Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kopi, Youtadi, dan harapan distrik-distrik terjauh Paniai (Bagian 1)

Suasana pelatihan budidaya kopi Arabika di Distrik Youtadi, Rabu (16/10/2019) – Jubi/Yumai

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Enarotali, Jubi – Distrik-distrik ini hanya bisa dijangkau lewat transportasi udara dengan hitungan menit atau berjalan kaki dalam hitungan hari. Keduanya tak jadi penghalang berarti untuk membangkitkan kembali, sekaligus mendistribusikan pengetahuan baru, budidaya kopi Arabika di Kabupaten Paniai.

Distrik Youtadi punya pohon-pohon kopi Arabika yang ditanam generasi orang-orang tua paruh awal 1970-an. Yang terbanyak ada di kampung Youtadi 2 dan Yumawo, sekitar 300-500 pohon. Semuanya tumbuh liar tak terawat, dengan dompolan-dompolan biji hijau dan merah yang besar dan banyak sekali. Tak pernah dipetik, apalagi diolah dan dijual.

Masyarakat saat ini tak lagi tahu bagaimana menanam, merawat, dan mengolah kopi.

“Jumlah sekitar 500an itu baru perkiraan, karena kami selama ini tidak pernah perhatikan dan tidak tahu mau dibikin bagaimana,” ungkap Kepala Kampung Yumaiwo, Philipus Yumai, saat bertemu Jubi di Enarotali, Sabtu (19/10/2019), usai pelatihan budidaya kopi Arabika di Distrik Youtadi, Rabu (16/10) lalu.

Loading...
;

Yumai dan tim pelatihan baru tiba di Enarotali setelah dua hari berjalan kaki dari Youtadi.

Sambil menunjukkan foto-foto dan video pelatihan, Yumai mengungkapkan kegiatan yang difasilitasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) – Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) dan dipandu Master Trainer nasional kopi Arabika dari Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) itu telah memberi harapan baru bagi pengembangkan ekonomi masyarakat asli Papua di Youtadi.

“Kami di Youtadi ini ada tiga suku hidup sama-sama: Mee, Wolani, dan Moni. Di tempat ini bisa tumbuh apa saja dalam waktu cepat. Kopi tumbuh subur di sini, dan sekarang jadi tahu manfaatnya untuk masyarakat di sini,” ujar Yumai, yang jadi kepala kampung saat masih berusia 19 tahun, setamat SMK.

Laki-laki muda 20-an tahun ini dengan bersemangat menjelaskan jalannya forum pelatihan dan pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat. Semua perwakilan masyarakat dari dari lima kampung di Youtadi hadir, termasuk wakil dari ketiga suku yang ada.

“Hampir 100 orang hadir, perempuan dan laki-laki. Mereka heran karena ternyata kulit kopi pun bisa diolah dan diminum jadi teh,” ungkapnya sambil tertawa.

Masyarakat bertanya macam-macam hal kepada fasilitator forum, mulai dari cara menanam sampai pengolahan. Budidaya kopi Arabika menjadi satu pengetahuan baru yang disambut sangat baik.

Selama ini, lanjut Yumai, belum pernah ada program dari pihak manapun yang menyentuh soal kopi.

Distrik subur ini butuh jalan

Youtadi adalah daerah yang subur dipenuhi bahan makanan yang mereka tanam dan konsumsi sendiri. Semua tanaman pangan tumbuh lebih cepat dan besar di tempat itu. Hasil yang melimpah ini bisa memberi makan banyak orang dan tempat.

Namun semua itu tak bisa dibawa keluar untuk dijual karena jalan terjal tak memungkinkan. Karena itu masyarakat sangat berharap pemerintah bisa membuat jalan yang baik ke Youtadi.

“Kami sangat berharap pemerintah menggerakkan dozer untuk buka jalan ke sini, agar kami bisa bagi hasil kebun berkat kesuburan di distrik kami untuk masyarakat lain,” ujar Yumai.

Hanok Herison Pigai, Master Trainer nasional kopi Arabika dari YAPKEMA, juga menunjukkan rasa takjubnya pada kesuburan Youtadi.

“Bagi orang-orang yang paham kopi, daerah ini bagai surga. Buah kopi Arabikanya besar-besar dan dompolannya juga penuh dan banyak. Itu dari pohon kopi yang tumbuh liar, apalagi jika dirawat, bisa lebih dari dua kilogram per pohon,” ujarnya dengan rasa heran.

Menurut Pigai, produktivitas pohon kopi Arabika yang tergolong super bisa menghasilkan biji hijau (green bean) satu hingga dua kilogram per pohon. Oleh karena itu potensi keberhasilan budidaya kopi Arabika di Youtadi sangat menjanjikan. Hal serupa berlaku untuk tanaman pangan lainnya.

Terkait kebutuhan transportasi jalan, Pigai juga memaparkan bahwa hal itu tak saja mendesak sekaligus juga membuktikan komitmen Kabupaten Paniai terhadap warganya di distrik-distrik terjauh, khususnya Youtadi yang berbatasan langsung dengan Intan Jaya.

“Dari ibukota distrik ke arah seberang gunung kita bisa lihat Intan Jaya dan lalu lalang kendaraan karena jalan sudah ada. Memang untuk ke sana masyarakat harus turun jauh ke bawah yang curam dan menyeberang sungai Degewo yang besar dan deras,” ungkapnya.

Pigai mengakui pembukaan jalan ke distrik-distrik semacam Youtadi juga sekaligus membawa permasalahan dan tantangan baru bagi kehidupan masyarakat asli.

“Namun, semua itu memang harus dihadapi, dan saya percaya masyarakat asli di Youtadi sanggup mengelola tantangan baru itu. Buktinya, mereka tegas menolak dan melarang penambangan emas di aliran Sungai Degewo di kawasan Youtadi karena akan merusak kehidupan masyarakat di tempat itu,” kata Pigai.

Kepala Distrik Youtadi, Yunus Kobepa, dalam sebuah video wawancara yang diterima Jubi juga menekankan pentingnya akses jalan ke dan dari daerah itu. Menurut Kobepa, Youtadi adalah kawasan yang sangat cocok untuk pertanian dan perkebunan.

“Kopi nanti akan jadi contoh baik. Saya yakin masyarakat akan kerja. Untuk itu pemerintah harus perhatikan akses jalan. Karena hasil tanah kami ini mampu membantu masyarakat di kabupaten-kabupaten terdekat,” ujarnya.

Tim pelatihan budidaya kopi arabika Kabupaten Paniai tiba di Distrik Youtadi, Selasa (15/10/2019), dengan mencarter pesawat terbang. Mereka tiba di lokasi, sesaat setelah rombongan Bupati Paniai juga tiba untuk meninjau situasi pendidikan dan kesehatan dan program budidaya kopi Arabika di tempat itu.

Karena tidak ada penerbangan hingga seminggu ke depan, tim memutuskan berjalan kaki selama dua hari menuju Agadide lalu ke Enarotali. (*)

Editor: Angela Flassy

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top