Kearifan lokal harus masuk dalam kurikulum pendidikan

Kearifan lokal harus masuk dalam kurikulum pendidikan

Anggota komisi bidang pendidikan, kesehatan, seni dan budaya DPR Papua, Ignasius W Mimin – Jubi/Arjuna Pademme

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi – Anggota komisi bidang pendidikan, kesehatan, seni dan budaya DPR Papua, Ignasius W Mimin mengatakan, kearifan lokal perlu diakomodir dalam kurikulum pendidikan di kabupaten (kota), sesuai budaya di setiap daerah sebagai salah satu upaya melestarikan seni (budaya) suku yang ada di Papua.

Ia mencontohkan, kabupaten di wilayah pesisir memasukkan seni, budaya dan bahasa ibu masayarakat setempat dalam mata pelajaran muatan lokal. Begitu juga kabupaten di wilayah pegunungan, mata pelajaran muatan lokalnya sesuai seni (budaya) dan bahasa masyarakat setempat.

“Tarian dan bahasa ibu setiap daerah atau wilayah adat mesti diajarkan di sekolah. Jangan hanya satu dua tarian atau bahasa ibu, tapi tarian dan bahasa ibu yang digunakan masyarakat di kabupaten atau wilayah adat itu,” kata Ignasius W Mimin akhir pekan kemarin.

Menurutnya, dengan begitu seni (budaya) dan bahasa ibu setiap daerah di Papua akan terjaga dari generasi ke generasi. Gerenasi berikutnya, akan tahu ciri khas seni (budaya), dan bahasanya.

Katanya, kearifan lokal harus dijaga. Jika tidak, perkembangan zaman akan menggerus seni (budaya) dan bahasa ibu di Papua. Apalagi kini ada beberapa bahasa ibu suku di Papua yang disebut terancam punah, karena penuturnya sudah usia lanjut dan gerenasi berikut tak lagi mengerti bahasa ibu daerah mereka.

“Ini harus dijaga agar gerenasi berikut tetap tahu budaya mereka dan bahasa ibu mereka. Orang akan mengakui kalau budaya kita mengakar,” ujarnya.

Salah satu wilayah di Papua yang pemerintah daerahnya berupaya melestarikan bahasa daerah adalah Kabupaten Jayapura.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mengatakan, semua kampung di wilayah pemerintahannya yang sudah beralih status menjadi kampung adat wajib menggunakan bahasa daerahnya setiap hari, dan bahasa daerah masuk dalam kurikulum sekolah sebagai pelajaran muatan lokal.

Kata Awoitauw, tanpa membedakan suku lain, namun bahasa daerah wajib digunakan setiap hari di kampung adat.

“Sudah banyak bahasa daerah yang punah sehingga kami terus sosialisasi terus menerus ke kampung adat,” kata Awoitauw belum lama ini.

Menurutnya, kampung adat harus menunjukkan jati diri sebagai kampung yang menghargai adat istiadat dan kebiasaan mereka. (*)

 

Editor  : Edho Sinaga

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)