HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kesehatan mental pengungsi di Manus semakin parah

Kesehatan mental pengungsi di Manus semakin parah

Situasi di Pulau Manus semakin parah. – RNZI/ Shaminda Kanapathi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manus, Jubi – Situasi di pusat penahanan imigrasi di Pulau Manus, Papua Nugini, mencapai titik puncak dikarenakan maraknya upaya bunuh diri dan menyakiti diri-sendiri di antara pengungsi, kata seorang pengacara.

Sekitar 500 orang masih ditahan di pulau itu, begitu juga dengan sekitar 300 orang di Nauru, semuanya di bawah sistem pemrosesan lepas pantai pemerintah Australia.

Selama enam tahun ditahan tanpa batas waktu yang pasti, kesehatan mental para pengungsi telah kian memburuk, PBB menyebutnya sebagai krisi kesehatan mental paling parah di antara kelompok-kelompok pengungsi di mana pun di seluruh dunia.

Salah satu pengungsi, Shaminda Kanapathi, melaporkan dua kasus self-harm dalam satu hari, Selasa kemarin (25/6/2019) di Manus, di mana telah dilaporkan sekitar 100 upaya bunuh diri dan insiden menyakiti diri-sendiri sejak pemilu Australia 18 Mei lalu.

Pengacara Ian Rintoul mengatakan seorang pengungsi dilaporkan menelan gunting kuku dan harus dilarikan ke rumah sakit setempat. Awalnya tim keamanan menolak untuk mengangkut pasien itu karena rumah sakit terdekat sudah penuh, menurut Kanapathi. Beberapa jam setelah itu, seorang pencari suaka yang telah mogok makan selama beberapa hari, memotong kepalanya, kata Rintoul.

Pada Minggu 23 Juni, ada lima insiden self-harm yang lain di Manus dan di Port Moresby, di mana mereka dirawat di rumah sakit internasional Pacific International Hospital (PIH), lapor Kanapathi. Dalam akhir pekan sebelumnya, seorang pencari suaka dari India yang berusia 31 tahun membakar diri dalam kamar pada Jumat, telah dipindahkan ke unit perawatan intensif PIH bersama dengan dua pengungsi lainnya dari Manus.

Sekitar 14 tahanan lainnya yang mencoba bunuh diri ditahan oleh polisi setempat di Manus.

Sementara itu Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape, telah mendesak agar kontrak perusahaan Australia yang mengelola pusat penahanan itu, Paladin, di Pulau Manus dihentikan. (RNZI)


Editor: Kristianto Galuwo

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)