Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kenapa hipertensi bisa masuk tiga besar di Kurik, Merauke?

Puskesmas Pembantu di Kampung Wapeko, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Warga di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke mulai banyak menderita hipertensi sehingga masuk tiga besar penyakit yang diderita pasien tercatat di puskesmas. Apa penyebabnya?

Puskesmas Pembantu (Pustu) Wapeko di Kampung Wapeko, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke tampak sepi. Tak ada kunjungan pasien dalam jumlah banyak. Hanya seorang ibu paruh baya sedang berkonsultasi kepada bidan, lantaran sering mengalami pusing-pusing.

Kurang lebih setengah jam berkonsultasi, ibu itu keluar. Di tangannya tergenggam bungkusan berisi obat dari bidan tersebut.

Karena tidak ada pasien lagi yang datang berobat maka Jubi menemui bidang tersebut yang juga Kepala Pustu Wapeko, Nita Fatmawati.

Loading...
;

Ia mengatakan Pustu Wapeko masuk ke dalam wilayah kerja Puskemas Kurik sehingga setiap bulan mengirimkan laporan ke puskesmas.

“Laporan terkait penyakit yang sering dikeluhkan masyarakat,” kata Nita Fatmawati.

Ada beberapa jenis penyakit sering dikeluhkan masyarakat di pustu tersebut, seperti infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas (ISPA), hipertensi, kolestrol, diare, pusing-pusing, dan badan sakit.

“Setiap bulan pasti ada yang mengeluhkan beberapa penyakit tersebut, ketika mereka datang berobat,” ujarnya.

Khusus hipertensi dan kolestrol, kata Nita, cenderung dialami orang dewasa.

“Itu akibat terlalu banyak mengkonsumsi daging, itu keluhannya,” katanya. Meski begitu, Nita mengatakan tak langsung memberikan obat-obatan. Tetapi dilakukan diagnose terlebih dahulu sekaligus dianjurkan mengurangi makan daging.

Sebulan kemudian baru disarankan datang kembali ke Pustu. Jika masih merasa sakit akan diberikan obat-obatan.

“Aturan kesehatan demikian, jadi tidak serta merta diberikan obat, kita perlu diagnosa terlebih dulu, beda dengan penyakit lain seperti malaria yang bisa langsung diberikan obat,” katanya.

Untuk saat ini, kata Nita, penyakit ISPA lebih mendominasi dan cenderung menyerang anak-anak. Itu diakibatkan kondisi cuaca tidak menentu.

“Apalagi kini sedang musim kemarau, pasti muncul debu di mana-mana,” ujarnya.

Dari situ, tambahnya, ketika anak-anak tidak diperhatikan dan dibiarkan bermain sendiri, dipastikan ketahanan tubuh akan terganggu. Lalu mulai batuk beringus. Jika orang tuanya tidak segera membawa ke pustu akan mengalami penyakit ISPA.

Nita mengaku dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada masyarakat di kampung tersebut, ia tidak hanya menunggu pasien di Pustu. Tetapi juga langsung datang dari rumah ke rumah penduduk. Sekaligus menanyakan keluhan penyakit yang sering dialami.

“Kalau ada keluhan dilakukan diagnose, setelah itu dianjurkan menjaga pola makan secara baik, nanti kalau tak ada perubahan baru dianjurkan untuk ke pustu sekaligus diberikan obat,” katanya.

Sejauh ini, kata Nita, tidak ada pasien yang dirujuk ke puskesmas karena penyakit biasa. Yang pernah dirujuk adalah pendarahan maupun infeksi akibat usus.

“Karena tak bisa ditangani di sini, makanya kita rujuk agar ditangani tenaga medis di Puskesmas Kurik, karena disana ada dokter,” katanya.

ISPA teratas

Kepala Puskesmas Kurik, Suparman, mengakui jika dari sepuluh penyakit tersebut, ISPA menempati ranking pertama dengan jumlah 1.962 kasus. Menyusul beberapa penyakit lainnya yang terjadi pada 2018.

“Kalau 2019, penyakit ISPA masih mendominasi, hanya jumlahnya belum bisa saya sebutkan, tapi setiap bulan dari Januari hingga Oktober kami melaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke,” katanya.

Penyebab penyakit ISPA, katanya, akibat cuaca yang berubah dari penghujan ke kemarau sehingga banyak debu. Selain itu juga faktor lingkungan dan kondisi rumah di kampung-kampung.

“Karena dalam satu rumah bisa dihuni sampai tujuh orang, belum lagi rumahnya tidak layak ditempati atau dihuni, ini juga sangat mempengaruhi kondisi kesehatan dan rentan menderita penyakit ISPA,” katanya.

Untuk kategori usia, ISPA lebih banyak diderita anak-anak. ISPA bermula dari flu dan pilek. Jika tak segera ditindaklanjuti dengan membawa ke pustu atau puskesmas dipastikan terserang ISPA.

Terkait hipertensi yang masuk lima besar, menurut Suparman, karena tidak menjaga pola makan secara baik.

“Pola hidup dan makan masyarakat sudah mulai bergeser, karena makanan sekarang lebih banyak siap saji,” katanya.

Penyakit hipertensi juga akibat faktor genetik dari orangtua yang tidak menutup kemungkinan turun kepada anaknya.

Sejauh ini, sejumlah penyakit tersebut dapat ditangani petugas medis di puskesmas, walaupun ada yang dirujuk hingga ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) karena komplikasi dengan penyakit lain.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, Erny Siahaya, yang dihubungi Jubi via telepon mengaku belum mendapatkan data rinci  jumlah penyakit dari 20 puskesmas di kabupaten tersebut.

Terkait sepuluh besar penyakit yang terjadi pada 2018, sesuai laporan dari puskesmas, Erny mengatakan masih dalam perjalanan dan belum di kantor sehingga belum bisa memberikan informasi secara detail.

Namun demikian, Erny mengakui salah satu penyakit yang mendominasi adalah hipertensi. Setiap tahun jumlah kasusnya cendrung mengalami peningkatan. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top