Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Laporan akhir ‘think tank’ PNG tentang Referendum Bougainville diterbitkan

Dr. Thomas Webster, Dr. Osborne Sanida, dan Jor Lera. – Post-Courier/Franklin Kolma

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Port Moresby, Jubi – Laporan terakhir mengenai Referendum Bougainville yang akan datang, diterbitkan Kamis pekan lalu (14/2/2019), mengungkapkan sejumlah capaian serta beberapa keganjilan yang tidak dapat diabaikan.

Ditulis oleh Dr. Kylie McKenna dengan judul ‘Status dan implementasi Perjanjian Perdamaian Bougainville dan implikasinya bagi referendum’ (Status and implementation of the Bougainville Peace Agreement and implications for referendum), dokumen itu benar berisikan informasi itu.

Sebagai laporan keenam, dan terakhir, dari serangkaian penelitian yang dilakukan National Research Institute (NRI) PNG, tentang sejauh mana kemajuan Perjanjian Perdamaian Bougainville hingga saat ini.

Meskipun dokumen itu membenarkan tercapainya beberapa hal yang signifikan, menyebutkan contoh seperti penerapan rencana pembuangan senjata dan keberhasilan pembentukan Pemerintahan Otonom Bougainville (ABG) pertama, laporan itu juga menguraikan banyak realitas yang mencemaskan.

Loading...
;

Di laporan itu juga mengidentifikasi progres dari beberapa ketentuan, sesuai dengan Perjanjian Perdamaian Bougainville, yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Secara khusus, disebutkan ‘kolaborasi yang lemah dengan Pemerintah Nasional’ oleh Pemerintah ABG dan pembayaran hibah yang tertunda, telah mengakibatkan keterlambatan dalam proses perdamaian dan persiapan referendum. Juga disebutkan masih ada senjata yang beredar, dan adanya sejumlah kelompok dan individu yang masih mengancam proses perdamaian yang sedang berlangsung.

Selanjutnya, risiko-risiko penting yang juga ditemukan karena bisa membahayakan proses perdamaian, termasuk temuan kapasitas SDM dan finansial yang masih belum sesuai dengan yang diperlukan untuk referendum itu.

Namun penyusun laporan itu, Dr. McKenna menyarankan, walaupun laporan tersebut mungkin dapat dinilai menodai perjuangan untuk referendum dari beberapa sisi, ia juga menegaskan ini adalah pengetahuan berharga yang perlu dimanfaatkan oleh Pemerintah ABG dan PNG, untuk memperbaiki berbagai persoalan yang diidentifikasi.

Mendukung pandangan ini, Direktur NRI PNG, Dr. Osborne Sanida berkata, meskipun referendum 15 Juni mendatang penting, namun masih ada sejumlah kekhawatiran, sebagaimana diuraikan dalam laporan itu, yang harus dipertimbangkan oleh semua pihak.

“Saya khawatir melihat persiapan yang sedang berjalan untuk referendum saat ini lambat, dengan hanya empat bulan tersisa sebelum tanggalnya. Akibatnya, kita dihadapi dengan risiko untuk menunda referendum dari 15 Juni, atau tetap melaksanakannya pada tanggal itu tanpa persiapan yang memadai,” menurut kepala think tank negara itu.

Laporan ini diluncurkan oleh Anggota Parlemen (MP) Regional untuk Bougainville, Joe Lera, pemimpin Proyek Riset NRI tentang Referendum Bougainville, Dr. Thomas Webster, dan Direktur NRI, Dr. Osborne Sanida, di Port Moresby. (Post-Courier PNG)

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top