Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tetap Marak, Kementerian Gandeng Gereja

Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tetap Marak, Kementerian Gandeng Gereja

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise berdialog dengan Persekutuan Gereja-gereja Papua (PGGP) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) wilayah Papua, di Jayapura, Rabu (27/2/2019) – Foto: Jubi/Sindung Sukoco

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise menyatakan perempuan dan anak di Papua masih mengalami diskriminasi, peminggiran serta kemiskinan (marjinalisasi), pelabelan (stereotype), dan menjadi kelompok yang paling rentan mengalami dampak berlipat dari kekerasan di Papua. Yembise meminta tokoh agama di Papua membangun kesadaran pentingnya perlindungan perempuan dan anak.

Dalam dialog bersama Persekutuan Gereja-gereja Papua (PGGP) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) wilayah Papua, di Jayapura, Rabu (27/2/2019), Yembise menyatakan pentingnya pengarus-utamaan isu perlindungan perempuan dan anak di Papua. “(Kita selalu menghadapi) pertanyaan (yang sama), mengapa kekerasan terhadap perempuan dan anak di Papua kerap terjadi. Di mana kah tokoh agama menempatkan isu itu? Untuk menghapuskan masalah itu, dibutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama yang dalam hal ini gereja,” ujar Yembise.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat sepanjang tahun 2018 terjadi 10.078 kasus kekerasan fisik, kekerasan psikis, maupun kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di seluruh Indonesia. Sementara Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat sepanjang 2017 terjadi 2.227 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di seluruh Indonesia, bertambah dari jumlah 1.799 kasus pada tahun sebelumnya.

Yembise menyatakan secara nasional Kementerian PPPA selama tiga tahun terakhir menggencarkan perlindungan perempuan dan anak, antara lain dengan melibatkan partisipasi laki-laki untuk mengarus-utamakan isu itu. Kementerian PPPA antara lain melakukan kampanye Three Ends sebagai kunci memberdayakan perempuan dan melindungi anak, yaitu mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan manusia, dan mengakhiri kesenjangan ekonomi.

Menimbang kekhasan Papua, Kementerian PPPA telah menggandeng keterlibatan tokoh adat di Papua. “Selama ini saya merasa ada satu yang masih kurang, yaitu menggandeng tokoh agama. (Pembaruan di Papua selalu digerakkan oleh sinergi) tiga pilar, yaitu tokoh agama beserta gereja, tokoh adat beserta lembaga adat, dan pemerintah. Jadi, tiga pilar ini harus bersatu untuk berhadapan dengan isu perempuan dan anak. Isu perlindungan perempuan dan anak adalah isu kemanusiaan,” kata Yembise.

Perwakilan PGI Wilayah Papua, Pdt Siantury mengajak seluruh gereja berperan aktif mempromosikan perlindungan perempuan dan pemenuhan hak anak. Siantury menyebutkan pentingnya membangun sistem perlindungan perempuan dan anak yang berbasis kepada karakteristik khas masyarakat di Papua, agar pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan dimulai di tingkatan keluarga.

Ketua PGGP MPA Maury mengatakan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Papua antara lain disebabkan kurangnya pendidikan yang mengajarkan kesetaraan gender dan penghargaan terhadap hak perempuan maupun anak. “Harus ada pembelajaran dari kasus yang terjadi di Papua, agar kita mengetahui langkah strategis yang dibutuhkan,” tambah Maury.

Perwakilan Dewan Adat Papua, Yan Piter Yarangga mengatakan bahwa isu pemberdayaan perempuan dan pemenuhan hak anak belum menjadi arus utama dalam membedah persoalan Papua. Padahal, perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan kebutuhan mendasar dan akan menentukan perkembangan generasi Papua di masa mendatang. ” Ini bukan sesuatu baru. Dewan adat di Papua, maupun gereja di Papua tidak boleh melihatnya sebagai sesuatu yang seksi (menarik karena asing dan baru-red). Perlindungan perempuan dan anak adalah hak dasar dari Tuhan Semesta Alam,” kata Yarangga.

Editor: Aryo Wisanggeni G

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)