HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kantor terbakar, MRP menggelar doa syukur

Ruang di kantor MRP yang dibakar – Jubi/Arjuna Pademme.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Majelis Rakyat Papua atau MRP tidak akan membentuk panitia khusus ataupun tim penyelidik terkait pembakaran Kantor MRP dalam amuk massa yang terjadi saat unjukrasa anti rasisme di Jayapura pada 29 Agustus 2019 lalu. Lembaga kultural orang asli Papua itu memilih menggelar ibadah doa bersama di halaman kantornya di Kota Jayapura, Papua, pada Jumat (6/9/2019).

Ibadah doa bersama itu diikuti seluruh anggota MRP, Sekretaris MRP, dan seluruh stat Sekretariat MRP maupun pegawai di lingkungan MRP. Ketua MRP Timotius Murib menegaskan doa bersama itu merupakan wujud syukur, sekaligus membawa segala pengumulan MRP memperjuangkan hak hidup orang Papua kepada Tuhan.

“Saya undang ketua-ketua pokja dan pikir akan mengusulkan harus lapor ke presiden atau polisi. Akan tetapi, [kami memilih untuk]meminta kepada Tuhan, sehingga kita undang doa hari ini,” ungkap Murib dalam sambutan  doa bersama di halaman belakang Kantor MRP, Jumat.

Murib meyakini doa dan puasa bersama sebagaimana yang dilakukannya menjadi solusi terbaik untuk semua orang asli Papua dalam membawa semua pergumulanya. Murib menyebut, rangkaian berbagai peristiwa yang terjadi sejak kasus persekusi dan ujaran rasisme yang ditujukan kepada para mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu menunjukkan tidak ada tempat yang tepat untuk orang asli Papua mengadukan seluruh masalah dan  pergumulannya.

Loading...
;

“Ini wujud komitmen MRP. Kalau ada masalah, [orang Papua] tidak bisa kemana-mana. Pengaduan terakhir orang Papua adalah kepada Tuhan. Tempat pengaduan kita hanya kepada Tuhan, kita harus  mulai dari MRP,”ungkapnya.

Murib menyebut berbagai persoalan yang dihadapi orang asli Papua, termasuk kasus persekusi dan ujaran rasisme di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu tidak menemukan jalan penyelesaian. Kebuntuan itu menimbulkan gelombang unjukrasa anti rasisme, dan belakang memunculkan amuk massa yang membakar Kantor MRP.

Murib menegaskan, penegakan hukum di Indonesia masih timpang, dan Negara malah mempersalahkan orang Papua yang memprotes rasisme. Meski demikian, Murib menegaskan MRP tidak akan patah semangat menghadapi penegakan hukum yang timpang itu, ataupun terhadap pembakaran kantor MRP. Murib meyakini, dengan doa MRP semakin mendapat kekuatan untuk terus memperjuangkan hak orang asli Papua.

“Kami tetap semangat melayani. Kami bawa semua ini kepada Tuhan. Dengan doa, Kami mendapatkan roh kekuatan tetap tegar untuk melayani,”ungkapnya.

Pdt Eddy Togodly, pembawa firmanTuhan dalam ibadah itu mengatakan tidak ada tempat pelarian yang benar untuk menyelesaikan  masalah apapun, kecuali Tuhan. Karena Tuhan yang mampu menyelesaikan seluruh masalah ketika manusia menghadapi jalan buntu dalam menyelesaikan masalah manusiawi.

“Tuhan itu baik. Tuhan itu tempat pelarian dan pergumulan, ketika di sana-sini ada kebencian dan hinaan ,”ungkapnya dalam khutbahnya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top