Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kelompok perupa Udeido kisahkan “Surga Papua” di Yogyakarta

Pengunjung berjejal di ruang pamer Sangkring Art Space pada pembukaan pameran “Mairi” oleh kelompok Udeido. (Jubi/Kelompok Udeido)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

 Yogyakarta, Jubi – “Itu tarian apa? Hati saya terasa nyeri, rasanya ingin menangis,” ungkap  seorang ibu saat   menyaksikan sekelompok pemuda -pemudi Papua menari melingkar,merapalkan sesuatu, menghentakkan kaki di lantai semen di depan gedung Sangkring Art Project, Nitiprayan, Yogyakarta.

Ratusan mata terpaku melihat tarian “Serar” yang dibawakan oleh Ikatan Pelajar Mahasiswa Tambraw Daerah Istimewa Yogyakarta (IPMT DIY). Ada pengunjung yang ikut lebur masuk lingkaran dan menari.

Tarian rakyat ini biasanya  merupakan ekspresi rasa syukur dan kebersamaan. Tapi malam itu, tarian Serar diekspresikan sebagai bentuk doa bersama. Harapan untuk pulihkan  Papua dari berbagai luka. Atas pelbagai tragedi kemanusiaan yang masih mendera.

Tarian Serar yang dibawakan Ikatan Pelajar Mahasiswa Tambraw Daerah Istimewa Yogyakarta (IPMT DIY) yang membuka pameran kelompok Udeido. (Jubi/Kelompok Udeido)

Tarian “Serar” jadi pembuka pameran bersama Perupa Papua yang  tergabung dalam kelompok  Udeido.  Mereka menggelar pameran bersama bertajuk “Mairi” . Membawa kisah cerita rakyat Bintuni yang sangat  relevan dengan  situasi Papua hari ini.

Loading...
;

Pameran ini digelar selama delapan hari , 3- 10 Oktober 2019. salah satu perupa Papua dan pentolan kelompok Udeido, Ignatius Dicky Takdare menceritakan, Mairi adalah sebuah nama tempat dalam kisah rakyat Bintuni yang diceritakan turun temurun dari generasi ke generasi.

Katanya, Mairi adalah sebuah negeri yang indah, sejahtera dan damai, tempat tidak ada lagi air mata dan kedukaan. Untuk menuju Mairi siapapun harus melewati belantara raya di mana apa saja bisa terjadi. Dengan segala tantangan dan rintangannya, ada yang lalu terhilang dan ada yang akhirnya tiba di sana.

“Demikianlah kami mencoba melihat kondisi Papua dengan jiwa kisah Mairi ini. Papua juga sedang dalam perjalanan ke Mairi-nya sendiri. Ada begitu banyak masalah dan rintangan yang menghadang di jalan ini,” ujarnya, Jumat (4/10/2019).

Seniman Heri Dono (kiri) dan guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Prof. M Dwi Maryanto (kanan) saat membuka pameran kelompok Udeido di Sangkring Art Space, Yogyakarta. (Jubi/Kelompok Udeido)

Dia mengatakan,  Pameran ini  adalah wujud pengharapan dan doa untuk Tanah Papua yang lebihbaik.

“Lewat karya-karya kami, apresiator akan diajak untuk merenungkan tiap babak dari perjalanan Papua menuju Mairi yang bisa saja merefleksikan perjalanan tiap individu yang mengkontemplasikan dirinya ke dalam kisah ini,” harapnya.

Adapun Udeido merupakan kumpulan seniman-seniman muda Papua yang aktif berkarya meski di tengah kesibukannya akan studi dan urusan lainnya. Beberapa dari mereka tengah berdomisili dan menimba ilmu di Yogyakarta. Beberapa menetap di beberapa kota di Papua, seperti Jayapura, dan Fak-Fak.

