Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kemiskinan sampai di pelosok Samoa, pemberdayaan perempuan jadi solusi

Perempuan-perempuan yang bergabung dalam Proyek Nofotane. – Samoa Observer/Misiona Simolove

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Alexander Rheeney

Beberapa hari yang lalu ada suatu kisah inspiratif, tentang seorang perempuan yang diterbitkan koran Samoa Observer.

Sebelumnya dia adalah seorang pengangguran, tetapi ia mengambil langkah yang baru melalui Proyek Nofotane, dan saat ini mencari nafkah dengan menjual perhiasan buah tangan dia dan keluarganya. 

Rosalina Viliamu dari Salua, Manono-tai, 37 tahun, dan suaminya, keduanya tidak memiliki pekerjaan tetap, serba kekurangan, dan bergantung pada anggota keluarga lainnya hanya untuk bertahan hidup – sebelum ia diperkenalkan pada Proyek Nofotane – yang didanai oleh badan pemberdayaan perempuan PBB, UN Women,  melalui Fund for Gender Equality, yang dijalankan oleh organisasi pendukung korban, Samoa Victim Support Group (SVSG).

Dalam periode itu, keluarga kami susah payah, baik secara finansial maupun untuk persediaan makanan, tetapi syukurlah keluarga kami selalu ada untuk membantu kami, dengan sebagian besar kebutuhan sehari-hari kami,” katanya kepada surat kabar ini dalam sebuah wawancara.

Keterlibatannya dalam pelatihan dan proyek pemberdayaan perempuan itu, membawa dampak yang mengubah kehidupan pada Rosalina dan keluarganya.

Loading...
;

Sebelumnya saya tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan dalam membuat kerajinan tangan, tetapi syukurlah saya belajar bagaimana membuat berbagai aksesoris menggunakan bahan-bahan lokal, apa pun yang tersedia, seperti membuat kalung, anting-anting dan gelang manik-manik lopa Samoa melalui proyek ini,” katanya.

Usaha kerajinan Rosalina dan suaminya telah meningkatkan pemasukan mereka menjadi cukup memadai, baik dari $100 menjadi lebih dari $700 per minggu, dengan pelanggan mereka datang dari pasar lokal dan internasional. 

Ia adalah salah satu kisah sukses Proyek Nofotane, dan merupakan salah satu dari 5.170 perempuan Nofotane yang berpartisipasi dalam program pelatihan selama dua tahun, yang berakhir Oktober lalu. Dan walaupun dampak positif yang dibawa oleh perempuan-perempuan Nofotane ini pada keluarga mereka akan terasa selama bertahun-tahun dari sekarang, program pelatihan dan pemberdayaan yang serupa diperlukan juga di Samoa, khususnya bagi keluarga-keluarga dari anak-anak yang tinggal dan berjualan di jalanan di Apia dan daerah sekitarnya, serta orang-orang tua miskin di daerah pedesaan yang harus berjuang keras demi kehidupan yang layak (termasuk dalam menyediakan rumah) bagi keluarga mereka.

Setiap hari, seorang anak kecil berdagang di ibu kota Samoa mengetuk jendela mobil  di jalanan untuk menjual barang-barang kebutuhan dasar atau telah membersihkan ban mobil, dengan imbalan seadanya. Mereka ini adalah sebagian dari warga Samoa yang paling rentan – beberapa dari mereka berusia hanya lima tahun – diperintahkan oleh orang tua mereka untuk membawa keranjang popcorn, keripik pisang, atau cotton bud dan kotak korek api untuk dijual di jalan-jalan.

Terkadang anak-anak ini – yang seharusnya tinggal di dalam rumah mereka – berakhir di tempat parkir klub-klub malam dan harus ‘bekerja’ hingga larut malam.

Dalam beberapa tahun terakhir, surat kabar ini telah menerbitkan banyak kisah tentang nasib anak-anak yang berjualan, dengan orang tua membela keputusan mereka saat mengirim anak-anak mereka untuk berjualan, sering kali dengan alasan bahwa pengalaman itu akan membuat mereka mandiri.

Tetapi persoalan ini memerlukan suatu solusi jangka panjang, dan mendorong orang tua mereka untuk menghadiri program pelatihan yang akan meningkatkan keterampilan mereka  serta memberdayakan mereka – untuk membuka pintu peluang kerja dan mendorong pengambilan keputusan, agar tidak menempatkan anak-anak mereka dalam ancaman bahaya di jalan-jalan – adalah cara paling baik untuk bisa maju. Pada akhirnya, kita hanya ingin agar anak-anak itu dijauhkan dari jalanan dan dimasukkan kembali ke sekolah-sekolah, dan diberikan setiap kesempatan yang ada untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan sukses dalam hidup.

Bagi masyarakat Samoa di daerah terpencil, kehidupan mereka juga tidak lebih mudah, jika kisah-kisah mengenai kesulitan dan kemiskinan yang diliput oleh koran ini di rubrik Village Voice dalam beberapa tahun bisa dilihat sebagai indikasi.

Melefiva Talafa, Lauiva Tau, dan Laulauga Faitoatasi memiliki satu kesamaan – tantangan yang mereka hadapi sebagai mama di pedesaan Samoa ditampilkan di rubrik Village Voice koran Samoa Observer bulan ini – dan mereka semua mendambakan rumah yang lebih nyaman dan aman untuk anak-anak mereka.

Ketiga ibu ini tinggal dalam rumah tradisional fale Samoa, bersama suami dan anak-anak mereka, ditopang oleh tiang-tiang kayu dan atap yang terbuat dari daun kelapa dan seng gelombang yang sudah tua. Sebagian besar rumah di daerah itu tidak memiliki dinding, sehingga keluarga-keluarga biasanya menggunakan kain lavalava sebagai penggantinya, yang tidak efektif untuk menjaga keluarga di dalamnya tetap hangat dan bebas penyakit selama musim hujan.

Sudah waktunya bagi lembaga-lembaga pemerintah yang relevan, untuk menyelesaikan masalah perumahan warga Samoa yang miskin dan tinggal di daerah terpencil. Dan kementerian apa yang seharusnya bertanggung jawab? Mungkin Kementerian Perempuan, Masyarakat, dan Pembangunan Sosial (Ministry of Women Community and Social Development; MWCSD) dan Samoa Housing Corporation bisa mulai memperhatikan permasalahan ini dan memulai proses, untuk merumuskan kebijakan yang akan memungkinkan pemerintah untuk menyelesaikannya.

Keluarga-keluarga ini – yang, pada dasarnya, tidak mampu membeli bahan-bahan bangunan – harus memiliki akses ke sebuah dana bantuan, yang dapat memberikan subsidi atas pengeluaran mereka, atau lebih baik lagi, memungkinkan agar mereka diberikan rumah yang berbiaya rendah dan yang dirancang khusus untuk keluarga-keluarga  di Samoa.

Setelah merayakan HUT Kemerdekaan Samoa yang ke-53 awal bulan ini, tentunya kita ingin memastikan semua warga negara bisa mengambil bagian dalam kekayaan dan kesejahteraan bangsa ini, termasuk mereka yang berpikir mereka merasa tertindas dan merasa bahwa tidak ada lagi yang peduli. (Samoa Observer)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top