Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kekerasan terhadap dua jurnalis di Ambon, Tim advokasi: Proses hukum terus lanjut

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis kembali terjadi, Kamis 29 Maret 2018, di sebuah warung kopi di Kota Ambon, Maluku. 

Ironisnya, kali ini pelaku adalah calon gubernur Maluku petahana, Said Assagaff, dan para pendukungnya. Ini adalah kasus penghalang-halangan ketiga terhadap jurnalis dalam menjalankan tugasnya, di tahun 2018 ini.

Kasus ini bermula saat Said berada di warung kopi Lela. Saat itu sang calon gubernur bersama Sekretaris Daerah Maluku Hamin Bin Taher, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ismail Usehamu, Kepala Dinas Pendidikan Saleh Thio, dan staf ahli Gubernur Maluku Husen Marasabessy, tim sukses Abu Bakar Marasabessy, dan beberapa pengurus partai politik pendukungnya, sekira pukul 16.30 WIT.

Pada saat itu, jurnalis Harian Rakyat Maluku, Sam Hatuina, duduk berada di dekat lokasi tempat calon gubernur bersama para teman-temannya itu. Melihat ada calon gubernur bersama para pendukungnya dan ditemani oleh pejabat aktif di pemerintah Provinsi Maluku, Sam memotret calon gubernur memakai kamera di telpon genggamnya.

Para pendukungnya tak senang dengan tindakan Sam dan memintanya menghapus foto yang diambilnya. Permintaan yang sama juga disampaikan Said dengan nada mengancam.

Merasa tersudut, Sam menyerahkan telpon genggamnya kepada orang-orang suruhan Said. Karena HP-nya dalam keadaan terkunci, orang-orang itu datang kembali ke arah Sam dengan emosi dan minta agar Sam memberitahu kata kuncinya.

Loading...
;

Saat itu Abdul Karim Angkotasan, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ambon yang juga jurnalis Harian Rakyat Maluku, berada tak jauh dari sana. Melihat keadaan itu, Karim memperingatkan agar tak mengintimidasi jurnalis.

Pendukung Said tak terima dan mendatangi Karim. Jurnalis lain yang ada di sana, termasuk Sam, mencoba menghadang. Pada saat itulah anggota tim sukses Said, Abu Bakar Marasabessy, menampar Karim dua kali.

Usai penamparan itu, Said dan teman-temannya pergi. Karim dan jurnalis Ambon lainnya mempersoalkan kekerasan ini dengan melaporkannya ke polisi dengan dua laporan, yaitu penganiyaan dan upaya menglang-halangi kerja jurnalis.

Atas kejadian tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyatakan sikap seperti dalam keterangan tertulis yang dikirim ke Jubi.

“AJI mengecam keras sikap Calon Gubernur Maluku Said Assagaf yang mengintimidasi jurnalis yang sedang menjalankan profesinya. Mengambil foto seorang pejabat publik di tempat umum, termasuk yang masih berstatus calon, adalah hak jurnalis yang dilindungi oleh Undang Undang, khususnya pasal 4 Undang Undang Pers. Setiap upaya untuk menghalang-halangi kerja jurnalis bisa dijerat dengan pasal 18 Undang Undang Pers, yang pidananya bisa sampai 2 tahun penjara,” ujar Ketua AJI Indonesia Abdul Manan seperti dalam keterangan persnya.

Selain itu kata Manan, pihaknya juga mendesak polisi untuk memproses kasus penamparan terhadap Abdul Karim. Penamparan ini adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap jurnalis yang itu harus diproses secara pidana.

Sebab, yang dilakukan Karim saat itu adalah melakukan pembelaan terhadap hak jurnalis yang diintimidasi oleh para pendukung calon gubernur.

Tak habis di situ, Koordinator bidang advokasi AJI Indonesia  Yekhti Hesthi Murti juga menyampaikan dukungan penuh kepada jurnalis di Ambon untuk tidak takut terhadap upaya intimidasi yang dilakukan oleh siapapun dalam menjalankan tugasnya, termasuk dari calon kepala daerah dan para pendukungnya.

“Saat jurnalis melakukan tugasnya, itu merupakan bagian dari pelaksanaan amanat pasal 3 Undang-Undang pers, yaitu sebagai fungsi kontrol sosial,” kata Hesthi.

Selain itu, Hesthi juga mengimbau para calon kepala daerah dan para pendukungnya untuk menghormati jurnalis yang sedang menjalankan profesinya. Sebab, upaya jurnalis mencari fakta dilindungi oleh Undang Undang Pers dan setiap upaya untuk menghalang-halanginya merupakan tindak pidana yang bisa diproses hukum.

 

Proses hukum tetap lanjut

Dihubungi terpisah, Manajer Program LBH Pers Ambon Insany Syahbarwaty mengaku telah mendapatkan mandat dari Korwil Sulawesi – Maluku Pengurus Nasional AJI, Iwan Lapasere untuk menjadi bagian dari tim advokasi atas kasus yang mendera Ketua AJI Ambon tersebut.

