HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Lika-liku pengemudi Grab dan Gojek di Jayapura

Ilustrasi driver GoJek – Jubi/go-jek.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Layanan ojek online GoJek dan Grab sudah masuk ke Kota Jayapura. Masuknya kedua layanan ini disambut baik oleh pencari kerja.

Grab lebih hadir pada Oktober 2017 di Kota Jayapura, sedangkan Gojek baru awal Januari 2019. Bagaimana lika-liku driver ojek di Kota Jayapura sejauh ini?

Grab ternyata mengecewakan sebagian driver. Sejak pukul 00.00 WIT Selasa, 23 April 2019, sebagian besar driver yang bergabung denga Grab Jayapura menonaktifkan aplikasinya. Itu buntut dari protes mereka atas pencabutan intensif.

Ketua Komunitas Grab Jayapura, Muh Sabir, mengatakan sebagian besar driver Grab menonaktifkan aplikasinya karena protes kepada manajemen Grab atas pencabutan intensif sebesar Rp250 ribu/5 trip pengantaran dan Rp300 ribu/8 kali pengantaran.

Loading...
;

“Sebenarnya ini sudah disosialisasikan sejak awal bulan (April), namun terus diundur, namun setelah dilaksanakan kami protes,” ujarnya.

Ia mengaku tak tahu berapa lama melakukan protes dengan menonaktifkan aplikasi. Namun ia mengatakan akan melakukan aksi di Taman Imbi dengan berkoordinasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah.

“Jumlah kami (driver) berapa juga tidak pernah dikasih tahu oleh Grab Jayapura,” ujarnya.

Hal semacam itu, kata Subir, sangat merugikan driver karena mengurangi pendapatan.

Admin Grab Jayapura, Dian Puspa, melalui pesan WhatsApp kepada Jubi mengatakan tidak berwenang memberikan informasi apapun mengenai Grab dan ia berjanji meneruskan pertanyaan dari Jubi kepada Bagian Humas Grab di Jakarta.

Namun hingga berita ini ditulis belum ada konfirmasi resmi dari Grab di Jakarta soal protes driver yang ada di Jayapura.

Driver GoJek mengatur sendiri

Sementara driver GoJek mengaku masih nyaman dengan sistem yang dilakukan perusahaan tersebut.

Ketua Komunitas Gojek Jayapura, Fredy Fakdawer, mengatakan ia mendaftar sebagai driver atau mitra GoJek dan bisa membawa penghasilan tergantung keaktifannya.

“Saya bisa bawa pulang Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari, itu yang terhitung di aplikasi, karena ada pula yang di luar itu pemberian lebih dari customer,” ujarnya.

Tentu saja itu penghasilannya ketika mengaktifikan aplikasi.

Terkait bentrokan dengan para pengojek pangkalan, katanya, ada kalanya terjadi karena miskomunikasi antara driver GoJek dengan keinginan para ojek pangkalan yang melarang mengambil penumpang di wilayahnya.

“Upaya terus dilakukan oleh manajemen dan komunitas sehingga keinginan kami tidak ada permusuhan antara GoJek dan ojek pangkalan, kami sudah siapkan beberapa program untuk lebih mengenalkan GoJek dengan ke depan pemberian bantuan hibah ke ojek-ojek pangkalan,” ujarnya.

Ia mengaku ikut menjadi mitra GoJek hanya untuk mengisi waktu. Enaknya ikut aplikasi GoJek, menurutnya, penghasilan tergantung kesanggupan dan waktu tiap driver.

“Kapan on dan kapan off bisa diatur, jam kerjanya bisa memilih aktif dan nonaktif secara otomatis, bahwa siapapun yang lebih lama online atau aktif tentunya akan banyak pendapatan yang diperolehnya,” ujarnya.

Bagi dirinya, tak hanya menambah pundi-pundi uang saja, namun juga adanya persaudaraan dan rekan kerja. Sebab driver GoJek berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang pekerjaan, misalnya ada juga Aparatur Sipil Negara, TNI/ Polri, dan lainnya.

“Gojek ini seperti freelancer bisa menjadi tambahan keuangan, juga pertemanan,” ujarnya.

Sedangkan bagi Marno, driver GoJek lainnya, menjadi driver banyak mendapatkan keuntungan, sebab ia juga bekerja sebagai pengojek pangkalan (tradisional) di daerah Entrop.

Dengan ikut mendaftar sebagai driver dirinya bisa menjadi driver GoJek dan bisa ke mana-mana.

“Sejak Oktober 2018 hingga kini saya bisa membagi diri kapan saya jadi mitra GoJek dengan tenang, pasalnya saya gunakan waktu untuk online dan offline, karena semua bisa diatur sendiri di aplikasi,” katanya.

Hanya saja terkadang timbul masalah atau duka ketika menjalankan tugas sebagai driver bagi Marno, yaitu menerima orderan fiktif Go-Food atau GoJek. Biasanya costumer membatalkan atau tidak ditemukan alamatnya atau dipermainkan.

“Tapi itu sebagian kecil saja, kalau yang saya alami sedikit karena kebanyakan orang yang saya layani bukan melalui aplikasi, melainkan orang yang sudah saya kenal untuk pembelian produk,” katanya.

Mana yang bagus antara mengojek di pangkalan dengan aplikasi GoJek bagi Marno? Marno tak bisa memilih. Baginya lebih baik jika keduanya digabung.

“Saya sangat terbantu dengan adanya GoJek, keuangan bisa lebih tertata, dan budaya jujur akan lebih baik lagi karena kita bicara sesuai aplikasi di mana uang kembalian juga kita siapkan yang kecil-kecil,” katanya.

Sebab, lanjutnya, semuanya terpantau dan dinilai oleh customer lewat aplikasi.

“Jika layanan tak baik maka customer bisa melaporkan kita dan di-suspend oleh sistem,” ujarnya.

Humas Gojek Jayapura, Eka, mengatakan ia membantu pendaftaran mitra GoJek dengan status semua driver adalah kerja sama.

“Selama masih bermitra dan sesuai dengan SOP, maka mitra GoJek tentu terus kita bantu,” ujarnya.

Mengenai tarif, katanya, GoJek menentukan harga dengan melihat keseimbangan antara hak konsumen dan mitra GoJek. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)