KNPB: Indonesia terus mencari-cari kesalahan kami

KNPB: Indonesia terus mencari-cari kesalahan kami

tiga terdakwa Sem Asso, Eddo Dogopia, Dan Yanto Arwekion menghadiri sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Timika, Selasa (14/5/2019). -Jubi/Ist

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat atau KNPB, Agust Kossay  mengatakan penggunaan delik keterlibatan dalam perkumpulan yang bermaksud melakukan kejahatan yang dipakai jaksa penuntut umum untuk menuntut tiga aktivis KNPB di Pengadilan Negeri Timika pada Selasa (14/5/2019) menunjukkan ketidakmampuan Indonesia membuktikan kesalahan ketiga aktivis KNPB itu. Kossay   menyatakan Indonesia seperti mencari-cari kesalahan para aktivis KNPB.

Tiga aktivis KNPB yang sedang diadili di Pengadilan Negeri Timika-Yanto Awerkion, Sem Asso, dan Edo Dogopia-lolos dari dakwaan makar. Yanto Awerkion, Sem Asso, dan Edo Dogopia awalnya didakwa melakukan makar untuk memisahan sebagian wilayah negara sebagaimana dimaksud Pasal 106 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) atau mempersiapkan dan memperlancar upaya makar sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 110 ayat (2) KUHP. Kedua pasal itu memiliki ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun.

Akan tetapi, dalam sidang pembacaan tuntutan pada Selasa, jaksa penuntut umum (JPU) hanya menuntut Awerkion, Asso, dan Dogopia dengan tuduhan terlibat dalam perkumpulan yang bermaksud melakukan kejahatan sebagaimana dirumuskan Pasal 169 ayat (1) dan (3) KUHP. Awerkion dituntut hukuman satu tahun penjara, dan Asso dituntut hukuman sepuluh bulan penjara. Sementara Dogopia dituntut hukuman delapan bulan penjara.

Kossay menyatakan cara JPU menuntut ketiga aktivis KNPB itu menunjukkan ketidakmampuan Indonesia menangani gerakan masyarakat sipil Papua yang dilakukan secara damai, termasuk aspirasi menuntut hak penentuan nasib sendiri yang selama ini disuarakan KNPB dan para aktivisnya. JPU gagal membuktikan Awerkion, Asso, dan Dogopia telah melakukan makar, dan akhirnya mencari-cari celah untuk menuntut ketiganya dihukum.

“Sudah tidak ada alasan lagi (untuk menghukum ketiga aktivis KNPB), jadi (JPU) berusaha terus mencari pasal untuk menyalahkan kami. Akan tetapi Indonesia (harus) ingat, kami akan terus melakukan perlawanan,”ungkap dia kepada jurnalis Jubi di Jayapura, Rabu (15/05/2019).

Kossay menyatakan seharusnya pemerintah Indonesia mencari akar persoalan Papua. “Mengapa kami lawan? (Seharusnya) pertanyaan itu yang (dicarikan jawabannya oleh) Indonesia. Bukan terus kriminalisasi kami. (Kriminalisasi terhadap kami) tidak mungkin menghentikan perjuangan kami,”tegasnya.

Veronica Koman selaku salah satu kuasa hukum ketiga terdakwa menyatakan JPU memilih delik keterlibatan dalam perkumpulan yang bermaksud melakukan kejahatan karena gagal membuktikan tuduhan makar terhadap Awerkion, Asso, dan Dogopia. “Karena memang terbukti dari fakta persidangan, keterangan para terdakwa dan para saksi (menunjukkan) tidak ada upaya makar yang dilakukan,”ungkap Veronica.

Meski ketiga kliennya telah lolos dari dakwaan makar, Veronica menyebut tuntutan JPU kepada Awerkion, Asso, dan Dogopia itu membuktikan adanya persoalan serius dalam pelaksanaan kebebasan berkumpul dan hak menyatakan pendapat rakyat Papua. “KNPB sebagai organisasi damai dituduh JPU sebagai perkumpulan yang bermaksud melakukan kejahatan. Oleh karenanya, penasihat hukum akan menyampaikan pembelaan pada 17 Mei 2019,”ungkap Koman. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)