Larangan kantong plastik terkesan mendadak

Larangan kantong plastik terkesan mendadak

Pengumuman larangan menggunakan kantong plastik di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Jayapura – Jubi/Asrida Elisabeth

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sejak 1 Februari 2019, Pemerintah Kota Jayapura memberlakukan larangan penggunaan plastik. Larangan ini dikeluarkan melalui instruksi wali kota Nomor 1 Tahun 2019 dan berlaku untuk pusat perbelanjaan dan toko-toko di Kota Jayapura.

Ini merupakan kabar baik di tengah keprihatinan banyak pihak terhadap masalah sampah di Kota Jayapura. Di berbagai toko dan pusat perbelanjaan, terpajang pengumuman tentang larangan menggunakan kantor plastik. Namun, masih tampak aktivitas jual-beli menggunakan kantong plastik.

Markus Seserai, pemilik Toko Biko di Kota Jayapura, masih menggunakan kantong plastik di tokonya. Seserai sudah mendengar instruksi ini dari berbagai media. Dia menyambut baik itu. Selama ini, menurutnya, sampah plastik ditemukan di mana-mana, seperti, got dan sungai bahkan laut. Namun, instruksi ini terkesan mendadak

“Sementara ini kami masih ada stok plastik banyak. Mungkin nanti ke depan tunggu stok ini habis atau langsung dihentikan penggunaan plastik ini,” ujar Seserai.

Dalam sebulan, Markus menyediakan plastik satu karung ukuran 50 kilogram–terdapat 24 pak.

Toko Buku Gramedia Jayapura juga masih menggunakan kantong plastik. Namun sejak 2017, plastik yang digunakan Gramedia adalah oxobiodegradable plastics.

Menurut Yosua Somnaikubun, Supervisor Gramedia Jayapura, plastik ini dapat terurai dalam waktu dua hingga tiga tahun. Plastik ini berbeda dengan plastik biasa yang membutuhkan waktu hingga sepuluh tahun bahkan lebih.

Selama ini Gramedia menggunakan 500-1.000 kantong plastik sebulan. Yosua juga mendengar larangan penggunaan kantong plastik dari media sosial.

“Kebijakannya baik, cuma mungkin yang kami sayangkan instruksi itu keluar dan kami tahu lewat sosial media, dan itu belum ada penyuluhan yang berarti terkait solusi apa pengganti kantong plastik.”

Untuk menekan penggunaan plastik, Gramedia juga sudah menyediakan tas belanjaan yang dihargai 20.000 rupiah per buah. Namun harga ini berat untuk sebagian pembeli sehingga perlu solusi lain jika plastik benar-benar harus dihentikan.

Kasir-kasir juga diarahkan untuk tidak selalu memberikan kantong plastik kepada pembeli kecuali pembeli membutuhkannya.

“Ketika customer membeli sebuah bullpen atau hal-hal yang printilan yang tidak membutuhkan kantong plastik, kami usahakan untuk tidak memakai kantong plastik.”

Namun demikian, Pemerintah Kota Jayapura tetap meminta Gramedia Jayapura mengurangi penggunaannya dan beralih ke tas belanja.

Sementara itu di Pasar Mama-mama Papua, mama Mike Simiapen, menggunakan plastik untuk mengisi barang jualan seperti roti hingga miuman ringan. Mama Simiapen belum mendengar larangan penggunaan plastik ini.

“Kalau saya tidak pakai plastik, saya isi dengan apa? Kita sudah kebiasaan isi sesuatu barang dengan plastik jadi kalau tidak ada plastik kasihan juga pembeli.”

Mama membeli kantong plastik per-pack. Jika habis baru dibelinya kembali. Namun demikian, dia setuju bahwa plastik membuat lingkungan jadi kotor karena dibuang di sembarang tempat.

Sampah plastik dan dampaknya

Berbagai wilayah di Indonesia sudah menerapkan larangan penggunaan kantong plastik, seperti, Banjarmasin, Balikpapan, Bogor, Denpasar, DKI Jakarta, dan Kota Jayapura.

Dikutip dari hasil penelitian berjudul Hotspot Sampah Laut Indonesia yang diterbitkan tahun 2018 oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Plastik, mencakup barang-barang konsumen keseharian, seperti, kantong plastik, botol plastik, kemasan plastik, mainan plastik, wadah tampon; popok; barang-barang untuk merokok, seperti puntung rokok, korek api, pucuk cerutu; butir resin plastik; partikel plastik mikro. Beragam materi polimer sintetis, termasuk jaring ikan, tali, pelampung dan perlengkapan penangkapan ikan lain juga termasuk plastik.

Dari penelitian yang sama disebutkan bahwa jenis plastik terbanyak yang ditemukan pada aliran air di wilayah Kota adalah kantong plastik. Di semua kota yang diteliti, persentase rata-rata mencapai 16%. Persentase yang tinggi ini sebagian dikarenakan sampah seringkali dimasukkan ke dalam kantong plastik sebelum dibuang.

Botol plastik rata-rata hanya membentuk 1% dari sampah plastik. Hal ini kemungkinan dikarenakan nilai daur ulangnya yang lebih tinggi ketimbang kantong plastik sekali pakai.

Masalah plastik kini telah menjadi perhatian dunia. Sampah-sampah di daratan yang terbuang ke wilayah perairan telah mengakibatkan pencemaran baik di wilayah pesisir, kawasan bakau hingga daerah aliran sungai.

Diperkirakan sekitar 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun. Kualitas plastik ringan, tahan lama, kuat, fleksibel, dan berbiaya produksi rendah, kini mengakibatkan krisis pencemaran lautan secara global.

Kini ada 150 juta ton plastik di lautan dunia. Jumlah ini akan meningkat sebesar 250 juta lagi jika tren urbanisasi, produksi, dan konsumsi terus berlanjut.

Di Indonesia, Kementerian yang mengurus masalah sampah antara lain Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

KLHK bertanggung jawab untuk menentukan kebijakan, menyusun peraturan, dan mengkoordinasikan upaya pengendalian pencemaran pengumpulan dan daur ulang sampah.

Kemen-PUPR umumnya sebatas memberikan saran teknis, mengusung proyek percontohan, dan membangun, mengawasi fasilitas sampah padat berskala besar (TPA).

Kemendagri mengatur aspek-aspek administratif dari pengelolaan sampah pada tingkat rumah tangga, kawasan perumahan, kawasan perdagangan dan industri, serta sarana publik dan sosial. (*)

Editor: Timo Marten

loading...

Leave a Replay

Leave a Comment

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

loading...