HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Ketua AJI Jayapura: Jika ada wartawan memeras, laporkan ke polisi

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jayapura (paling kanan), Ketua AJI Jayapura Lucky Ireeuw (kedua dari kanan) , Ketua AMSI Jayapura Cunding Levi (kedua dari kiri), dan Ketua PWI (paling kiri) saat memberikan keterangan pers di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua – Jubi / Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Aliansi Jurnalis Independen Jayapura, Lucky Ireeuw mengatakan digitalisasi media massa telah memunculkan banyak media yang menyaru sebagai pers atau orang yang mengaku-aku sebagai wartawan. Banyak dari media yang menyaru sebagai pers itu tidak memiliki kedudukan hukum yang jelas.

“Semakin banyak bermunculan media yang tidak jelas. Mereka mengaku sebagai pers akan tetapi menggunakannya untuk mengintimidasi masyarakat,” kata Ireeuw di Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (16/3/2019).

Menurut Ireeuw, para jurnalis abal-abal dari media yang tidak jelas itu mendatangi berbagi instansi pemerintah untuk dimintai uang, dan kerap sengaja membuat berita yang tidak berimbang. “Biasanya mereka memakai nama-nama yang mirip dengan lembaga negara. Nama-nama itu dipakai agar mudah mengintimasi masyarakat. Dewan Pers sudah menerbitkan surat edaran atas kemunculan media abal-abal itu,” kata Ireeuw.

Syamsuddin Levi selaku ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mengatakan, wartawan abal-abal ini sudah ada semenjak pemerintah membebaskan perizinan untuk menerbitkan media. Menurutnya, kebebasan itu telah disalahgunakan oleh orang yang ingin menyalahgunakan profesi wartawan.

Loading...
;

“Banyak media yang tumbuh seperti jamur di musim hujan, dengan berbagai macam nama yang menyerupai lembaga negara atau instansi pemerintah. Jadi ada yang pake nama Sergap, Patroli, KPK, sengaja memilih nama-nama yang seram, ” jelasnya.

Menurut Ireeuw, jika seseorang menyatakan diri sebagai wartawan namun justru melakukan pemerasan, orang itu harus dilaporkan ke polisi. Dalam bekerja, setiap wartawan harus mematuhi Kode Etik Wartawan Indonesia, dan setiap wartawan dilarang memeras siapapun.

“Jika pemerasan, siapapun pelakunya, laporkan kepada polisi. Kami dari organisasi profesi, dan juga Dewan Pers, justru mendukung pelaporan orang-orang yang mengaku wartawan namun malah memeras. Kami tidak ingin para wartawan abal-abal itu meresakan masyarakat dan merugikan nama baik media pers yang berusaha menjalankan profesi wartawan sesaui aturan kode etik,” kata Ireeuw.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top