HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kedatangan dan pengaruh Tiongkok di Tonga sejak 1990-an

Pada April 2019, penjaga toko asal Tiongkok berjualan di Nuku’alofa, Tonga. – The Diplomat/AP Photo/Mark Baker

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Nick Perry

Hari-hari berlalu dengan santai di Tonga, negara kepulauan di Pasifik Selatan, tanpa adanya lampu lalu lintas atau restoran makanan cepat saji. Babi-babi berkeliaran di sepanjang jalan berdebu yang berkelok-kelok, melewati desa-desa yang dipenuhi gedung gereja. Namun, bahkan di negara kerajaan yang sangat terpencil ini pun, dapat dilihat tanda-tanda persaingan untuk kekuasaan yang kian memanas antara negara-negara yang jauh lebih besar – dan Tonga mungkin satu-satunya negara yang akan menghadapi dampak paling buruk.

Di ibu kota, Nuku’alofa, pegawai-pegawai pemerintah bekerja di blok perkantoran yang baru dibangun – hadiah senilai $11 juta dari Tiongkok, yang kemegahan dan keagungan-nya hanya bisa disaingi oleh kompleks kedutaan baru yang lebih mengesankan, juga dibangun oleh Tiongkok.

Puluhan pejabat dari Tonga melakukan kunjungan dan pelatihan ke Beijing setiap tahunnya, semua biaya ditanggung negara itu. Tiongkok juga telah mengeluarkan jutaan dolar untuk mendatangkan 107 atlet dan pelatih-pelatih Tonga ke sebuah kamp pelatihan di Provinsi Sichuan, menjelang Pacific Games bulan ini di Samoa.

Tiongkok juga menawarkan pinjaman dengan bunga rendah setelah kerusuhan kelompok pro-demokrasi menghancurkan sebagian besar pusat kota Nuku’alofa pada 2006, dan sejumlah pakar memperingatkan bahwa pinjaman itu dapat membawa Tonga pada ambang kehancuran. Negara dengan populasi 106.000 orang itu berutang sekitar $ 108 juta kepada Bank Exim Tiongkok , atau setara dengan sekitar 25% dari PDBnya.

Loading...
;

Duta Besar Tiongkok untuk Tonga, Wang Baodong, berkata Tiongkok adalah satu-satunya negara yang bersedia untuk membantu Tonga disaat yang paling dibutuhkan.

Graeme Smith, seorang pakar dalam isu investasi Tiongkok di Pasifik, tidak percaya bahwa Tiongkok sedang mencoba menjebak Tonga dalam hutang, menerangkan bahwa kecacatan dalam pengelolaan keuangannya sendiri juga patut disalahkan. Meski demikian, ia juga khawatir karena negara dengan 171 pulau itu, yang rentan terhadap bencana alam, memiliki kemampuan minim untuk membayar kembali hutangnya.

Mengapa Tiongkok menghabiskan banyak uangnya di Tonga? Teisina Fuko, mantan anggota parlemen (MP) yang berusia 69 tahun, curiga Tiongkok menganggap lokasi negara itu strategis. “Saya rasa Tonga mungkin merupakan jendela ke sebelah Barat,” katanya. “Karena mudah untuk sampai ke sini dan mengamati pergerakan dan kemajuan Selandia Baru, Australia.”

Selama beberapa dekade terakhir, Pasifik Selatan dianggap sebagai halaman belakang yang sepi oleh Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Sekarang, ketika Tiongkok mulai meningkatkan pengaruhnya di Tonga, ketiga sekutu Barat mulai menanggapi.

Setelah Siklon Gita menghancurkan Gedung Parlemen Tonga yang bersejarah tahun lalu, awalnya pemerintah berkata Tiongkok mungkin akan membiayai proses pembangunan kembali. Sekarang, Australia dan Selandia Baru sedang mempertimbangkan untuk bersama-sama mendanai proyek tersebut.

