Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Korindo dinyatakan bersalah atas perusakan hutan dan pelanggaran HAM di Papua

Alat berat digunakan untuk menumpuk pohon-pohon yang sudah ditebang dan kemudian dibakar oleh perkebunan Korindo, PT Papua Agro Lestari – Jubi/Mighty Earth

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Produsen minyak sawit raksasa Korindo dinyatakan bersalah atas tuduhan perusakan hutan hujan dan pelanggaran HAM oleh Forest Stewardship Council (FSC).

Konsil itu menemukan bahwa Korindo telah melanggar standar organisasi dan menganjurkan langkah-langkah dan remediasi untuk menghindari disasosiasi.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima Jubi, Kamis (25/7/2019), investigasi terhadap Korindo telah  berlangsung selama dua tahun atas pengaduan yang diajukan oleh Mighty Earth, Board of International Directors dari Forest Stewardship Council (FSC).

FSC sendiri adalah sebuah badan sertifikasi global yang memastikan pengelolaan hutan secara bertanggung jawab. Konsil ini akhirnya menindaklanjuti kasus Korindo Group yang telah lama tertunda.

Rabu (24/7/2019) FSC menyimpulkan bahwa Korindo telah melanggar ‘Policy for Association’ (Pfa) dan memberlakukan serangkaian tindakan untuk mengatasi kerusakan parah yang disebabkan oleh perusahaan tersebut.

Loading...
;

Karena pelanggaran ini, FSC mengancam akan memutuskan hubungan (diasosiasi) dengan Korindo dan mencabut semua sertifikasinya. FSC juga mewajibkan Korindo menghentikan semua aksi konversi hutan dan deforestasinya, untuk mendapatkan sertifikasi FSC dalam semua aktivitas kehutanan perusahaan dan mematuhi prinsip FPIC [Free Prior and Informed Consent].

Selain itu, Korindo diharuskan untuk mengevaluasi semua dampak negatif dan memulihkan lahan yang telah mereka rusak.

Berdasarkan rilis tersebut, Deborah Lapidus, Senior Campaigns Director untuk Mighty Earth, berharap Korindo segera mengakhiri praktik penyalahgunaan hak-hak masyarakat setempat dan penghancuran wilayah hutan hujan.

“Meskipun demikian, keberhasilan atau kegagalan langkah ini tergantung pada komitmen yang dibuat oleh Korindo untuk memulihkan dampak kerusakan pada masyarakat, hutan, dan ekosistem di Papua dan Maluku Utara. Persyaratan remediasi juga harus ditentukan setelah melakukan dialog dengan masyarakat sekitar yang terkena dampak, dan tidak ditetapkan secara sepihak oleh Korindo yang pastinya berupaya untuk meminimalisasi tanggung jawabnya,” papar Lapidus.

Melalui investigasinya, FSC telah memverifikasi bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Mighty Earth dan menyatakan bahwa Korindo bersalah sebagaimana dituduhkan. Dengan melakukan deforestasi berskala besar terhadap lebih dari 30.000 hektar selama dua tahun sebelum pengaduan diajukan, Korindo disebutkan telah menghancurkan habitat satwa liar dan melanggar hak-hak tradisional dan hak asasi manusia, Korindo telah melanggar standar FSC dan berpotensi untuk merusak nama baik FSC.

Untuk menanggapi pelanggaran ini, FSC harus memastikan Korindo bertanggung jawab penuh atas perilaku buruknya.

Namun, Mighty Earth menyayangkan FSC yang memilih untuk tidak merilis temuan lengkap dari ketiga investigasi tersebut.

“Padahal penting bagi masyarakat dan pemangku kepentingan yang terkena dampak untuk membaca sendiri hasil temuan tersebut sebelum Korindo mampu memutarbalikkan fakta,” tulis Alex Armstrong dari Mighty Earth.

Pernyataan FSC, menurut Mighty Earth, juga tidak menyoroti seberapa parah pelanggaran yang dilakukan Korindo serta menyalahartikan temuan Panel mengenai kebakaran hutan yang dilakukan perusahaan tersebut.

“Kami meminta FSC merilis laporan mereka secara lengkap dan tanpa bias agar semua pihak dapat menilai keefektifan tindakan remediasi yang dilaksanakan oleh Korindo,” tulis Armstrong.

Mighty Earth juga menyerukan kepada Korindo untuk mengembalikan tanah adat, menyelesaikan isu sosial dan menanggapi keluhan, memberikan kompensasi yang adil kepada masyarakat setempat atas hilangnya lahan, sumber daya alam, dan mata pencaharian mereka, serta memulihkan ekosistem yang rusak. Jumlah biaya yang wajib dikeluarkan Korindo dalam memulihkan suatu kawasan harus setara dengan kerusakan yang telah mereka lakukan selama dua dekade terakhir.

“Jika Korindo mampu memenuhi tanggung jawab mereka dan mengeluarkan ganti rugi sebesar ratusan juta dolar, maka tindakan FSC hari ini akan menjadi preseden yang kuat. Pengumuman yang dibuat FSC hari ini juga merupakan imbauan bagi sejumlah perusahaan lain, seperti Posco International yang juga beroperasi di Papua, untuk menghentikan dan menghilangkan praktik deforestasi pada lahan-lahan yang dimiliki masyarakat setempat,” lanjutnya.

Franky Samperante dari Yayasan Pusaka, seperti dikutip dari rilis tersebut mengatakan: “Selama dua dekade, Korindo telah banyak melanggar hak tanah secara diam-diam, sementara mereka bertingkah sebagai penyelamat bagi orang-orang Papua. Karena itu, masyarakat luas harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Papua dan Maluku Utara. FSC memiliki tanggung jawab untuk merilis semua temuannya secara lengkap.”

Pastor Anselmus Amo dari SKP-KAMe Merauke menambahkan bahwa Korindo telah menghancurkan tanah dan mata pencaharian masyarakat, merampas sumber daya alam mereka, melakukan tindak kekerasan dan intimidasi terhadap banyak orang, dan juga mencemari sungai.

“Tak hanya itu, semua ini mereka lakukan sembari merekrut tenaga kerja yang sebagian besar berasal dari luar Indonesia. Korindo juga belum serius melakukan pemberdayaan masyarakat dalam program CSR-nya. Kami berharap FSC mau berkonsultasi langsung dengan masyarakat setempat untuk memahami tindakan buruk Korindo serta pandangan mereka mengenai kompensasi yang adil dan langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan. Kami tentunya siap untuk membantu,” ujarnya.

Korindo Group adalah konglomerat penebangan dan kelapa sawit Korea-Indonesia yang selama ini diduga terlibat dalam deforestasi berskala besar di Papua dan Maluku Utara, Indonesia. Keterlibatan perusahaan ini diungkap dalam laporan berjudul “Burning Paradise” yang disusun oleh Mighty Earth. (*)

Editor: Angel Flassy

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top