Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Komunitas Jaga Bawah Laut bersihkan Pantai Holtekam

Komunitas Jaga Bawah Laut foto bersama usai membersihkan Pantai  Holtekam, Sabtu (29/9/2019) – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Jaga Bawah Laut Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Cenderawasih (Uncen) melakukan aksi bersih-bersih Pantai Holtekam, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Sabtu, 29 September 2019.

Aksi ini dlakukan sebagai bentuk kepedulian komunitas atas kebersihan laut di sekitar kawasan Teluk Youtefa.

Dosen pada Fakultas MIPA Uncen, Efray Wanimbo, kepada Jubi di Jayapura, Senin, 30 September 2019, mengatakan dewasa ini isu pencemaran sampah plastik dan botol menjadi isu yang sangat sensitif (seksi), dan mendapatkan perhatian dari berbagai komunitas, baik komunitas internasional, maupun pemerintah dalam negeri.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, melarang penggunaan kantong berbahan plastik, untuk menurunkan nilai estetika lingkungan, baik darat, maupun pesisir laut, menurunkan zat hara dalam tanah, merusak sistem kerja organ dan metabolisme biota laut, serta berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

Loading...
;

Salah satu dampak negatif masuknya sampah berbahan plastik ke dalam perairan adalah sampah plastik (makro) hancur menjadi mikroplastik.

“Sampah mikroplastik menjadi bahan yang beracun bila dimakan oleh biota laut seperti ikan (mengganggu sistem kerja organ terutama hati), ikan ditangkap oleh manusia dan dimakan, akhirnya sampah mikroplastik akan terakumulasi dalam tubuh manusia,” kata Wanimbo.

Dia menyitir Halden (2010), yang menyebutkan, bahwa apabila bahan plastik masuk ke dalam tubuh manusia melalui proses rantai makanan dengan memakan ikan, maka kesehatan akan terganggu, terutama pada ibu hamil dan anak-anak.

“Satu hal yang harus dimengerti bersama, bahwa sampah plastik dan botol sangat sulit terdegradasi atau terurai dengan cepat di alam (terdekomposisi) oleh bakteri. Oleh karena itu, kewajiban kita bersama untuk tetap menjaga lingkungan bersih,” tutur Wanimbo.

Dia mengatakan Komunitas Jaga Bawah Laut akan berperan penting dalam menjaga wilayah pesisir dan laut agar bebas dari sampah. Tujuan yang ingin digapai adalah mahasiswa tidak hanya aktif dalam perkuliahan (mengejar teori) dan mengikuti organisasi kampus, tetapi juga dapat mengaplikasikan ilmu yang diterima dan berdampak bagi masyarakat.

“Aksi awal dari Komunitas Jaga Laut ini adalah membersihan sampah plastik dan botol di sepanjang pesisir Pantai Holtekam dekat jembatan merah Teluk Youtefa hingga finish di ujung serpihan kapal rusak (± 3 km),” ujarnya.

Dalam aksi itu pihaknya menemukan beragam sampah.

“Sampah yang ditemukan sangat beragam, mulai dari perabot rumah tangga, kantong plastik (kresek), kaleng minuman soda, botol plastik hingga botol bir bintang, vodka dan berbagai jenis minuman keras lainnya,” kata Wanimbo.

Selain itu dosen muda Efray Wanimbo mengarahkan mahasiswanya untuk memisahkan sampah plastik, terutama botol berdasarkan sifat kerjanya. Khusus untuk botol plastik (aqua gelas) dipisahkan. Selanjutnya dibawa ke Jurusan Kimia untuk diubah menjadi bensin (premiun maupun pertalite).

“Jurusan Kimia Fakultas Matematika memiliki satu pabrik yang dapat mengolah sampah botol plastik menjadi bensin, blokpavin, maupun aspal,” katanya.

Kepala Kampung Enggros, Orgenes Meraudje, mengatakan masyarakat sangat resah dengan banyaknya sampah yang mencemari perairan Teluk Youtefa. Kawasan Teluk Youtefa merupakan tempat mencari makanan bagi nelayan.

Di lokasi ini terdapat tempat wisata yang dikelola pihaknya. Namun, sampah yang bertumpukan mengakibatkan spot wisata mangrove dan pantai di pesisir Youtefa nyaris sepi.

“Melihat realita ini mahasiswa yang tergabung di dalam Komunitas Jaga Bawah Laut melakukan aksi bersih pantai dengan mengumpulkan sampah,” ujar Meraudje.

Meraudje berharap agar kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan, sehingga tidak membuang sampah di sembarang tempat, terutama kawasan pesisir dan laut Teluk Youtefa.

“Kalau buang sampah sembarang begitu bagaimana pantai mau indah dan ramai dikunjungi tamu? Terus kalau buang sampah ke laut nanti ke depan anak cucu bisa makan ikan ka?  (Oleh karena itu), kita harus jaga laut agar tetap bersih dari sampah,” katanya. (*)

Editor : Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top