Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ketika pendidikan berpola asrama diterapkan di kampung Kumbe

Pastor Paroki Kumbe, Yuvensius Saragih, OFMCap – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SEBANYAK 51 siswa-siswi mengenyam pendidikan baik di tingkat Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kumbe maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kumbe. Meskipun mereka melanjutkan studi di dua jenjang pendidikan itu, namun semuanya menghuni Asrama Paulus Nafi Kumbe, Distrik Malind, Kabupaten Merauke.

Puluhan anak-anak orang asli Papua itu, datang dari sejumlah kampung yakni Boepe, Senegi, Baat, Wayau, Onggari, Domande, dan Salor Kampung. Mereka diantar orangtuanya.

Asrama dimaksud adalah untuk putra dan putri. Disitu terdapat pembina yakni pastor dan dua pengawas yakni Mikhael Reku serta Risky Manalu yang rutin 1×24 jam melakukan pendampingan serta pengawasan melekat terhadap siswa-siswi.

Seperti biasa, anak-anak ke sekolah tiap hari mengikuti kegiatan belajar mengajar. Namun di asrama juga ada beberapa kegiatan tambahan yang wajib diikuti.

Loading...
;

Pastor Paroki Kumbe, Yuvensius Saragih, OFMCap kepada Jubi di Kampung Kumbe Kamis 17 Oktober 2019 mengatakan asrama dimaksud sudah ada sejak 1993 menurut sejarah dan terus berjalan sampai sekarang. Dimana menampung siswa-siswi dari kampung untuk melanjutkan studi baik  di jenjang SMP maupun SMK.

“Kami dari Ordo Capusin sudah tiga tahun sejak 2016 berada di Paroki Kumbe. Selain menjalankan tugas pelayanan kepada umat di kampung-kampung, juga ikut mengawasi serta bimbingan serta memotovasi anak-anak,” ungkapnya.

Biasanya sesuai aturan yang diterapkan di asrama, pagi pukul 04.30 WIT, anak-anak sudah bangun. Lalu berdoa dan mempersiapkan diri ke sekolah. Sebelum berangkat, harus makan  terlebih dahulu yang telah disiapkan petugas.

Setelah pulang sekolah, menurutnya, mereka makan dan istirahat. Lalu ada jadwal lain yakni olahraga, belajar serta bimbingan rohani.

“Kami juga harus membimbing anak-anak belajar lagi. Karena ada beberapa, meskipun sudah di jenjang SMP, namun belum terlalu lancar menulis dan membaca,” katanya.

Menurutnya, pendidikan berpola asrama, menjadi prioritas untuk dijalankan.

“Saya contohkan saja di Sumatera. Dimana di setiap paroki, selalu  ada asrama. Itu dengan tujuan agar anak-anak dapat dibentuk,” ungkapnya.

Selama anak-anak tinggal di asrama, tak ada sepersen pun uang diambil dari orangtua guna memenuhi kebutuhan mereka. Ada bantuan rutin dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke setiap tahun. Hanya saja tahun ini belum direalisasikan. Selain itu, juga dukungan dana dari Ordo Kapusin.

“Kami selalu menekankan kepada anak-anak bahwa asrama adalah rumah mereka. Olehnya, rawatlah rumah itu dengan baik dan harus merasa kerasan atau nyaman,” katanya.

Kunci agar pendidikan berpola asrama berjalan baik dan lancar adalah perlu ada pembina.

“Lalu kita hadir disitu tidak sebagai pengawas terhadap anak-anak. Tetapi sebagai orangtua, teman maupun sahabat untuk mendampingi mereka,” ungkapnya.

Selama tiga tahun bersama seorang rekan pastor sebagai pembina, banyak perubahan telah dialami anak-anak. Lalu sangat enak mengarahkan mereka. Misalnya bangun pagi yang telah ditentukan, mereka sudah tahu dan otomatis bangun sendiri.

“Meskipun kami tidak rutin setiap hari mendamping anak-anak, karena harus melakukan pelayanan ke stasi-stasi, namun ada perubahan sangat besar dari mereka dalam tiga tahun terakhir, karena ada pengawas,” ungkapnya.

Bahkan, jelas pastor, sejumlah anak yang telah tamat SMK maupun SMP, melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Ada juga langsung bekerja di perusahan. Juga mengikuti testing menjadi polisi.

Ditanya tingkat kesulitan yang dihadapi selama ini, Pastor Saragih mengatakan sering kalau anak-anak liburan atau izin pulang kampung, mereka enggan pulang melanjutkan sekolah.

Solusi yang dilakukan adalah mengunjungi orangtua di kampung sekaligus memberikan pemahaman secara baik agar anak kembali sekolah seperti biasa. Juga bekerjasama dengan kepala kampung maupun babinsa.

“Jadi, ketika anak akan pulang ke kampung, harus ada surat pengantar dari kampung terlebih dahulu. Sehingga itu menjadi dasar untuk diizinkan pembina asrama. Sepanjang tidak ada, tidak diizinkan,” tegasnya.

Perwakilan siswa-siswi di Asrama Paulus Nafi Kumbe sedang menerima bantuan sembako dari Ketua DPD II Golkar Merauke, Herman Anitoe Basik-Basik – Jubi/Frans L Kobun

Bangun asrama baru

Dalam kesempatan itu, Pastor Saragih mengatakan sejak bulan Juni 2019, atas prakarsa dari Ordo Kapusin, mulai dibangun asrama baru yang lebih representatif. Asrama itu untuk putra maupun putri dengan kapasitaas masing-masing menampung 150 orang.

“Memang pembangunan sedang berjalan. Hanya saja, kami masih membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak. Sehingga asrama dapat dirampungkan,” katanya.

Total anggaran yang dirancang guna pembangunan dua unit asrama baik putra maupun putri adalah Rp3 miliar. Nantinya akan dilengkapi juga fasilitas pendukung lain.

“Kami sudah mengajukan proposal kepada Pemkab Merauke untuk membantu. Namun sampai sekarang belum ada realisasi. Mudah-mudahan ada perhatian, sehingga pembangunan asrama dapat dirampungkan,” pintanya.

Ditambahkan, sesuai rencana, pembangunan asrama dirampungkan Desember 2019. Hanya saja dengan angggaran yang masih minim begini, tentu pembangunan pasti molor lagi. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top