HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kasus penembakan karena pileg di Distrik Fayit, Ketua KPU Asmat enggan bicara

Kasus penembakan karena pileg di Distrik Fayit, Ketua KPU Asmat enggan bicara

Salah satu korban penembakan yang dibawa ke rumah sakit Agats, Asmat – Jubi/Ans K

Merauke, Jubi –  Kapolres Asmat, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Andi Yoseph Enoch mengatakan, lima orang warga sipil dari beberapa kampung di Distrik Fayit,  diduga ditembak  oknum anggota TNI.

Kasus penembakan tersebut, terjadi tadi pagi sekitar pukul 10.00 WP. Empat orang  meninggal dunia. Sedangkan satunya masih dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats.  Demikian disampaikan Kapolres ketika dihubungi Jubi melalui telpon selulernya Senin (27/5/2019).

“Saya masih di Jayapura dan dari laporan yang diterima, kasus  penembakan itu berkaitan dengan  perolehan suara caleg PDI-Perjuangan,” ujarnya.

Dikatakannya, masyarakat dari beberapa kampung melakukan pengrusakan rumah salah satu caleg yang mengambil  suara  caleg yang menang Saat itu, katanya, ada anggota Koramil  berusaha menghalau dan sempat memberikan tembakan peringatan. Hanya saja, menurut Kapolres, mereka hendak menyerang anggota itu, sehingga anggota tersebut langsung melakukan penembakan.

“Saya belum tahu nama dari  oknum anggota TNI yang melakukan penembakan. Juga empat warga sipil yang ditembak,” katanya.

Keempat warga yang tewas ditembak  dari kampung berbeda, tetapi masih dalam wilayah Distrik Fayit. Kini keempatnya belum dimakamkan oleh keluarga.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Asmat, Feronikus Ate melalui telpon selulernya mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan keterangan kepada wartawan, karena belum mengetahui kronologis sesungguhnya.

“Saya belum bisa berkomentar karena belum mendapatkan laporan secara pasti dari staf. Kalau sudah akan segera  berikan penjelasan kepada wartawan,” katanya.

Sementara data yang diperoleh Jubi, penyerangan dan pengrusakan dikarenakan salah satu caleg dari PDI-P berinisial JK yang menurut perhitungan suara, mendapatkan suara terbanyak dan mendapatkan jatah satu kursi. Namun diganti caleg PDI-P lain dengan inisial FA.

Insiden seperti ini menurut Samuel Tabuni, seorang caleg DPR RI yang belum beruntung melaju ke Senayan bisa terjadi karena KPU dan Bawaslu Kabupaten Asmat tidak terbuka terhadap para caleg. Juga karena pemerintah daerah setempat tidak memfasilitasi hak politik anak asli Asmat.

“Namun ceritanya menjadi lain ketika korban meninggal akibat aparat TNI tembak warga yg protes. Anggota TNI yang melakukan tembakan terhadap warga harus dihukum. Apalagi korbannya sampai lima orang. Empat meninggal. Tidak ada alasan penembakan dilakukan karena warga menyerang,” ujar Tabuni. (*)

Editor : Victor Mambor

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)