HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Komunitas Bougainville dari luar negeri siap ikut referendum

Orang-orang Bougainville di Australia mendaftar referendum di Brisbane. – SBS News/Stefan Armbruster

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Brisbane, Jubi – Pasifik mungkin akan memiliki negara tetangga yang baru ketika wilayah otonom Papua Nugini, Bougainville, melaksanakan referendum akhir tahun ini. Referendum ini terjadi tiga dekade setelah perang berdarah di pulau itu di mulai, yang merenggut ribuan nyawa dan mendorong banyak orang lainnya untuk melarikan diri ke luar negeri.

Referendum itu, saat ini dijadwalkan akan diadakan Oktober mendatang, akan bertanya kepada orang-orang Bougainville, apakah mereka memilih untuk memiliki otonomi yang lebih besar dari PNG atau kemerdekaan secara penuh.

Suara yang mendominasi di antara ratusan orang Bougainville yang tinggal di Australia tampaknya memilih ‘ya’, untuk mengubah wilayah otonomi mereka yang berpenduduk lebih dari 300.000 orang, menjadi bangsa sendiri.

“Saya adalah orang pertama yang mendaftar di sini, di Brisbane, dan saya sangat bersemangat, saya tidak sabar untuk memilih kemerdekaan Bougainville, jadi saya siap,” kata Junior Novera, yang kehilangan keluarganya saat era ‘the crisis’. Novera sekarang adalah seorang intelektual di bidang lingkungan hidup yang sedang menempuh studi PhD di Brisbane.

Loading...
;

Bougainville gagal saat mencoba menyatakan kedaulatannya untuk pertama kali pada September 1975, tepat sebelum kemerdekaan PNG dari Australia.

“Kita memang berbeda, saya pikir kita selalu merasa bahwa kita seharusnya menjadi bagian dari Kepulauan Solomon dan mereka menentukan garis batas di tempat yang salah,” kata seorang guru, Martha Karol, yang melarikan diri ke luar negeri di 1990 ketika ia baru berusia 16 tahun dan pemerkosaan digunakan sebagai senjata dalam perang itu.

Di Australia, selama satu minggu terakhir, pendaftaran untuk memilih dalam referendum itu telah dibuka, meski hanya di Kantor Konsulat PNG di Brisbane dan Cairns, orang-orang datang dari seluruh negeri untuk mendaftar.

“Banyak orang yang mungkin tidak bisa ikut memilih, sangat memprihatinkan,” kata Karol.

Namun Augusta Tagui, seorang mahasiswa di Brisbane yang terlalu muda untuk mengingat perang di Bougainville, berkata ia siap membantu membangun negara yang baru. “Saya ingin kembali dan berkontribusi. Saya hanya ada di sini demi pendidikan dan pengalaman, setelah itu saya akan kembali untuk membangun tanah air saya.”

Hasil referendum itu tidak mengikat secara hukum dan masih harus disahkan oleh parlemen PNG. Jika Bougainville memilih untuk merdeka tetapi parlemen PNG menolak hasil ini, ada kekhawatiran mengenai apa yang akan terjadi.

“Kembali berperang, pertumpahan darah, akan menjadi yang lebih buruk,” tutur Novera. “Setelah melihat apa yang terjadi di akhir tahun 80-an dan 90-an, kesengsaraan dan kematian, semoga kita tidak akan kembali berperang,” katanya. (SBS News)


Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)