HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Korban banjir Sentani: Penguburan massal bukan solusi, tapi tes DNA

Tim Gabungan Basarnas, TNI/Polri dan para relawan saat melakukan pencaharian terhadap korban yang dinyatakan hilang di beberapa lokasi – Jubi/Kris Galuwo.

Jayapura, Jubi – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Papua masih terus berupaya melakukan identifikasi terhadap seluruh jenazah yang masuk di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara.

Menurut pihak RS, hal tersebut untuk meminimalisir terjadinya penguburan massal yang telah diwacanakan oleh Pemerintah Provinsi Papua melalui Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal.

“Kami akan terus berupaya agar tidak terjadi pekuburan massal, karena itu akan mengakibatkan banyak persoalan, termasuk santunan dan hak waris bagi keluarga korban yang ditinggalkan,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Papua, Kombes Pol. dr. Ramon Aminam menjawab pertanyaan Jubi, Kamis (21/3/2019) di RS Bhayangkara, Jayapura.

Kata dr. Ramon, pekuburan massal bukan solusi terakhir, tetapi DNA lah yang menjadi solusi terakhir terhadap jenazah yang saat ini masih dicari maupun yang sudah berada di pihaknya.

“Tapi kalau pemerintah mendesaknya maka kami akan menyerahkan jenazah-jenazah tersebut. Namun kalau ada persoalan di kemudian hari maka kami tidak bertanggugjawab. Pemprov yang harus bertanggungjawab soal itu,” ujarnya.

Loading...
;

Dikatakan, dirinya sudah berkoordinasi dengan pihak forensik yang melakukan identifikasi terhadap jenazah. Apabila Pemprov masih ingin melakukan penguburan massal, maka pihaknya hanya akan melakukan pemeriksaan metode primer yaitu sidik jari dan gigi.

“Untuk pemeriksaan DNA tidak akan kami lakukan. Ini sudah kesepakatan kami. Untuk itu, kami meminta kepada pihak Pemprov untuk tidak buru-buru melakukan hal tersebut mengingat kondisi jenazah masih bisa dilakukan identifikasi menggunakan tes DNA,” katanya.

Kasus (identifikasi korban bencana Tsunami dan Likuifraksi) di Palu menurut dr. Ramon sangat berbeda dengan kasus banjir bandang di Sentani. Dalam artian, di Palu kondisi jenazah yang cukup banyak. Tidak diimbangi dengan ketersediaan peralatan dan SDM sehingga aroma jenazah-jenazah tersebut sangat mengganggu proses evakuasi dan identifikasi.

“Di sini kan tidak. Sama sekali tidak meengganggu karena fasilitas dan SDM kita mumpuni. Jadi sampai kapanpun jenazah tersebut bisa disimpan untuk dilakukan identiikasi,” ujarnya.

Syarat dari sebuah identifikasi sesuai dengan prosedur DVI Mabes Polri bahwa semua metode harus terpenuhi. Baik itu metode primer maupun sekunder, hingga batas akhir masa tanggap darurat yang ditetapkan oleh pemerintah daerah atapun pemerintah pusat.

“Jadi, kami akan terus melakukan identifikasi sesuai prosedur yang ada,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara AKBP, dr. Hery mengatakan penguburan massal bisa dilakukan kalau tim DVI tidak berhasil mengidentifikasi.

“Kami berupaya semaksimal mungkin. karena idenifikasi ini membawa banyak kepentingan dari jenazah tersebut misalnya santunan, asuransi, hak waris dan sebagainya,” ujarnya.

Dikatakan, ada banya keluarga korban yang tidak menginginkan penguburan massal tersebut. Untuk itu, pemerintah harus menghargai apa yang menjadi keinginan dari pihak keluarga korban. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top