Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

LLDIKTI XIV : 455 ribu usia pendidikan tinggi di Papua tidak bisa kuliah

Suasana Ospek di Auditorium USTJ – Jubi/Doc

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Papua dan Papua Barat [PB] telah menyimpulkan sebanyak 455.000 orang yang berusia  taraf pendidikan tinggi di Provinsi Papua dan Papua Barat tidak bisa kuliah atau telah putus dari perkuliahan.

Kepala LLDIKTI Papua dan Papua Barat,Suriel S. Mofu mengungkapkan hal itu terjadi karena ketidakmampuan orang tua untuk membiayai anak-anaknya, lantaran karena penghasilan cukup rendah.

Mofu mengatakan persoalan tersebut pada rapat terbuka senat USTJ Wisuda XXVII lulusan sarjana dan diploma tahun akademik 2018 – 2019 di aula Kampus USTJ Jayapura, Kamis, [12/9/2019] lalu.

“Dari 500.000 usia pendidikan tinggi di Papua dan Papua Barat hari ini yang menikmati pendidikan tinggi hanya 45.000 saja. Sementara 455.000 atau sekitar 89 persen tidak kuliah,” ujar Mofu.

Pernyataan itu LLDIKTI Wilayah XIV mengetahui dari profil mahasiswa 55 perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada di Papua dan Papua Barat.

Loading...
;

Dari pangkalan data di Kemenristekdikti, mahasiswa Papua dan Papua Barat yang kuliah di dua Provinsi ini, hanya angka 60 ribu mahasiswa aktif kuliah di 55 perguruan swasta. Semester lalu pada tahun akademik adalah 23.000 mahasiswa, itu 38 persen. Sementara 37.000 mahasiswa tidak kuliah dan itu 62 persen tidak kuliah. “Hal ini karena suplai pembiayaan dari orang tua tidak ada, ya karena penghasilan orang tua rendah,” ungkapnya.

Ia membeberkan kemampuan orangtua di Papua dan Papua Barat secara nasional Rp 3 juta per bulan, sementara biaya perkuliahan makin mahal. Oleh karena itu, ia mengatakan, bantuan pemerintah daerah berupa studi akhir ataupun beasiswa dirutinkan demi sumber daya manusia (SDM) masa depan.

“Ini pendapatan paling kecil. Maka seharusnya mahasiswa pantas mendapat bantuan beasiswa dari pemerintah dari golongan keluarga ekonomi lemah,” ucapnya.

Guna meminimalisir hal itu, pihaknya terus berupaya dengan Pemprov Papua dan Papua Barat serta Pemerintah pusat agar ada kemudahan tertentu bagi mahasiswa Papua.

Anggota DPR Papua, John NR Gobai berharap, dana Otonomi Khusus [Otsus] Papua digunakan untuk mendukung pendidikan, khususnya untuk pembiayaan bagi mahasiswa asli Papua yang sedang mengenyam pendidikan entah di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Papua.

“Dukungan dari dana Otsus itulah yang kita harapkan bisa digunakan untuk membantu mahasiswa, sehingga Papua bisa menjadi pabrik manusia yang mempunyai wawasan di bidang masing-masing,” katanya.

Ia menambahkan dana Otsus yang diterima Provinsi Papua dikhususkan untuk tiga bidang; pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top