Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Keterwakilan orang asli Keerom dan perempuan di DPRD Keerom minim

Logo Pemilu 2019 – Jubi/Dok.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Keterwakilan orang asli  Papua dan perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Keerom periode 2019-2024 minim. Hal itu disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan Pemerintah Kabupaten Keerom, Sucahyo Agung Dwi Arianto usak membuka dialog kunjungan kerja Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua di Asro, Keerom, pada Jumat (20/9/2019).

Sucahyo menyebut, dari 20 kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Keerom, hanya 5 kursi yang dimenangkan orang asli Papua. Sucahyo juga menyebut, keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Keerom kurang dari 30 persen.

“Calon anggota [legislatif asli Papua yang terpilih hanya] lima orang, dari 20 kursi [DPRD Keerom]. Periode lalu, kita bisa dapat 3-4 [anggota DPRD Keerom perempuan], tetapi kali ini hanya satu. Mengapa?” tanya Sucahyo dalam dialog yang dihadiri empat anggota Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua itu.

Dalam pertemuan yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Keerom, Yuli Anderi mengatakan kurangnya keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Keerom bisa diubah pada Pemilihan Umum 2024. “Kuncinya, kita bersatu. Kalau bersatu, sesuatu yang tidak mungkin [bisa dilakukan],”ungkapnya.

Loading...
;

Yuli Anderi mengatakan situasi ketidakadilan dan tindakan rasisme terhadap orang asli Papua sangat menyakitkan orang asli Papua. Kesatuan orang Papua dan non-Papua telah robek dalam sebulan terakhir.

“Kita bicara tadi ketidakadilan dan rasisme itu sangat  menyakitkan. Akan tetapi, mari kita merajut benang-benang kebersamaan itu bersama-sama, agar kita bisa menciptakan keadilan dan kenyamanan di antara kita,”ungkap Anderi dalam dialog itu.

Yuspina Fatagur, perempuan asli Keerom, mengatakan perempuan dan orang asli Keerom tidak pernah menuntut apapun dari orang-orang dari luar yang mendatangi negerinya. “Kami tidak menuntut apa pun dari Anda. Karena kami adalah kamu, kamu adalah kami,” ungkapnya.

Fatagur menyatakan orang Keerom hanya minta agar masyarakat non-Papua di Keerom mau ikut mendorong keterlibatan perempuan asli Keerom dalam kontestasi politik seperti Pemilihan Umum atau Pemilihan Kepala Daerah di Keerom. Fatagur menyatakan hal itu penting, agar perempuan Keerom juga bisa ikut membicarakan dan menjadi penentu kebijakan pembangunan di Keerom.

“[Selama ini] kalian [perempuan non-Papua] yang muncul . Yang memilih kamu yang duduk di [lembaga legislatif termasuk kami orang asli Papua]. Lalu kamu bilang kami tidak bisa [menjadi anggota lembaga legislatif]. Itu satu penghinaan dan pembunuhan karakter,” kata Fatagur.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top