“Sudah dilaporkan ke polisi kemarin, proses pemeriksaan saksi sudah dilakukan. Bahkan sudah dilakukan visum kepada korban. Kami juga sudah menggunakan tim pengacara. Namun tim ini bukan dari Ambon, melainkan dari Provinsi tetangga yang terdekat yakni Ternate, yang akan datang hari Selasa (3/4/2018). Hal ini untuk menjaga independensi advokasi yang diberikan,” terangnya saat dihubungi Jubi, Minggu (1/4/2018).

Insany yang juga Majelis Etik AJI Kota Ambon ini mengungkapkan, tak hanya proses litigasi yang diadvokasi oleh tim tersebut, melainkan juga non litigasi, untuk menyadarkan masyarakat khususnya para calon pemimpin di Maluku, paham dan sadar akan profesi yang dijalani jurnalis, memiliki kekuatan hukum yakni Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Kita upayakan pengenaan pasal berlapis terhadap pelaku kekerasan dan intimidasi kepada jurnalis di Ambon ini. Kami juga sudah menyiapkan langkah untuk meminta keterangan ahli pers, namun polisi menyatakan siap untuk mengurus persoalan ini dan akan menghubungi Dewan Pers, jadi kita tunggu saja itikad polisi itu,” terangnya.

Namun, persoalan ini tak semata kekerasan saja. Muncul ikutan lain seperti gangguan psikologis yang mendera jurnalis korban pemukulan yakni Sam Hatuina. Sam kata Insany, memerlukan pendampingan psikolog, bahkan rumah aman.

Bahkan jika dilihat dari pendekatan penanganan korban kekerasan terhadap jurnalis, Insany mengatakan, Sam harus segera dibawa keluar dari Ambon untuk sementara waktu, guna memulihkan kondisi kejiwaannya, pasca pemukulan dan perampasan telepon genggam tersebut.

“Memang tidak ada intimidasi lanjutan secara langsung. Namun upaya mediasi yang diduga untuk menyelesaikan masalah, atau dalam artian mengajak bertemu selalu dilakukan baik kepada Sam dan Abu yang jadi korban pemukulan, oleh orang yang diduga tim dari Said Assagaff. Kami meminta semua pihak segera melihat kondisi kedua jurnalis ini, khususnya Sam, yang merasa terancam dalam melakukan aktivitas jurnalistiknya,” katanya.

Ditanya soal respons Dewan Pers atas kasus ini, Insany mengatakan, belum ada koordinasi secara intens, bahkan tanggapan.

“Secara pribadi saya tergabung dalam grup whatsapp ahli pers yang di dalamnya ada sejumlah anggota dan staf Dewan Pers. Saya sudah menuliskan sejumlah kronologis kasus, dan upaya yang kami lakukan untuk advokasi. Namun belum ada tanggapan. Nah, kembali lagi, jika memang polisi yang berniat untuk berkoordinasi mengenai kasus ini kepada Dewan Pers, akan kami tunggu. Namun, jika belum juga ada respons, maka tim advokasi akan langsung menghubungi Dewan Pers, meminta bantuan pendampingan, minimal menunjuk ahli pers,” katanya.

Kekerasan terhadap jurnalis seakan dianggap biasa oleh sejumlah orang. Dari catatan Insany, kekerasan terhadap profesi jurnalis memang baru kali ini terjadi di tahun 2018 di Ambon.

Namun, ancaman pelaporan ke polisi, terhadap salah satu media massa yakni Spektrum, pernah terjadi medio Januari-Maret 2018, akibat pemberitaan seputar Pilkada.  

Kendati pelaporan tersebut dibatalkan, namun langkah ini sudah masuk dalam proses intimidasi terhadap karya jurnalistik yang dihasilkan.

Padahal dalam UU Pers telah jelas, jika tidak puas terhadap karya jurnalistik, maka pihak tersebut bisa meminta hak jawab, dan melaporkannya ke Dewan Pers.

Di bagian lain, Insany mengatakan, AJI Ambon dan tim advokasi yang telah dibentuk memang saat ini sedang berhati-hati. Karena di tahun politik khususnya pilkada serentak 2018, organisasi pers itu tidak ingin diseret atau dimanfaatkan rival dari calon petahana, bahkan digunakan sebagai alat politik.

“Kami hanya menjalankan fungsi sebagai jurnalis yang profesinya dijamin oleh undang-undang. Tidak ada niatan lain. Makanya kami melakukan rapat yang intens membahas kasus ini, agar tak digiring ke ranah politik,” ujarnya.

Sebelumnya, tim kuasa hukum Said Assegaff yang mewakili calon gubernur petahana itu, telah menyampaikan ungkapan keprihatinan atas kejadian ini yang ditujukan kepada Ketua AJI Ambon.

“Itu hanya penyampaian keprihatinan, tanpa ungkapan maaf. Walau begitu, kami tetap melanjutkan ini ke proses hukum, sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegas Insany. (*)

 

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top