HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ketika Administrator Apostolik KAME bicara pendidikan

Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC  foto bersama dengan para imam dan Bupati Merauke, Frederikus Gebze – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“SAAT naik pesawat dari Makassar menuju Merauke, saya memperhatikan situasi di dalam pesawat. Ternyata kurang sekali orang asli Papua. Sebagian besar adalah orang non Papua. Saya merasa sedih sekali.”

Dari gambaran minimnya orang asli Papua menumpang pesawat, menggambarkan  OAP secara perlahan mulai tersingkir. Ini menjadi suatu koreksi bagi umat Katolik di Kabupaten Merauke.

Itulah ungkapan awal Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke (KAME), Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC yang juga Uskup Amboina ketika memberikan sambutan pada peringatan 114 tahun masuknya Agama Katolik di Papua Selatan, Rabu 14 Agustus 2019.

“Memang sudah banyak dibuat para misionaris, termasuk situs Gereja Katolik. Hanya saja menjadi pertanyaan lebih jauh, berapa banyak OAP yang terdidik,” katanya.

Loading...
;

Mengutip apa kata Nelson Mandela, tokoh Afrika Selatan, “Hanya dengan pendidikan, kita kuasai masa depan.”

Jadi, jelas Uskup, jangan berharap orang Papua Selatan akan menguasai masa depan kalau tidak ada pendidikan.

“Hanya dengan pendidikan, kita bisa mengubah orang,” ungkapnya.

Ingat bahwa pendidikan itu paling utama.

“Saya berharap Bupati Merauke, Frederikus Gebze, memperhatikan pendidikan 200 persen,” pintanya.

Uskup berjanji selama kurang lebih dua tahun menjadi Administrator Apostolik KAME akan menggarisbawahi secara khusus tentang pendidikan.

“Di Maluku, saya harus bangga sekarang dengan pendidikan yang sangat luar biasa. Di berbagai tempat, kita menguasai. 25 tahun silam saya datang di Maluku, pendidikan sangat setengah mati. Tetapi sekarang saya bangga. Karena 21 imam projo bergerak di bidang pendidikan,” ujarnya.

“Memang dari awal saya menggerakkan imam projo, maaf untuk imam MSC. Bukan ingin menyingkirkan Anda. Tetapi suatu keuskupan akan tumbuh juga dan kita harus saling mendukung,” pintanya.

Bahkan, lanjut Uskup, dirinya meminta imam MSC terjun dalam bidang pendidikan. Ingat bahwa pendiri MSC adalah seorang imam projo.

“Tapi imam projo harus bagus, bukan bajingan,” tegasnya.

Misalnya imam tak masuk gereja dan rambut tak diurus baik. Status imam harus jelas, bukan politisi. Sifat seorang imam adalah kudus dan bersatu dengan roh kudus.

Uskup kembali mengingatkan imam agar mendukung pendidikan. Para imam MSC bisa membentuk salah satu sekolah dari jenjang pendidikan SD hingga SMA.

“Di usia 114 tahun agama Katolik masuk di Papua Selatan, pasti sudah banyak terdidik. Ingat bahwa pendidikan harus diutamakan. Tentunya mulai dari keluarga, baru ke sekolah. Sekarang ini banyak keluarga hancur akibat mabuk dan lain-lain,” ujarnya.

“Saya minta perlu adanya gerakan dalam gereja memberikan perhatian kepada setiap keluarga. Karena dari keluarga, akan lahir orang terdidik,” katanya.

Umat sedang antrian untuk berjabatan tangan dengan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC – Jubi/Frans L Kobun

Bupati Merauke, Frederikus  Gebze, menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada para misionaris, katekese dan guru yang datang mengangkat OAP di bumi Anim Ha mengenal Tuhan Yesus.

“Hari ini kita merayakan 114 tahun agama Katolik masuk di Papua Selatan. Terima kasih atas darah, keringat, air mata, dan pikiran baik secara langsung maupun tak langsung yang telah disumbangkan saudara kita dari Tanimbar, Flores, Kei, dan Jawa membangun serta mengangkat harkat orang Marind,” kata dia.

Cerita dan pengorbanan banyak telah dibuat, satu persatu terbukti. Dimana Tuhan berperkara dalam kehidupan umat di Keuskupan Agung Merauke.

“Masih banyak kekurangan harus dibenahi secara bersama-sama, terutama perspektif Gereja Katolik  dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM), pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lain-lain,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Freddy mengatakan pemerintah akan menyerahkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) kepada salah seorang tokoh masyarakat, John Gluba Gebze, berkaitan dengan pengelolaan semua situs rohani yang dimiliki.

Dengan perayaan 114 tahun Gereja Katolik masuk di Papua Selatan, semua pihak termasuk umat menata kembali manajemen di Keuskupan Agung Merauke dengan mengundang sejumlah tokoh untuk didiskusikan secara bersama.

Selain itu, bagaimana menata dan mengelola KAME baik dalam pengembangan SDM, kesehatan, maupun pendidikan yang dituangkan dalam program pemerintah menjadi administrator.

“Juga perlu ditata bersama inkulturasi-gereja bersama seluruh masyarakat untuk terus menjalin kebersamaan dan kekompakan menghadirkan tubuh Kristus kemana-mana menggunakan manajemen hostia dan anggur yakni satu kali rasa, semua rasa,” pintanya. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top