Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Lanjut pemetaan wilayah adat, George Dedaida: Papua bukan tanah kosong

George Dedaida, Direktur Papuana Conservation di Manokwari, Papua Barat. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Studi pemetaan wilayah adat di provinsi Papua Barat segera berlanjut. Papuana Conservation selaku leader project dalam program ini, selama tiga bulan kedepan, akan memetakan wilayah adat berdasarkan sub-sub suku di tiga kabupaten, yaitu Teluk Bituni, Sorong dan Sorong Selatan.

Direktur Papuana Conservation, George Dedaida, di Manokwari mengatakan, secara umum tanah Papua terdapat tujuh wilayah adat. Dua diantaranya (Domberai dan Bomberai) masuk dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Papua Barat. Pemetaan wilayah adat, telah dilakukan sejak tahun 2016 bersama lembaga Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) periode sebelumnya.

“Tahun ini, Papuana Conservation kembali melakukan studi pemetaan wilayah adat di Bintuni, Sorong dan Sorsel. Tiga kabupaten lainnya sudah kita petakan wilayah adatnya pada tahun 2016 yaitu Fakfak, Manokwari Selatan dan Maybrat,” ujar  George, Kamis (18/7/2019) di Manokwari.

Hasil studi pemetaan wilayah adat diseluruh kabupaten/kota di wilayah Papua Barat nantinya, kata George, merupakan pelengkap Peraturan daerah khusus (Perdasus) provinsi Papua  Barat tentang masyarakat dan wilayah adat, yang sudah ditetapkan oleh DPR Papua Barat, dan sementara menunggu nomor registrasi di kementerian dalam negeri.

Loading...
;

“Tujuan studi pemetaan wilayah adat ini untuk melengkapi data Perdasus yang ada, sehingga peta wilayah adat ini dapat digunakan dalam program dan kebijakan pembangunan pemerintah, baik di kabupaten maupun provinsi secara khusus bagi Orang Asli Papua,” tuturnya.

Latar belakang studi pemetaan wilayah adat ini pun diangkat dari persoalan ruang hidup yang secara nyata memicu konflik horizontal antara sesma anak adat karena persoalan teritorial (wilayah adat). Masyarakat pun mendesak agar ruang hidup mereka harus diperhatikan.

“Sebenarnya, dasar dari semua kekhususan Otsus yang diimplementasian dalam berbagai program, ada pada peta wilayah adat. Dalam pemetaan wilayah  adat akan diperoleh data jumlah OAP itu sendiri berdasarkan sub-sub suku hinggga ke tingkat kereth dan marga,” ujarnya.

Metode yang digunakan dalam studi ini pun adalah metode wawancara dengan panduan kuisioner, dengan mendatangi setiap kepala suku di sub-sub suku yang berada di wilayah adat Bomberai dan Domberai.

Tim kerja dalam project ini melibatkan tokoh adat dari Dewan Adat Papua, LSM  dan akademisi dari antropologi, sastra dan geologi. Tim ini hanya melakukan pemetaan hingga  ke tingkat sub-sub suku. Selanjutnya, pemetaan pada tingkat Kereth dan Marga akan diserahkan lebih lanjut kepada Pemerintah daerah setempat.

“Di dua wilayah adat (Domberai dan Bomberai), ada sub suku dan sub-sub suku.  Di bawah  sub-sub suku, ada keret dan marga. Kita hanya sampai pada sub-sub suku, sedangkan pada tingkat kereth dan marga kami serahkan kepada pemda setempat untuk melengkapi,” ujarnya.

Hasil studi pemetaan wilayah adat di Papua Barat, sebut George, kedepan akan diintegrasikan dengan sistem BIG (Badan Informasi Geospasial). Pemerintah pusat sebagai pengendali BIG, harus bisa menerimanya.

“Jika diintegrasikan dengan peta tematik dalam BIG, kami yakin akan melalui mekanisme yang panjang, tapi minimal kita mau beri data dan fakta bahwa Papua bukan peta kosong, tapi ada ‘tuannya’,” kata George.

Di tempat terpisah Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan mengatakan bahwa pemetaan wilayah adat dan sensus OAP, berdasarkan suku hingga ke tingkat marga, belum sepenuhnya diperoleh oleh Pemerintah Papua Barat.

Karena itu, Mandacan sangat berharap peran serta LSM dan intervensi Pemkab untuk secepatnya melengkapi peta wilayah adat tersebut agar pembangunan secara khusus melalui uang Otonomi Khusus dan APBD bukan sebatas pesan tapi dampak nyata bisa dirasakan oleh OAP di wilayah adat masing-masing melalui berbagai program. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top