Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kisah petani binaan Bank Indonesia di Pasar Tani

Sejumlah petani yang dibina Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua mengikuti acara “Pasar Tani” di Jayapura. Seperti apa kondisi mereka?

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Acara “Pasar Tani” di halaman Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Kota Jayapura – Jubi/Foto Dok. Kantor Perwakilan BI Papua.

Musriah adalah ketua Kelompok Tani Cabe yang dibantu atau dibina Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua. Ia mengaku telah banyak mendapatkan keuntungan dari bantuan tersebut.

Ia menyerahkan 1 hektare lahannya untuk digarap bersama atas nama kelompok, karena BI membantu peningkatan petani berdasarkan kelompok.

Musriah bersama enam anggota kelompoknya mendapatkan bantuan alat perlengkapan menanam cabe dari Indonesia Perwakilan Provinsi Papua.

Loading...
;

“Alhamdulillah bersama anak saya masih bisa untung, meski banyak dari para petani kini gagal panen karena hama,” ujarnya.

Gagal panen tersebut menyebabkan harga di pasaran Papua tak kunjung turun antara Rp75 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram.

Musriah dan kelompoknya hanya membawa 20 kg cabai hasil taninya ke “Pasar Tani” yang digelar di halaman Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Kota Jayapura. BI sengaja menggelar “Pasar Tani” untuk “memamerkan” keberhasilan kelompok tani binaannya.

Itu berbeda ketika ia lebih banyak membawa cabai hasil pertanian kelompoknya ketika Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua menggelar Pasar Murah menjelang Natal atau menjelang Idul Fitri.

“Tak apa-apa, ini kan sudah bagian dari rezeki, semoga bisa membantu masyarakat,” katanya.

Petani lainnya yang dibantu Bank Indonesia Papua adalah Triparjono bersama kelompok petani cabai di Arso 4.

Ia mengaku telah dibantu BI Papua sejak tiga tahun lalu dengan memberikan alat perlengkapan pertanian seperti ‘hand tracktor’, plastik mulsa, dan tanki airspyer.

“Kami tidak dibantu uang, tapi bantuan peralatan untuk meningkatkan produktivitas pertanian cabai, juga bantuan lainnya agar berhasil, taka da bantuan uang,” katanya kepada Jubi.

Ia bersama kelompoknya menggarap lahan sekitar 1 hektare dan bantuan peralatan dari BI Papua sangat membantu usaha kelompok.

“Kami bergantian menggunakan traktor tangan untuk menggarap lahan dan airspyer bantuan BI, selebihnya kami punya alat sendiri,” ujarnya.

Namun Triparjono tidak membawa cabai hasil pertanian kelompoknya ke “Pasar Tani”, karena hampir habis saat Lebaran Idul Fitri. Ia terpaksa membawa cabai yang dipanen di kebun miliknya sendiri.

Untuk lahan kelompok ia dan kawan-kawannya akan kembali menanam cabai rawit.

“Kami sangat terbantu ileh bantuan dari BI seperti plastik mulsa, itu mengurangi biaya obat rumput yang cukup signifikan,” katanya.

Ia tak menampik adanya praktik jual beli oleh para tengkulak atau pedagang nakal.

“Itu praktek memang ada, semua hasil pertanian harus dibawa tengkulak jika petani tak punya modal dan mereka kasih harga di bawah rata-rata, kalau tidak maka dia takkan kasih modal usaha lagi jika mereka jual ke orang lain atau jika modal sendiri seperti saya ini mereka tak mau beli ketika hasil panen rendah,” ujarnya.

Selain kelompok petani cabai, BI Papua juga membina kelompok petani bawang. Mislan, anggota kelompok petani bawang yang ditemui di “Pasar Tani” sudah tiga tahun dibina BI Papua.

Ia mengaku banyak hal yang dibantu BI untuk meningkatkan produktivitas bawang. Hasilnya, pada tahun pertama kelompoknya bisa panen 1 ton, tahun kedua 6 ton, laly tahun ketiga 12 ton.

“Itu setelah kami dibawa BI Papua studi ke pertanian bawang di Brebes,” katanya.

Ia mengatakan sudah cukup banyak dibantu berupa peralatan dan fasilitas pendukungoleh BI Papua, di antaranya traktor, selang, pembagunan kolam, sumur bor, mesin sprankel, dan bantuan lainnya.

“Jika diuangkan itu bisa lebih Rp1 Miliar,” katanya.

Ia mengaku memiliki lima orang anggota kelompok dan tak ada yang Orang Asli Papua. Anggotanya berasal dari Makassar, Madura, dan Jawa dengan mengolah lahan untuk bertani bawah merah.

“Sebab mereka (Orang Asli Papua) mggak mau dan nggak bisa tanam bawang, namun mereka ketika panen tetap diikutsertakan agar ada motivasi belajar mereka untuk bertani bawang,” katanya.

Saat ini harga jual bawang merah dari ladang kelompok ini Rp45 ribu per kilogram.

Manajer Fungsi Pelaksana Pengemangan UMKM Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Galih Utomo mengatakan “Pasar Tani” yang sebelumnya disebut “Pasar Murah” digelar di halaman kantor Perwakilan BI Papua di Jayapura selama dua hari, Kamis-Jumat, 27-29 Juni 2019.

“Ke depan kami akan menggelar Pasar Tani ini tiap minggu kedua setiap bulan, untuk tempatnya akan kami evaluasi apakah perlu dipindahkan atau tetap di halaman BI Papua,” katanya.

Ia berharap masyarakat Jayapura bisa mendapatkan komoditas utama dengan harga murah di Pasar Tani tersebut.

Galih menyarankan agar ibu rumah tangga yang ingin berbelanja bahan pokok murah bisa mengatur waktunya pada minggu kedua pada hari Kamis dan Jumat setiap bulan tersebut.

Ia memastikan harga komoditas sayuran dan lainnya dijual dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar.

“Harga yang murah tersebut mungkin karena BI Perwakilan Papua langsung mendatangkan petaninya dan merupakan binaan BI Papua, ini upaya memotong mata rantai distribusi sehingga bisa lebih murah,” ujarnya.

Ia juga berencana menjual ayam dan ikan di “Pasar Tani” tersebut bulan berikutnya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top