Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ketika OAP ancam hambur gabah padi di jalan

Salah seorang petani OAP, Martinus Ndiken – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

MENYEBUT nama Martinus Ndiken, tak asing lagi bagi masyarakat, terutama orang di lokasi ekstransmigrasi. Karena setiap musim tanam, dua kali dalam setahun, iapun berlomba-lomba bersama petani lain ikut ‘mandi’ lumpur di tengah sawah.

Antara percaya dan tidak. Tetapi ini kenyataan. Betapa tidak, setiap tahun, Martinus yang adalah orang Marind-Papua membuka areal persawahan dalam skala luas hingga puluhan hektar menanam padi.

Dalam beberapa tahun terakhir, hasil penjualan beras tak menemui kendala. Baru tahun ini, ratusan karung berisi gabah kering, terpaksa ditumpuk di rumahnya. Karena tempat penggilingan tak mampu menampung gabah untuk digiling.

Saat ditemui Jubi, Sabtu (2/11/2019), Martinus Ndiken, warga Kampung Kurik, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke itu mengatakan pada musim rendengan tahun ini, dirinya membuka lahan seluas 26 hektar untuk areal persawahan.

Loading...
;

Hasilnya sangat memuaskan, setelah dilakukan panen. Sedangkan musim gaduh (garapan kedua), ia membuka kembali lahan 36 hektar di dua tempat berbeda. Satunya di lokasi Rawa Mayo seluas 22 hektar. Sedangkan lahan satunya di daerah Kurik seluas 14 hektar.

Kegiatan panen sedang berjalan. Hingga kini tersisa sekitar 13 hektar masih dalam proses panen menggunakan harvester combine (mesin pemotong gabah).

Sedangkan sebagian yang telah dipanen, gabahnya telah dikeringkan dan dimasukan dalam karung. Jumlahnya mencapai 300-an lebih karung. Seharusnya ratusan karung gabah itu sudah harus di tempat penggilingan agar digiling menjadi beras.

“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin membangun komunikasi bersama mereka yang memiliki mesin penggilingan. Hanya saja ditolak. Alasannya tidak bisa menyerap beras lagi, karena kapasitas gudangnya sangat terbatas,” ungkapnya.

Akibatnya, ratusan gabah kering miliknya menumpuk begitu saja di rumah.

“Kita mau bawa giling kemana? Tempat penggilingan sudah menolak. Karena di gudangnya juga beras masih menumpuk,” katanya.

Menurutnya, harga beras sesuai standard adalah 7.500/kg. Itupun belum laku dibeli. Bahkan masih ditawar petani hingga Rp7 ribu/kg, namun pemilik tempat penggilingan masih berpikir panjang untuk membeli.

Di saat gabah tak digiling jadi beras dan dijual, sudah pasti petani menjadi pusing. Karena telah mengeluarkan biaya besar. Apalagi pada musim kemarau seperti begini, semua serba menggunakan pompa menyedot air dari saluran drainase.

Dengan demikian, petani harus mengeluarkan biaya besar membeli bahan bakar minyak (BBM) ketika memanfaatkan mesin penyedot.

Biaya yang dikeluarkan tidak main-main. Mulai dari pengolahan tanah, mengairi areal persawahan, pembibitan, penghamburan bibit, semprot, hingga panen.

Untuk musim rendengan, hitungan satu hektar, biaya yang dikeluarkan senilai Rp5 juta. Sedangkan musim gaduh, satu hektar biaya dikeluarkan hingga Rp8 juta. Selisih biaya tersebut lantaran pada musim gaduh, harus menyedot air menggunakan mesin dari saluran lagi dengan menyewa mesin dan juga menanggung BBM.

Jadi bisa dikalkulasi sendiri, berapa uang dikeluarkan petani untuk sekali musim tanam dengan luasan lahan hingga puluhan hektar. Karena peralatan juga serba sewa.

“Kalau saya ada bantuan dua unit jonder, termasuk satu unit mesin harvester combine. Hanya masih kewalahan juga. Karena luasan lahan yang dibuka hingga puluhan hektar,” ujarnya.

Khusus panen, satu hektar berkisar antara 3-6 ton. Kadang hasil bagus, kadang juga kurang. Faktor penyebabnya serangan hama atau gangguan lain.

Berbagai cara telah dilakukan, termasuk menyampaikan secara langsung kepada pimpinan Bulog kabupaten maupun provinsi serta anggota DPR RI, Sulaeman Hamzah agar beras petani segera diserap. Hanya saja sampai sekarang tak ada realisasi.

“Gabah kering saya hingga 300-an karung masih menumpuk di rumah dan tak bisa digiling. Karena adanya penolakan dari pemilik tempat penggilingan,” katanya.

Martinus pun mengancam menghambur gabah miliknya di jalan. Karena berbagai usaha yang telah dilakukan, tak kunjung membuahkan hasil.

“Terus terang, saya cape. Karena berbagai cara dilakukan, tetapi buntu di tengah jalan,” tegasnya.

Mestinya, Pemerintah Kabupaten Merauke mencari solusi, agar beras petani dapat diserap. Kalau dibandingkan lima tahun sebelum, petani tak kewalahan menjual berasnya.

“Baru tahun ini kami benar-benar mengalami kesulitan. Karena gabah tak kunjung digiling, lantaran terjadi penolakan,” tegasnya.

Gudang milik mitra yang digunakan Bulog Sub Divre Merauke untuk menyerap beras petani – Jubi/Frans L Kobun

Khusus untuk Bulog Sub Divre Merauke, penyerapan beras pasti terbatas. Untuk memecahkan kesulitan ini, harusnya pemerintah mencari pihak swasta yang memiliki modal agar dapat membeli beras petani.

Saat ini banyak petani terlilit hutang-piutang. Karena pinjaman di bank. Bahkan ada yang menggadaikan rumah serta tanah. Harapannya adalah begitu beras dijual, bisa membayar hutang.

Kepala Bulog Sub Divre Merauke, Djabiruddin, mengakui jika pembelian beras melalui para mitra kerja, tidak dilakukan secara kontinu. Itu karena kapasitas gudang sangat terbatas.

“Kita sedang meminjam pakai gudang beberapa mitra kerja untuk dimanfaatkan. Itu dengan tujuan agar beras petani dapat diserap, meskipun tidak sekaligus,” ungkapnya.

Diapun mendukung jika ada pihak swasta bersedia membeli beras dari petani. Sehingga pasokan tidak hanya ke Bulog Sub Divre Merauke. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top