benda mati. Kita  yang mesti kreatif menciptakan pekerjaan sendiri. Jangan hanya menunggu mau jadi pegawai negeri sipil,” ujarnya.

Hasil berjualan es jeruk peras dipergunakan Jomina Kobak memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai kedua anak laki-lakinya. Anak sulungnya yang berusia 11 tahun, kini duduk di bangku Kelas V SD Kalam Kudus Kabupaten Jayapura. Anak keduanya berusia lima tahun, akan mengawali pendidikan anak usia dini atau PAUD pada pertengahan 2020 mendatang.

“Suami saya juga alumni UKI Jakarta. Kami berdua menyelesaikan kuliah pada tahun yang sama. Akan tetapi dia jurusan Pendidikan Agama Kristen. Kini dia juga berjualan es jeruk peras keliling dari sekolah ke sekolah,” ucapnya.

Sementara itu, ketua serikat pekerja orang asli Papua, Kope Wenda menyatakan, pemikiran seperti Jomina Kobak inilah yang mesti dimiliki orang asli Papua lainnya. Mau mencipatkan lapangan kerja sendiri.

“Tidak memikirkan hal-hal yang berlebihan, tapi bagaimana mencoba sesuatu yang baru dulu,” kata Kope Wenda.

Menurut Kope Wenda, jika orang asli Papua mau mencoba suatu usaha kecil terlebih dahulu, tidak menutup kemungkinan usaha itu akan berkembang menjadi usaha yang lebih besar. (*)

Editor : Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top