Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Keripik pisang ala biarawati

Suster Florensia N Hokeng (kanan), dan Suster Gelandina menunjukkan keripik pisang produksi mereka – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SEBUAH bangunan sederhana disulap menjadi industri pengolahan keripik pisang oleh Pengurus Panti Asuhan Santo Vicentius, Merauke. Beberapa tandan pisang beserta kompor dan seperangkat penggorengan menghiasi ruangan pada bangunan di samping panti tersebut.

Dua perempuan pun terlihat sibuk berbagi kerjaan pada pagi itu, Kamis (21/3/2019).  Ada yang membersihkan pisang, ada pula yang menggoreng irisan pisang. Salah satu dari mereka ialah Suster Gelandina.

Saking sibuknya, biarawati ini menyarankan Jubi menemui pimpinan mereka Suster Florensia N Hokeng. Florensia pun menuturkan ide pembuatan keripik pisang itu muncul seusai Retret Agung Tahunan di Malang.

Pimpinan Asosiasi Lembaga Misionaris Awam (ALMA) kala itu meminta anggotanya memiliki usaha mandiri. Ini bertujuan memupus ketergantungan komunitas di daerah kepada pengurus pusat.

Loading...
;

Para pemimpin daerah hingga regio pun berembuk untuk menindaklanjuti permintaan tersebut. Ada banyak hal yang didiskusikan untuk memutuskan rencana pengembangan usaha. Mereka menakar berbagai potensi dan peluang usaha di daerah masing-masing. Salah satunya ialah ketersediaan bahan baku lokal.

Pertemuan berlanjut dengan diskusi komunitas bersama para suster lain di Merauke. Tercetuslah kemudian produksi keripik pisang sebagai kegiatan usaha pilihan mereka.

Pisang cukup melimpah di Merauke, tetapi belum banyak yang mengolahnya menjadi beragam makanan kemasan. Para suster pun bersepakat mengutus tiga rekan mereka untuk mempelajari pembuatan keripik pisang di Jember, Jawa Timur.

“Saya mengirim tiga suster dari ALMA Merauke untuk belajar dari sesama teman selama seminggu di Jember,” kata Suster Florensia.

Sekembalinya mereka dari Jember, uji coba pembuatan kripik pisang pun dilakukan pada akhir September tahun lalu. Hasilnya tidak mengecewakan.

“Kami mempromosikannya kepada para tamu saat peresmian PAUD di sekitar Kelapa Lima. Puji Tuhan, banyak yang berminat (membeli),” kenang Florensia.

Kembangkan usaha

Keripik produksi para suster Panti Asuhan Santo Vicentius  tersedia dalam beragam cita rasa. Ada asin, manis, pedas, keju, dan jagung bakar serta cita rasa lainnya. Varian ini diciptakan untuk memenuhi selera konsumen.

Cita rasa itu dihasilkan dari racikan bumbu yang mereka beli di pasar swalayan. Namun, Florensia menjamin produk mereka tidak mengandung pemanis buatan.

“Kami hanya menggunakan gula sebagai bahan pemanis sehingga cita rasanya khas dan enak saat dimakan.”

Membikin keripik pisang juga relatif sederhana, dan sama seperti kebanyakan pembuatan penganan serupa. Adapun prosesnya ialah mengupas dan mencuci pisang. Kemudian, menyiapkan minyak kelapa di penggorengan. Pisang selanjutnya diiris tipis dengan cara diparut langsung di atas wadah penggorengan.

Setelah digoreng, keripik ditiriskan dan digaul dengan bumbu, sesuai varian rasa sebelum digoreng kembali. Penirisan kemudian dilakukan kembali sehingga keripik benar-benar kering dari minyak, dan selanjutnya dikemas serta siap dipasarkan.

“Kami mendapat bantuan mesin (pemotong keripik) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke. Namun, mesin belum bisa dimanfaatkan karena lebih cocok untuk keripik ubi jalar atau keladi,” ujar Florensia.

Pisang sebagai bahan baku utama dibeli seharga Rp 25 ribu hingga Rp 70 ribu setandan. Para suster membelinya di Kampung SP 7 Distrik Tanah Miring atau di Kampung Tabat.

Usaha kerajinan ini beroperasi setiap hari, dengan rata-rata produksi sebanyak 15-20 bungkus keripik. Mereka bisa menghabiskan 1-2 tandan pisang segar dalam sekali produksi.

Satu bungkus kemasan keripik dijual seharga Rp 20 ribu. Sebagian produksi dijual langsung kepada pembeli, sedangkan sebagian lagi dititipkan ke toko atau pasar swalayan.

“Sebanyak 15-20 bungkus dititipkan ke toko atau supermarket. Biasa habis terjual dalam waktu singkat sehingga kami mengantarkannya lagi,” kata Florensia.

Usaha kecil ini beromzet sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu sebulan. Para suster berencana meningkatkan produksi dengan merekrut tenaga kerja tambahan karena usaha ini dinilai mereka berprospek bagus.

“Target kami ialah memberdayakan awam (masyarakat) di sini. Jadi, ketika para suster sedang bermisi, usaha ini bisa tetap berproduksi,” ujarn Florensia. (*)

Editor: Aries Munandar

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top