Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kunjungan “Orangtua” ditolak anak Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya

Kunjungan rombongan Gubernur Papua Lukas Enembe dan Gubernur Jawa TImur Khofifah Indar Parawansa ditolak para mahasiswa penghuni Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya, Selasa (27/8/2019). – Jubi/Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Air mata Mama Papua, Yulce Enembe sudah tidak bisa dibendung lagi. Matanya yang berkaca-kaca itupun mengalirkan air mata kesedihan di kedua pipinya, menghadapi kerasnya hati anak-anaknya, para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya, Selasa (27/8/2019).

Ia berteriak penuh harap. “Anak, ini Mama dengan Bapa yang datang, buka pintu dulu.” Mereka yang ada di dalam asrama tidak menggubris permintaan Yulce Enembe.

Di sudut lain, Gubernur Papua Lukas Enembe tampak lesu. Beberapa menit sebelumnya, Lukas Enembe tersenyum dan tertawa bahagia, mengira dirinya akan segera bertemu para mahasiwa Papua di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya itu. Tapi, para mahasiswa di asrama itu tetap mengurungi diri di dalam “honai” mereka.

Sejak insiden persekusi dan rasisme terhadap mereka terjadi pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu, disusul penangkapan polisi pada 17 Agustus 2019,  para mahasiswa Papua di asrama itu memilih mengurung diri dalam “honai” mereka. Para mahasiswa itu bahkan memasang spanduk di pagar asrama, bertuliskan “Siapapun yang datang, kami tolak”.

Loading...
;

Enembe sebenarnya telah mengetahui kemungkinan kunjungannya akan ditolak para mahasiswa itu, karena ia sudah mendapat laporan bahwa tim yang diutusnya ditolak para mahasiswa. Namun, sebagai “orangtua” para mahasiswa Papua itu, Enembe tetap berusaha menemui para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya itu.

Penolakan itu ternyata berlaku untuk siapa pun, termasuk Gubernur Papua Lukas Enembe yang datang sebagai “orangtua” yang ingin menemui “anak-anaknya”, para mahasiwa Papua itu. Padahal, Enembe datang bersama sejumlah anggota anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat . Selain itu, di dalam rombongan Enembe juga ada anggota Majelis Rakyat Papua dan Majelis Rakyat Papua Barat, lembaga kultural yang memiliki mandat melindungi orang asli Papua.

“Aee, anak-anak, buka pintu, Bapa yang datang ini,” pinta Lukas Enembe. Para mahasiswa di dalam asrama tak menghiraukannya.

Selama beberapa menit  Enembe berdiri, terdiam sambil sesekali merabah kepalanya yang sudah tak berambut lagi. Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua turut membujuk para mahasiswa untuk menerima rombongan mereka. Ajudan Gubernur dan polisi juga mencoba berbicara dengan para mahasiswa. Tapi, semua mendapat penolakan yang sama.

“Baca [spanduk] ini,” seruan itu terdengar dari balik pagar, membuat semua mata terantuk spanduk bertuliskan “Siapapun yang datang, kami tolak” itu lagi. Teriakan keras lain terdengar. “Lepas [lambang] garuda kalau mau masuk,” ucap salah satu mahasiswa dari balik pagar.

Teriakan demi teriakan menolak rombongan Gubernur Papua Lukas Enembe dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa semakin keras terdengar pada Selasa (27/8/2019) petang itu. Pasir terhambur dari dalam pagar asrama, seperti dilemparkan ke arah rombongan kedua gubernur, memaksa mereka mundur dan meninggalkan asrama.

Trauma

Berselang beberapa jam, di salah satu hotel di Surabaya, Gubernur Lukas Enembe didampingi Gubernur Jawa Timur menggelar konferensi pers. Terkait penolakan itu, Lukas mengaku kecewa. Sebelumnya kedatangan, Gubernur sebenarnya telah mengutus tim terlebih dulu yang terdiri dari anggota MRP Papua dan DPRD Papua. Namun, itupun di tolak.

“Bahkan ada mahasiwa di situ [asrama] yang orang tuanya anggota DPR tapi juga ditolak. Sebagai kepala daerah, saya kecewa [menerima] sikap seperti itu,” ujar Enembe.

Kendati demikian, Lukas berjanji untuk bernegosiasi agar dapat bertemu dan berdialog secara langsung. Ia pun meminta agar Gubernur Jawa Timur dan pihak keamanan untuk menjamin keamanan sekitar 60-an mahasiswa Papua yang sedang berada di asrama tersebut.

Sementara itu, Alberth Wanimbo, yang ikut mendampingi rombongan dari unsur kepemudaan, menilai penolakan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk trauma yang belum sembuh. Ia berharap, mahasiwa Papua membuka diri dengan bertemu langsung dan berbicara dari hati ke hati.

“Kami kecewalah. Dampak [trauma] itu berdampak juga kepada kami. Saya berharap adik-adik mahasiswa lebih dewasa menyikapi situasi ini, karena yang trauma bukan cuma dorang tapi juga kami di Papua,” ujar Alberth. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top