HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kebutuhan meningkat, harga telur mulai naik

Pedagang telur di Pasar Youtefa, Kota Jayapura, Papua. – Jubi/Sindung

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Menjelang lebaran, permintaan telur di Kota Jayapura, Papua, meningkat. PT Harvest Pulus Papua, pemegang merek lokal “Mahkota” menyatakan permintaan telur  dari ritel modern meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Harga telur ukuran besar dan sedang pun mulai naik.

“Kami setiap hari memproduksi sekitar 50.400 butir telur, dan semuanya terserap pasar. Baik untuk melayani agen, pedagang eceran, maupun untuk melayani ritel besar. Sejak awal bulan puasa, permintaan telur dari ritel seperti Saga dan Hypermart naik dua kali lipat,” ujar Ronny, penanggung jawab telur “Mahkota” di Jayapura, Selasa (14/5/2019).

Ronny menyatakan biasanya PT Harvest Pulus Papua hanya memasok 3.000 butir telur untuk Supermarket Saga di Abepura, Kota Jayapura, dikemas dalam kemasan berisi 10 telur. Harverst Pulus Papua setiap pekan juga memasok 2.000 butir telur dalam kemasan yang sama untuk Hypermart Jayapura. Memasuki bulan puasa, permintaan telur dari Saga dan Hypermart melonjak dua kali lipat.

“Karena permintaan semakin banyak, mulai Senin pekan ini kami menaikkan harga telur besar dari Rp70 ribu per rak (30 butir) menjadi Rp72 ribu per rak. Telur ukuran sedang juga naik dari harga Rp55 ribu per rak menjadi Rp60 ribu per rak. Sementara untuk telur ukuran jumbo, harganya justru tidak naik, Rp75 ribu per rak,” kata Ronny.

Loading...
;

Ronny menyatakan pihaknya terus berupaya mengendalikan permintaan pasokan, sekaligus mengendalikan kenaikan harga jual telur di Jayapura. Ronny menyatakan ada sejumlah pedagang besar yang mendatangkan telur dari luar Papua, sehingga pasokan telur akan selalu mencukupi.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga kulakan, Ismail yang sehari-hari berjualan telur di Pasar Youtefa menyatakan persediaan telurnya untuk kebutuhan selama dua pekan telah bertambah menjadi 36.000 butir. Biasanya, selama dua pekan Ismail hanya menyimpan sekitar 27.000 butir telur. “Kami bawa lebih banyak, sebab permintaan mulai naik dan harga juga mulai mahal,” kata Ismail.

Ismail mengakui lebih memilih kulakan telur dari luar Papua, karena harganya lebih murah. Ia hanya akan membeli telur produksi lokal jika telur dari luar Papua sudah tidak tersedia di pasaran. “Telur lokal mahal dan kecil-kecil,” kata Ismail.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top