HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kuasa hukum: Ada catatan polisi dibalik surat Ronaldo Yawan

Surat yang diduga ditulis korban dan catatan yang diduga laporan kepolisian di balik surat korban – Jubi. Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kuasa hukum keluarga Rolando Yawan, Imanuel Rumayon menyatakan ada catatan yang diduga laporan polisi di balik surat yang disebut ditulis almarhum Ronaldo Yawan (21).

Rolando Yawan diamankan polisi karena dituduh mencuri ternak babi seorang warga di Kota Biak, meski pihak keluarga telah mengganti rugi ternak yang dicuri itu.

Ia ditemukan polisi meninggal dalam sel tahanan Provost Polres Biak Numfor pada 15 Juli 2019 sekitar jam 08.00 Waktu Papua (WP). Ketika ditemukan, leher almarhum terlilit ikat panggang yang diikat pada jeruji besi jendela sel tahanan. Kakinya melayang beberapa jengkal dari lantai sel tahanan. Polisi menyatakan korban gantung diri.

Kata Rumayon, ketika jenazah akan diautopsi di rumah sakit, ditemukan surat di dalam saku celana korban. Namun di balik surat yang disebut ditulis korban untuk keluarganya itu, terdapat catatan merupai laporan polisi.

Loading...
;

“Kertas dan pena yang digunakan korban menulis surat itu berasal dari mana? Di balik kertas tertulis (menyerupai) laporan polisi. Kami tanya ke polisi siapa yang memberikan kertas dan pena, polisi tidak tahu. Kami minta polisi mencari tahu darimana korban mendapatkannya,” kata via teleponnya kepada Jubi, Kamis (18/7/2019).

Menurutnya, korban diamankan di atas kapal yang berlayar dari Pulau Mapia, Kabupaten Biak Numfor ke Kota Biak. Setibanya di pelabuhan Biak, Rolando Yawan diserahkan ke Polres setempat, 14 Juni 2019 jam 15.00 WP.

Saat dibawa ke Polres Biak, polisi tidak memberitahukan pihak keluarga. Keluarga baru mengetahui jika korban berada di Polres ketika mendapat informasi dari kerabat mereka, yang melihat Ronaldo Yawan dibawa polisi dari pelabuhan.

“Sekitar jam 17.00 WP kakaK perempuan korban membawakannya makanan. Keduanya sempat bercerita beberapa jam. Korban sempat meminta kakaknya membawakannya pakaian keesokan harinya,” ujar Rumayon.

Katanya, sekitar jam 21.00 WP, kakak korban lainnya bernama Beti Yawan juga menjenguk korban di Polres Biak, dan sempat menanyakan apakah korban dipukul atau tidak. Korban kemudian menyatakan ia tidak dipukul.

“Pada 15 Juni 2019 sekitar jam 08.00, empat anggota polisi ke rumah orang tua korban mengabari jika pagi itu Ronaldo ditemukan gantung diri menggunakan ikat pinggang,” ucapnya.

Keluarga korban kata Rumayon, tidak yakin korban meninggal gantung diri menggunakan ikat pinggang, sebab selama ini Rolando Yawan hampir tidak pernah mengenakan ikat pinggang. Namun entah bagaimana ikat pinggang yang disebut digunakan korban gantung diri berada dalam sel.

Selain itu, saat akan dibawa dari pelabuhan ke Polres Biak, ada saksi yang melihat Rolando Yawan sempat menarik celananya yang hampir melorot dan ia tidak mengenakan ikat pinggang.

“Keluarga mempertanyakan, apakah benar korban gantung diri atau digantung. Ini yang belum diketahui kejelasannya. Keluarga yakin ikat pinggang itu bukan milik korban. Polisi hanya menyatakan tidak menggeladah korban saat akan dimasukkan ke sel,” ujarnya.

Keluarga korban lanjut Rumayon, melihat langsung jenazah korban. Memang tidak terlihat ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Selain itu lidah korban tidak terjulur dan tak ada kotoran yang keluar dari tubuhnya seperti lazimnya orang gantung diri.

“Hanya satu yang aneh menurut keluarga, mengapa bekas jeratan lilitan ikat pinggang di leher korban hampir tidak nampak bekas,” katanya.

Kepala kantor Komnas HAM pewakilan Papua, Frits Ramandey juga mengatakan surat yang ditemukan di saku celana korban mesti dipastikan apakah benar tulisan tangan korban atau bukan dengan uji forensik.

Ketika melakukan investigasi terkait meninggalnya Ronaldo Yawan di Biak beberapa hari lalu, pihaknya mencoba mencocokkan tulisan di kertas yang ditemukan di saku celana korban dengan beberapa surat yang ditulis korban semasa hidup di rumah orangtuanya.

“Saya mencocokkan beberapa huruf dan jenis tulisannya. Memang ada kemiripan. Tapi harus diuji forensik untuk memastikan. Temuan kami, kertas yang dipakai menulis surat itu, hampir mirip dengan kertas yang ada di meja piket polisi,” kata Frits Ramandey. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)