Strategi Tiongkok untuk memberikan pinjaman dan meningkatkan pengaruhnya di negara-negara berkembang di seluruh dunia bukanlah hal baru, sebagaimana diilustrasikan oleh proyek-proyek yang ia biayai, dari Afrika ke Amerika Latin dan Asia.

Wang berkata kalau niat Tiongkok di Tonga itu baik dan mereka tidak memiliki agenda tersembunyi apa pun. “Beberapa pihak di negara Barat terlalu sensitif dan berprasangka buruk,” katanya.

Bukan hanya dana yang mengalir dari Tiongkok. Imigran Tiongkok mulai berdatangan pada 1990-an, ketika Tonga mulai menjual paspor. Penjualan paspor-paspor tersebut, yang masing-masing berharga sekitar $ 10.000, ditargetkan untuk menarik orang-orang kaya dari Hong Kong sebelum mereka kembali bergabung dengan Tiongkok pada 1997. Sebaliknya, mereka malah disambar oleh orang-orang dari pedesaan Tiongkok yang ingin bermigrasi untuk mencari kehidupan yang lebih baik – dan yang sekarang justru bersaing dengan orang-orang Tonga asli untuk lapangan pekerjaan yang langka.

Imigran Tiongkok telah mendominasi sebagian besar dari puluhan toko yang memenuhi pulau-pulau itu, menjual barang impor murah seperti keripik kentang dan daging kalengan. Dan orang-orang Tonga sekarang khawatir mereka sekarang akan beralih ke sektor pertanian dan konstruksi.

Pinjaman dari pemerintah Tiongkok tidak banyak mengubah ekonomi karena dana yang disalurkan digunakan untuk proyek-proyek yang dikelola Tiongkok, kata Fuko. “Mereka bawa dananya, mereka bawa pekerjanya, mereka bawa bahan bangunan,” katanya. “Mungkin hanya beberapa orang Tonga yang dipekerjakan untuk mendorong gerobak pasir.”

Tonga juga tidak pernah mendapat keuntungan dari skema penjualan paspor era 1990-an. Seorang mantan penasihat keuangan untuk pemerintah asal Amerika, Jesse Bogdonoff, membantu menginvestasikan sekitar $ 26 juta yang dihasilkan, dan hampir semuanya lenyap.

Pelunasan utang kepada Tiongkok sebenarnya akan dimulai tahun lalu, hingga kepanikan menyergap Tonga. Pada Agustus 2018, Perdana Menterinya, ‘Akilisi Pohiva, meminta negara-negara Pasifik lainnya agar bergabung untuk meminta penghapusan utang. Beberapa bulan setelah itu, Tonga mengumumkan bahwa mereka diberikan penangguhan dan tidak perlu memulai pembayaran sampai lima tahun lagi.

Pejabat-pejabat Pemerintah Tonga juga tampaknya tidak bersemangat untuk membahas hubungan dengan Tiongkok. Perdana menteri mengundurkan diri dari sebuah wawancara dengan The Associated Press karena sakit, Menteri Keuangan, Pohiva Tu’i’onetoa membatalkan wawancara karena ada ‘suatu urusan yang mendesak’.

Sekretaris kantor perdana menteri, Edgar Cocker, setuju untuk bertemu, namun kemudian meminta wartawan untuk pulang begitu tiba, menjelaskan bahwa dia tidak memiliki wewenang untuk berbicara atas nama pemerintah. Cocker malah berkata semua pertanyaan tentang pinjaman dan bantuan Tiongkok harus ditujukan kepada pejabat Tiongkok.

Krisis keuangan di Tonga mungkin telah berhasil dicegah untuk sekarang, tetapi Fuko merasa pinjaman itu telah memberi Tiongkok kekuasaan yang besar.

Tetapi bagi Ola Koloi yang mengelola sebuah penginapan, jejak Tiongkok terlalu meluas, memengaruhi apa yang bisa ia beli karena begitu banyak barang yang dijual berasal dari Tiongkok. Dia merasa utang Tonga pada Tiongkok ini harusnya dikhawatirkan oleh setiap orang Tonga. (The Diplomat)

Oleh Nick Perry untuk The Associated Press.


Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top