Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kasus penembakan warga sipil oleh polisi memasuki tahap penyidikan

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Inspektur Jenderal Polisi Rudolf Alberth Rodja – Jubi/Arjuna Pademme

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Polisi Rudolf Alberth Rodja menyatakan penanganan dua kasus penembakan warga sipil oleh polisi telah memasuki tahap penyidikan. Akan tetapi, Kepolisian Daerah atau Polda Papua belum berhasil menemukan pelaku penembakan yang menewaskan Yulianus Mote di Kabupaten Deiyai, Papua, pada 21 Mei 2019 lalu.

Sejumlah dua kasus penembakan warga sipil yang telah memasuki tahapan penyidikan itu adalah kasus penembakan terhadap Melianus Dogopia di Kabupaten Deiyai dan kasus penembakan terhadap Yohanes Octo Moiwend di Kabupaten Merauke. Perkembangan penangangan kedua kasus itu disampaikan Irjen Pol Rudolf Alberth Rodja kepada wartawan usai apel gabungan TNI/Polri di Markas Komando Daerah Militer XVII Cenderwasih, Kamis (13/6/2019).

“[Perkembangan kedua kasus penembakan itu] sedang diproses. Orangnya sedang disidik. Tidak boleh langsung secepat itu, langsung sidang etik,” kata Rodja.

Baca juga Langkah Polda Papua mencegah penyalahgunaan senjata api tepat

Loading...
;

Kasus yang memasuki tahap penyidikan itu adalah penembakan terhadap Melianus Dogopia oleh polisi di Kabupaten Deiyai pada 21 Mei 2019. Korban disebut mabuk dan memalak mobil yang melintas di Waghete. Penembakan itu menimbulkan amuk massa yang membakar markas Kepolisian Sektor Tigi pada 21 Mei malam. Saat menghalau massa, polisi melepaskan tembakan, dan salah satu tembakan itu menewaskan Yulianus Mote.

Hingga kini polisi kesulitan mengindentifikasi penembakan terhadap Yulianus Mote. Polisi menyatakan pihak keluarga korban menolak autopsi terhadap jenazah korban, sehingga proyektil peluru yang ada dalam tubuh korban tidak dapat diambil.

Baca juga Sejumlah faktor diduga menyebabkan penyalahgunaan senjata api oleh anggota TNI/Polri

Kasus kedua yang memasuki tahapan penyidikan adalah kasu penembakan terhadap Yohanes Octo Moiwend terjadi pada 4 Juni 2019 dini hari. Pelaku Brigadir RK yang mabuk menembak korban hingga tewas di sebuah kafe di kampung Wogekel, Distrik Ilyawab, Kabupaten Merauke.

Kasus penembakan yang melibatkan polisi juga terjadi Kabupaten Jayapura. Pada 15 April, seorang polisi, Bripda AK yang sedang terlibat perselisihan keluarga, melepaskan tembakan yang melukai tiga orang warga tiga warga sipil di Asei Kecil Sentani Kabupaten Jayapura. Ketiga warga itu adalah, Apner Kaigere (43 tahun, yang terkena dibagian dada), Andi Hengga (36 tahun, terkena pantat), dan Niko Kaigere (tertembak di bagian kaki kanan).

Baca juga Polda Papua berupaya cegah penyalahgunaan senjata api oleh polisi

Pada 27 Mei 2019, terjadi kasus penembakan yang melibatkan tentara. Serka FR, prajurit Detasemen Zeni Tempur 11/Mit Anim di Kabupaten Merauke menembak warga di Distrik Fayit, Kabupaten Asmat. Penembakan itu menewaskan empat orang warga-Xaverius Sai (40), Nilolaus Tupa (38), Matias Amunep (16) dan Fredrikus Inepi (35).

Seorang warga lainnya, Jhon Tatai (25), tertembak di bagian tangan kanan dan kiri, dan tangan kiri Tatai diamputasi karena luka tembak itu. Dari keempat peristiwa itu, kasus penembakan warga sipil yang melibatkan polisi atau tentara sejak April hingga kini telah menewaskan enam warga sipil di Papua, dan melukai lima warga lainnya.

Baca juga Mabuk, oknum polisi di Merauke tembak warga hingga tewas

Polda Papua tidak ingin kasus serupa kembali terjadi. Dalam beberapa hari terakhir, Kepolisian Resor di jajaran Polda Papua diminta menginventarisir dan mengecek kembali seluruh senjata api anggotanya.

Pengecekan untuk mengetahui apakah izin senjata api yang dipegang anggota polisi di Papua masih berlaku atau tidak. Jika izinnya sudah tidak berlaku, akan diperpanjang. Namun sebelum itu, anggota polisi yang memegang senjata api terlebih dahulu harus memenuhi sejumlah ketentuan.

“SPO-nya dia harus tes psokologi, latihan menembak. Kalau memenuhi syarat boleh [membawa senjata api dalam bertugas]. Kalau tidak memenuhi syarat, ya tidak [boleh membawa senjata api]. [Setiap polisi yang membawa senjata api] harus tes psikologi lagi,” ujarnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top