Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Larang ibadah, Gereja KINGMI Wilayah Puncak minta Kapolres Mimika dicopot

Foto ilustrasi. – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Departemen Keadilan dan Perdamaian Koorinator Puncak Selatan dari Gereja KINGMI di Tanah Papua, Pendeta Deserius Adii meminta Polri mencopot Kepala Kepolisian Resor atau Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto dari jabatannya. Tuntutan itu muncul setelah Kepolisian Resor Mimika pada Kamis (19/9/2019) membubarkan ibadah syukuran kepulangan para mahasiswa Papua yang meninggalkan kota studi di Jawa dan Bali.

Sebelumnya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat John NR Gobai juga menuntut pencopotan Kapolres Mimika, karena membubarkan ibadah syukur dan bakar batu yang digelar di kantor Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (LEMASA) di Timika, Kabupaten Mimika, Kamis. Pendeta Deserius Adii menyatakan mendukung seruan John NR Gobai itu.

Adii menyatakan pelarangan ibadah syukuran kepulangan para mahasiswa Papua dari berbagai kota studi di luar Papua itu melanggar hak setiap warga untuk menjalankan ibadah. “Kami minta [Kapolres Mimika] dicopot, karena membubarkan ibadah syukuran, menangkap mahasiswa, dan membubarkan bakar batu. Ini perlakukan tidak terpuji. Kapolres [Mimika] yang lain selalu bernegosiasi dulu, dan kadang mereka membiarkan kami beribadah,” kata Adii kepada Jubi, Jumat (20/9/2019).

Deserius Adii mengatakan setiap pejabat aparat keamanan yang ditugaskan di Papua seharusnya belajar mengenai adat-istiadat dan kebiasaan di Papua. Adii menegaskan, pejabat publik yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi di Papua bisa menimbulkan konflik baru.

Loading...
;

“Kapolres Mimika dalam penanganan [masalah di Mimika] tidak berkomunikasi dengan baik. Seharusnya dia melakukan pendekatan persuasif sebagai pimpinan Polres Mimika,” kata Adii.

Staf LEMASA bidang Hukum Patrick Wetipo mengatakan pembubaran ibadah syukuran atas kepulangan para pelajar dan mahasiswa Papua yang meninggalkan kota studi mereka di Jawa dan Bali itu telah menimbulkan rasa tidak aman di antara orang Papua. “Perlakuan ini menganggu psikologis rakyat Papua dan mahasiswa. Aparat menangkap 24 orang Papua, dibawa ke Markas Polres Mimika,” katanya.

Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto mengatakan pihaknya tidak mengeluarkan izin terkait kegiatan itu. “Namun panitia bersikeras melaksanakan kegiatan itu,” kata Agung Marlianto.

Menurutnya, masyarakat sempat melempari aparat keamanan saat pembubaran sehingga polisi mengeluarkan tembakan peringatan ke udara menggunakan peluru hampa dan peluru karet. “Sebanyak 13 orang kami amankan, termasuk panitia, untuk dimintai keterangan,” ucapnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top