Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kopi, Youtadi, dan harapan distrik-distrik terjauh Paniai (Bagian 2 – Tamat)

Warga Bayabiru sedang membentangkan paranet yang akan dopotong-potong untuk rumah pembibitan kopi arabika di distrik mereka. – Jubi/Zely

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Enarotali, Jubi – Distrik-distrik ini hanya bisa dijangkau lewat transportasi udara dalam hitungan menit, atau berjalan kaki dengan hitungan hari. Keduanya tak jadi penghalang berarti untuk membangkitkan kembali sekaligus mendistribusikan pengetahuan budidaya kopi arabika yang baru di Kabupaten Paniai.

Bayabiru

Distrik Youtadi dan Bayabiru sama-sama terletak di tepi Sungai Degewo yang mengalir emas. Namun, tak seperti Youtadi yang mengabaikan emasnya, Bayabiru justru hidup menjadi distrik emas.

Helikopter mendarat 4-5 kali sehari membawa orang maupun barang yang berkaitan langsung dengan aktivitas pertambangan emas di daerah itu. Distrik ini memang terbentuk karena emas Degewo.

Loading...
;

Lebih dari 1000 orang pendatang non Papua datang dan tinggal di ibukota distrik, mendominasi aktivitas perdagangan dan penambangan emas.

Cafe-cafe kecil tempat hiburan para penambang bersusun. Kios-kios makanan minuman tertata baik,  bahkan tergolong “mewah” untuk ukuran distrik, melebihi ibukota kabupaten. Harga-harga barang pun tak kalah “mewah”. Sebotol air mineral kemasan dipatok dengan harga 50 ribu, sementara bensin 100 ribu/per liter. Distrik emas yang mahal.

Jubi mendapat akses melihat situasi Bayabiru dari video-video dokumentasi perjalanan tim pelatihan budidaya kopi arabika yang difasilitasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) – Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) dan dipandu Master Trainer nasional kopi arabika dari Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA).

Distrik emas ini terdiri dari 11  kampung. Sekitar 50 orang wakil dari kampung berkumpul untuk mengikuti pelatihan budidaya kopi arabika, 3 Oktober 2019 lalu.

Sebastian Pigome, Asisten Teknis P3MD dalam pembukaan pelatihan menyebutkan emas bukan satu-satunya sumber mata pencarian di distrik itu. Budidaya kopi arabika bisa menjadi alternatif yang jauh lebih ringan dan berkelanjutan.

“Disini kan sumber emas, sumber uang, tidak mungkin orang tolak, pasti laku. Kopi juga sama.  Kalau emas dalam tanah kita bekerja banting tulang, tapi dengan kopi ini awal-awal saja kita banting tulang dari tanam sampai berbuah,” ujar Pigome.

Setelah itu, lanjutnya, pohon bisa bertahan puluhan tahun, “ini mata pencarian berkelanjutan, kalau pohon sudah tua bisa dimudakan kembali, caranya kita belajar disini”.

Meki Mumakapa, tokoh pemuda setempat membenarkan terkait potensi emas yang perlahan-lahan berkurang dan habis di aliran Degewo.

“Dulu tahun 2001 itu memang Kali Degewo ini emas banyak tapi sekarang emas ini hilang, mulai habis,” ujarnya.

Mumakapa mengatakan, jika pengetahuan budidaya kopi ini bisa benar-benar dipraktekkan masyarakat, dia yakin kopi arabika bisa menggantikan emas di masa depan. “Jadi memang kopi itu nanti bisa jadi kayak emas, dan saya rencana itu nanti mau tanam kopi,” ujarnya.

Selain membagikan pengetahuan terkait budidaya kopi di dalam ruangan, tim pelatihan juga melakukan praktek menanam dan pembibitan di lokasi contoh. Para peserta pelatihan dan masyarakat  berkumpul menyaksikan praktek tersebut dengan antusias.

Pesona kopi mungkin tak segera bisa menggantikan kilauan emas di Bayabiru. Namun masyarakat semakin sadar potensi emas cepat atau lambat akan habis, sementara kopi tidak akan pernah habis.

Seorang petani kopi arabika di Kampung Danggipa Dumadama meperlihatkan pohon kopinya yang ditanam tahun 2017. – Jubi/Zely

Dumadama

Distrik Dumadama hampir serupa distrik  terbengkalai. Diantara empat distrik terjauh Kabupaten Paniai, Dumadama lah yang kondisinya paling memprihatinkan.

Distrik ini terdiri dari lima kampung yang berjauhan. Jalur transportasi udara ke dan dari Paniai lebih sulit dibanding transportasi ke Kabupaten Mimika. Dumadama memang lebih dekat secara sosial ekonomi dengan Timika.

Pada tahun 2017 lalu, atas inisiatif sekretaris Kampung Danggipa, Dumadama sudah mulai melakukan penanaman kopi arabika sekitar 300-500 pohon. Tak semua areal di Dumadama cocok untuk pertumbuhan kopi, namun di areal lereng-lereng pegunungan kopi tumbuh subur bahkan ada yang mulai berbuah.

Tim pelatihan budidaya kopi arabika melakukan pelatihan di Danggipa pada 10 Oktober 2019. Hampir 100 orang peserta, perwakilan dari lima kampung, hadir di gereja Kingmi setempat untuk mengikuti materi.

Anton Dimbaw, mahasiswa dan pemuda setempat mengatakan selama ini Dumadama telah keluarkan anggaran desa yang jumlahnya milyaran, tapi tak terasa ada hasilnya.

“Seperti begitu tetapi (kami) tidak pernah berkembang dan tidak pernah membangun. Melalui program ini kami diajak tanam kopi dan dapat keuntungan. Kami orang Dumadama kenapa tidak bisa, orang lain jadi bisa, supaya kami juga jadi berhasil dari tanam kopi untuk generasi ke depan,” ungkap Dimbaw.

Di tempat yang sama Marten Hanau, salah seorang gembala gereja juga menyampaikan keinginannya agar masyarakat Dumadama dapat mandiri dengan kopi.

“Kopi ini sangat penting, karena daerah-daerah lain ini mereka sudah coba olah sendiri, menikmati sendiri. Baru kita kopi itu beli di Enarotali atau tempat-tempat lain, jadi kami punya uang rugi saja, makanya sekarang kita lagi tanam sendiri, olah sendiri, minum sendiri. Itu yang betul. Kami juga ingin seperti tempat lain yang berhasil,” ujarnya.

Banyak persoalan masih menanti diselesaikan agar program budidaya kopi arabika di distrik-distrik terjauh Paniai ini bisa berhasil. Namun langkah awal telah dimulai dan sambutan masyarakat sangat menjanjikan.(*)

Editor: Zely Ariane

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top