Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Korban dijadikan tersangka, John NR Gobai: Ini tidak adil

Beberapa korban tragedi Deiyai yang dirawat di RSUD Paniai – Jubi/Ist

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Unjuk rasa yang berujuk pada tragedi  Deiyai Berdarah pada 21 Agustus 2018 telah mengorbankan masyarakat sipil sebanyak delapan orang meninggal dunia. 31 orang luka-luka dan satu orang TNI meninggal dunia dan enam orang anggota Polri terluka.

Dari kasus ini ada yang aneh, bagaimana tidak. Sudah korban namun Kepolisian Resort [Polres] Paniai masih jadikan tersangka.

John NR Gobai, anggota DPR Papua mengatakan, dirinya mendapatkan informasi bahwa 10 orang ditetapkan sebagai tersangka walaupun telah menjadi korban, meski 10 pucuk senjata milik aparat yang sempat dirampas telah dikembalikan.

“Kini 10 orang masyarakat ditetapkan sebagai tersangka, pertanyaannya apakah aparat yang menembak rakyat juga diperiksa dan dapat dijadikan calon tersangka? Jika tidak, maka ini tidak adil!,” ujar John NR gobai kepada Jubi di Jayapura, Selasa, [10/9/2019].

Ia menambahkan, setelah kejadian itu aparat keamanan mengirim pasukan tambahan dari Timika dan Nabire menggunakan pesawat udara. Selain itu ada juga yang dikirim menggunakan truk dan angkutan menuju Deiyai.

Loading...
;

Ia melihat masyarakat Deiyai yang adalah korban kekerasan. Mereka sebagai orang Papua juga telah menjadi korban rasisme.

“Anehnya sekarang di antara mereka ada 10 orang ditetapkan sebagai tersangka, ini yang saya sebut orang Deiyai dan Meepago serta Papua ini, sudah jatuh, tertimpa tangga diinjak lagi,” kata dia.

Ia meminta aparat di Deiyai yang berlebihan jumlahnya itu segera tarik dari Deiyai, jangan terus membuat situasi mencekam di Deiyai dan Pemerintah dan TNI/ POLRI segera pulihkan kondisi daerah itu.

“Hentikan proses hukum bagi 10 orang Deiyai dan masyarakat Papua di daerah lainnya seperti Timika dan Jayapura,” ujarnya.

Anggota DPRD Deiyai, Alfred Pakage mengatakan, dirinya juga dimintai keterangan dari Polres Paniai. Karena ketika peristiwa itu terjadi ia berteriak “Jangan bunuh saya punya masyarakat” bahkan melarang aparat keamanan melakukan penembakan.

“Saat kejadian itu saya ada di tempat kejadian, semuanya terjadi depan saya. Saya sendiri saksikan. Aparat gabungan memang tidak pakai istilah ‘manusiawi’. Jadi karena saya juga ada di tempat kejadian beberapa hari lalu saya dipanggil Polres untuk minta keterangan sebagai saksi,” kata dia.

Jubi telah berupaya mengkonfirmasi pihak Polres Paniai, untuk meminta keterangan lebih jauh. Namun  hingga berita ini dinaikkan, Kapolres Paniai, AKBP Abdullah Wakhid Prio Utomo yang dihubungi via Telepon, SMS dan pesan WhatsApp, belum memberi respons(*)

Editor: Syam Terrajana

 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top