Lahan 100 hektare untuk relokasi warga pesisir Danau Sentani

Lahan 100 hektare untuk relokasi warga pesisir Danau Sentani

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, saat memberikan arahan kepada dua pimpinan OPD ketika meninjau lokasi – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengatakan lahan untuk relokasi warga yang mendiami pesisir Danau Sentani sudah disiapkan oleh instansi teknis seluas 100 hektare. Lahan tersebut sudah mendapat persetujuan dan atas kesepakatan bersama masyarakat adat pemilik hak ulayat.

“Ada sejumlah kampung yang berinisiatif pindah ke darat dan kami mengapresiasi keinginan warga untuk mencari tempat yang lebih aman. Infrastruktur pembangunan rumah tinggal sudah pasti akan difasilitasi oleh pemerintah daerah,” ujar Bupati Jayapura, di Sentani, Sabtu (25/5/2019).

Dikatakan, sesuai dengan status Robonghollo yang sudah ditetapkan sebagai bencana permanen maka sangat penting untuk mengambil langkah antisipasi dengan pindah ke tempat yang lebih aman.

“Masyarakat di pesisir danau hanya terkena dampak dari luapan air yang turun dari gunung, dan memenuhi permukaaan danau. Sehingga, dengan status yang ada ini lebih baik mereka di tempat yang lebih aman,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Kadisbunnak) Kabupaten Jayapura, Adolof Yoku, mengatakan ada delapan kampung di wilayah lingkar selatan yang menjadi fokus pemerintah untuk direlokasi ke lahan tersebut.

Menurutnya, lahan yang disiapkan ini cukup luas sehingga ke depannya, warga masyarakat yang pindah ke darat ini dapat dibina menjadi petani kakao.

“Delapan kampung yang akan pindah adalah Kampung Ayapo, Kampung Yokiwa, Kampung Putali, Kampung Abar, Kampung Kameyakha, Kampung Simporo, dan Kampung Dondai,” ungkapnya.

Lanjut Yoku yang juga Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Kabupaten Jayapura, kampung-kampung yang akan direlokasi ini akan dimukimkan dalam satu pemukiman.

Untuk jumlah kepala keluarga (KK) per kampung antara 50 hingga 100 KK, jelas kebiasaan hidup di pesisir akan berdampak ketika mereka berada di darat dengan aktivitas yang baru.

Setiap KK disiapkan lahan 2 hektare untuk memulai usaha mereka di bidang pertanian, selain kakao, umbi-umbian juga dapat ditanam di lahan tersebut.

“Dengan adanya lahan kakao, lambat laun kebiasaan mereka di pesisir akan hilang, walaupun sebagian dari mereka tentunya akan terus mengadu nasib sebagai nelayan tangkap di danau,” tandasnya.

Adolof juga menyinggung soal kondisi warga yang akan direlokasi ini, rumah-rumah mereka terendam dan tinggal dibawah tenda pengungsi dan jauh dari kata sehat. Karena, harus berhadapan dengan sesama pengungsi yang begitu banyak dan padat.

Oleh karenanya, solusi ini adalah jalan terbaik bagi mereka. Sebagai permulaan kehidupan baru dengan mengelola lahan pertanian serta mengikuti perkembangan yang terus berjalan semakin cepat.

“Ada banyak manfaat yang diperoleh dengan berkebun dengan melakukan budidaya tanaman yang secara otomatis mencipatakan udara sejuk dan mengurangi tingkat polusi udara juga bermanfaat untuk perekonomian yang ketika panen nanti bisa mendapatkan pemasukan atau penghasilan bagi ekonomi keluarga. Soal pengembangan dan pemasaran tentu akan dibantu dengan pendampingan tenaga penyuluh yang disiapakan untuk mereka,” pungkasnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)