Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Keramba Danau Sentani merugi karena banjir

Usaha ikan keramba di Danau Sentani – Jubi/David Sobolim

Papua No. 1 News Portal | Jubi

PINGGIR Danau Sentani sudah lama dimanfaatkan penduduk untuk usaha keramba jaring apung. Ikan budi daya dari jaring apung tersebut menjadi salah satu tulang punggung pemasok ikan air tawar untuk dikonsumsi warga.

Masyarakat yang tinggal di sepanjang pinggir Danau Sentani rata-rata memiliki keramba. Pemilik keramba tidak hanya orang asli Sentani, tetapi ada juga dari luar Papua yang menyewa lahan untuk budi daya ikan.

“Ka Bhukouw”atau tempat penampungan ikan di pinggir Danau Sentani sebagian besar kini tinggal petak kosong dan jaring nilon. Meluapnya air Danau Sentani pasca banjir-bandang menerjang kawasan Sentani sejak 16 Maret 2019 membuat keramba terendam dan ikan-ikan peliharaan lepas ke danau.

Keramba di sepanjang pinggir Danau Sentani tidak hanya milik perorangan, tetapi ada juga milik kelompok. Milik kelompok tersebut ada yang dari bantuan Pemerintah Provinsi Papua, Pemkab Jayapura, dan juga beli bibit sendiri di Koya.

Loading...
;

Kebanyakan bibit ikan bantuan dari pemerintah diperuntukan buat usaha kelompok masyarakat asli yang berada di pinggir danau. Sedangkan masyarakat dari luar yang menyewa tempat membeli bibit sendiri yang dipasok dari Koya Distrik Muara Tami.

Pakde Amir, 57 tahun, salah satu pemilik keramba di Danau Sentani yang sudah menyewa lahan dan membuat keramba ikan sejak tahun 2011. Ia menghidup keluarganya dengan usaha keramba tersebut. Namun kini usahanya sudah digenangi air danau dan semua ikan di dalamnya lepas.

“Saya delapan tahun di sini dan baru kali ini air danau naik sampai 2 meter dan ikan saya sudah keluar semua,” katanya kepada Jubi, Kamis, 21 Maret 2019.

Amir membuka usaha keramba ikan dari hasil kerja bangunan di pedalaman Papua saat usianya masih muda. Setelah berusia tua ia memutuskan untuk menyewa lahan dan membuka usaha dengan membuat keramba ikan di pinggir Danau Sentani.

Amir yang biasa di panggil “Pakde” menjelaskan saat hujan deras dan air danau mulai naik ia tidak sempat memindahkan ikan dari keramba ke tempat lain. Ia hanya hanya pasrah karena jaring nilon kerambanya sudah tidak bisa ditinggikan lagi.

“Hari kedua hujan, saya keluar pagi turun cek ikan-ikan di keramba yang siap panen, tapi sudah tidak ada,” katanya dengan nada agak kesal.

Amir memiliki 13 petak keramba. Dalam seminggu biasanya ia dua kali panen untuk mengirimkan ke restauran di Abepura. Itu berlangsung sejak 2014.

Untuk menyuplai ikan dari keramba ke restauran para pemilik warung atau restauran biasanya memesan ke ketua kelompok pemilik keramba. Agar dalam satu minggu satu atau dua kali mengirim ikan ke tempat usaha tersebut.

Amir mengaku pendapatannya tergantung berapa hari ikan habis di restaurant tersebut. Terkadang sehari bisa habis 30-50 ekor. Semakin banyak pendapatannya semakin meningkat.

Ia menjelaskan sebulan kerambanya bisa menghasilkan hingga belasan juta rupiah. Tapi bisa menurun jika pengunjung restauran berkurang.

Petrus Ohee, warga Waena pemilik keramba di belakang Expo Waena, juga mengalami nasib serupa dengan Amir. Kerambanya kosong gara-gara air danau naik yang menyebabkan ikan-ikannya lepas ke danau.

“Saya dapat bantuan dari Pemerintah Kota Jayapura dan usaha baru berjalan tiga tahunan, tapi kini ikan di keramba semua keluar, memang ada beberapa yang tidak keluar karena nilon keramba tinggi,” katanya.

Banjir juga mengakibatkan ia bersama keluarganya mesti mengungsi ke rumah keluarga dekat, sebab rumahnya yang terletak di bibir danau terendam hingga 1,5 meter.

Saat ditemui Jubi ia datang ke rumah untuk melihat usaha kerambanya.

Ia juga menjelaskan musibah datang kapan saja kepada siapa saja. Karena itu ia bersyukur ia sekeluarga bisa selamat, meski sebagian barang di rumah dan usaha kerambanya hancur.

“Dalam hidup saya, ini yang kedua kali air danau naik dan banjir di kabupaten ini,” ujarnya.

Menurut Ohee, pada 2006 atau 2007 juga pernah terjadi banjir dan air Danau Sentani naik. Kejadian juga sama-sama bulan Maret. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top