Kelompok ini dibentuk pada awal tahun 2018 oleh beberapa pemuda dan pemudi Papua. Mereka  merasa butuh wadah untuk  berkarya dan bereksplorasi di bidang seni rupa. Tidak semua anak-anak muda ini mengenyam pendidikan seni rupa, beberapa di antaranya otodidak. Berkuliah di jurusan lain namun menaruh minat dan aktif berkesenian .

Udeido sendiri adalah sebuah kata dari bahasa Deiyai, yang merupakan rumpun wilayah adat Mee Pago. Akar katanya adalah UDE yang merujuk pada nama sejenis daun, dalam bentuk jamak Ude akan disebut Udeido. Daun ini biasanya digunakan masyarakat Deiyai untuk membalut dan menutup luka, biasanya setelah dibalut dengan daun tersebut, pendarahan yang terjadi akan segera berhenti.

“Demikianlah kami memandang kesenian dengan spirit Udeido, yaitu sesuatu yang menyembuhkan, yang menutup luka, yang menghentikan darah. Kita terlampau masuk dalam segala permasalahan dan problema sehari-hari yang membuat kita semua menjadi lelah dan letih, sehingga kami berharap suara-suara yang kami bawa lewat karya-karya kami memiliki energi dan semangat penyembuh, pemulihan, dan pengharapan akan yang baik,” urai seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Pada kesempatan itu, seniman papua dibantu mahasiswa dan pelajar Papua, menggalang dana untuk pengungsi Nduga dan korban gempa di Ambon.

Pameran Mairi, menyuguhkan beragam karya dan medium, mulai dari lukisan di atas kanvas dan kulit kayu, patung, digital art hingga fotografi yang dipadu dengan  soundscape. Para perupa yang terlibat yakni Nelson Natkime, Michael Yan Devis, Yanto Gombo, Brian Suebu, Freddy Monim, Ignasius Dicky Takdare, Betty Adii, Ina Wossiry, Andre Takimai, Widya Amir,  Constantinus Raharusun, Lutse Lambert Daniel Morin.

Pameran ini juga turut mengundang perupa tamu yang dinilai kerap mengangkat isu tentang Papua  dalam karyanya. Mereka adaErvance Havefun ,Syam Terrajana, Pikonane dan Lejar Hukubun,

Pameran ini dibuka pada Kamis malam  3, Oktober 2019 pukul  19.00 WIB. Pameran dibuka oleh Seniman kontemporer  Heri Dono dan guru besar seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Prof. M Dwi Maryanto.

“Seni adalah penyembuhan, kritik adalah doa. Seniman Papua punya potensi dan kualitas sangat luar biasa, saya yakin di tanah Papua ada  banyak seniman yang kita tidak begitu melihatnya, ” ujar Heri Dono saat membuka acara. “Ke depan, harusnya kelompok ini memamerkan karyanya di seluruh Indonesia, “ ujar pria  yang telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia dengan karya-karya bermuatan kritik sosial ini.

Seorang pengunjung menyaksikan lukisan cat minyak di atas kanvas karya Ignasius Dicky Takdare.(Jubi/Kelompok Udeido)

Sementara itu, Agung Kurniawan, seniman Yogyakarta yang didapuk  sebagai penulis pada Pameran Mairi,  mengatakan secara garis besar,  cara bertutur Realisme tampak sangat kuat mengakar karya para perupa Kelompok Udeido.

“Apakah karena soal-soal yang terjadi di Papua menyebabkan mereka memilih cara tutur Realisme?” tulisnya dalam pengantar pameran.

Dia menduga, pendekatan realisme dianggap akan lebih “gampang” dan dekat untuk memotret persoalan yang terjadi di Papua:misalnya dominasi ekonomi para pendatang yang menyebabkan orang lokal hanya jadi penonton.

Menurutnya, ada sesuatu yang dibicarakan oleh perupa Papua lewat karya bernafas realisme.” kita cenderung berlindung pada keindahan, tapi teman-teman Papua menunjukkan sebuah refleksi, inti dari kesenian kontemporer adalah kritik, kritis dan upaya melihat kembali soal-soal di sekitar kita,” ujarnya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top