Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Keberadaan rumah singgah bisa turunkan kekerasan dalam rumah tangga

Foto ilustrasi. – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Papua meminta pemerintah kabupaten dan kota untuk membangun rumah singgah yang diperuntukan bagi perempuan dan anak yang tidak terurus baik. Rumah singgah itu diharapkan akan mengurangi tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Papua, Anike Rawar mengatakan Otonomi Khusus Papua mengamanatkan  alokasi dana untuk perempuan dan anak sebesar 6 persen. Alokasi dana itu dapat dipergunakan untuk memaksimalkan perlindungan dan perhatian terhadap perempuan dan anak.

“Kami punya kerinduan untuk membangun rumah singgah bagi perempuan dan anak. Akan tetapi, yang punya wilayah adalah pemerintah kabupaten/kota. Untuk itu, kami harap ini bisa diwujudkan para pemilik jabatan di wilayah, sehingga kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa diminimalisir,” kata Anike Rawar di Jayapura, Sabtu (9/11/2019).

Menurut ia, sampai saat ini upaya perlindungan perempuan belum mencapai usaha untuk membangun ruang aman bagi perempuan. Akibatnya, kekerasan terhadap perempuan dan anak masih saja terjadi. “Kalau perempuan sudah diberi ruang, kami yakin kekerasan terhadap perempuan dan anak akan berangsur-angsur berkurang,” ujarnya.

Ketua Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak Anggrek Hitam Papua, Irene Waromi mengatakan perempuan dan anak di Bumi Cenderawasih masih berhadap dengan kasus kekerasan dan kesenjangan kesetaraan. Waromi mencontohkan belum maksimalnya upaya memenuhi keterwakilan perempuan dalam politik, pendidikan, maupun kesetaraan ekonomi.

Loading...
;

“Ini masih banyak terlihat sampai saat ini dan dialami oleh perempuan-perempuan. Begitu juga dengan peroalan anak, yang sampai saat ini belum tertangani dengan baik,” kata Waromi.

Saat ditanya soal jumlah kasus, ia mengakui, pihaknya sampai saat ini belum mendata secara baik karena masih melakukan konsolidasi dan penataan organisasi. Meskipun demikian, pihaknya tetap memberi penguatan kepada masyarakat pentingnya menjaga perempuan dan anak.

Waromi menyatakan salah satu akar persoalan kekerasan kepada perempuan dan anak adalah konsumsi minuman beralkohol dan ekonomi. Jika laki-laki dihadapkan dengan persoalan ekonomi, kerap kali lelaki justru lari dari persoalan, antara lain dengan mengonsumsi minuman beralkohol. Hal itu kerap memicu kekerasan dalam rumah tangga.

“Sejauh ini kami terus kampanyekan tiga hal. Akhiri kesenjangan ekonomi, akhiri perdagangan manusia, dan akhiri kekerasan perempuan dan anak. Ini yang menjadi acuan kami untuk melibatkan berbagai pihak, baik agama, adat, pemerintah, dan semua pemangku kepentingan untuk menterjemahkan tiga itu ini ke dalam berbagai kegiatan,” ujar Waromi. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top