HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kasus penembakan di Papua mesti dikaji dari berbagai aspek

Kasus penembakan di Papua mesti dikaji dari berbagai aspek

Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Dosen hukum pidana dari Fakultas Hukum Univesitas Cenderawasih, Dr Budiyanto, MH menyatakan perlu kajian dari berbagai aspek untuk mengetahui faktor penyebab semakin banyaknya kasus penembakan di Papua. Hal itu disampaikan Budiyanto di Jayapura, Jumat (14/6/2019).

Dr Budiyanto menyebut kasus penembakan di Papua cenderung semakin sering terjadi sepanjang 2019, melibatkan beragam kelompok pelaku. “Mesti dikaji dari berbagai aspek. Mulai dari aspek hukum, ekonomi, politik, sosial dan budaya,” kata Budiyanto kepada Jubi, Jumat (14/6/2019).

Dari aspek hukum, Budiyanto menyebut maraknya penembakan itu bisa dikaji dari sisi kriminologi maupun viktimologi. Kajian dari sisi kriminologi akan mengidentifikasi latar belakang pelaku, termasuk identitas perorangan maupun identitas kelompok pelaku, termasuk meneliti  ada tidaknya aktor pelaku/kelompok pelaku baru yang membuat penembakan semakin kerap terjadi.

Kajian itu juga akan menggali mengapa pelaku sampai melakukan penembakan, dan modus operandi dari setiap kasus penembakan. Kajian itu akan mengenali atau menyimpulkan sejumlah hipotesa, termasuk mengapa penembakan selalu terjadi, akar masalah yang menyebabkan kasus penembakan semakin kerap terjadi, dan bagaimana mencegah terjadinya kasus penembakan di masa mendatang.

“Dulu tidak ada tembak menembak [antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata]. Sekarang ada tembak menembak, [karena muncul] pelaku/kelompok pelaku [baru], yaitu kelompok sipil bersenjata. Itu berarti ada pasokan [senjata/amunisi kepada kelompok itu]. [Kajian itu akan mengidentifikasi] apakah mereka merakit senjata sendiri, atau mendatangkan [pasokan senjata dan amunisi]. Kalau ternyata didatangkan, harus diteliti dari mana senjatanya,” ujarnya.

Budiyanto menyebut kajian dari sisi viktimologi akan menggali segala sesuatu yang berkaitan dengan korban/kelompok korban penembakan. Budiyanto menyebut, warga sipil maupun aparat keamanan seperti TNI/Polri menjadi kelompok yang sering menjadi korban penembakan. Situasi itu menunjukkan ada sesuatu yang salah.

Sepanjang tahun ini kasus penembakan di Papua cenderung meningkat sepanjang tahun ini. Korban luka dan tewas berasal warga sipil, kelompok bersenjata, juga anggota TNI/Polri. Pelaku penembakan melibatkan tidak hanya kelompok bersenjata, juga oknum anggota TNI/Polri.

Tercatat enam warga sipil tewas dan lima lainnya terluka akibat penembakan oleh oknum anggota TNI maupun Polri. Dari kubu aparat keamanan, sedikitnya tujuh orang anggota TNI/Polri tewas dan satu terluka ketika terjadi kontak senjata dengan kelompok bersenjata.

Anggota komisi bidang pemerintahan, politik, keamanan, hukum dan hak asasi manusia Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Emus Gwijangge berharap ketika ada masalah di masyarakat para pihak terkait dapat menahan diri. Menyelesaikan masalah dengan musyawarah.

“Baik masyarakat maupun aparat keamanan yang akan menyelesaikan masalah, jangan selalu menggunakan kekerasan agar tidak ada lagi masyarakat atau aparat keamanan yang korban,” kata Emus Gwijangge. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)