HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mahalnya tiket mudik dari Papua

Konter tiket Garuda di Jayapura – Jubi/Sindung Sukoco

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Perantau dari berbagai daerah, terutama dari Pulau Jawa, di Jayapura mulai mengalami dilema terkait mahalnya harga tiket pesawat menjelang Idul Fitri tahun ini.

Musrin, perantauan asal Trenggalek, Jawa Timur yang tinggal di Jayapura mengaku ingin sekali bertemu orang tuanya, terutama ibu yang melahirkannya. Ia sudah tujuh tahun tidak pulang dan berjumpa ibunya. Momen Idul Fitri tahun ini menurutnya sangat tepat untuk menjenguk ibunya.

“Saya ingin sekali pulang, di pelupuk mata saya tergambar ibu yang yang telah lama nggak ketemu, sekarang ini beliau sudah berumur 90 tahun, saya takutnya nggak ketemu lagi jika menunda pulang tahun depan, nantinya akan menjadi penyesalan seumur hidup saya,” ujar Pak Reen, panggilan akrabnya.

Menurutnya, usaha untuk mencari tiket menuju Jawa fokus pada kapal laut, setelah harga tiket pesawat melambung. Namun usahanya gagal karena tiket kapal laut sudah habis untuk keberangkatan sepanjang bulan puasa hingga mendekati Lebaran.

Loading...
;

“Ke Makassar saja tak ada tiket, aturan terbaru sekarang harus sesuai dengan ‘seat’ yang ada, tak seperti dulu yang penting bisa naik,” katanya.

Begitu pula tiket pesawat murah, kata Reen, adalah keniscayaan di mana harga tiket sudah jauh melebihi batas normal dari kemampuannya sebagai penjual cilok.

“Saya lebih memilih untuk naik kapal karena harga tiket pesawat bisa dilihat sudah mendekati Rp4 juta sampai Rp5 jutaan, namun tiket kapal juga tidak ada,” ujarnya kesal.

Seharusnya, katanya, pemerintah memperhatikan hal-hal seperti ini karena baginya pulang ke rumah kelahiran salah satu usaha menyambung silahturahmi bersama dengan sanak saudara dan famili.

“Harusnya kapal ditambah biar kami perantauan ini bisa pulang ke kampung halaman karena ekonomi kami yang tak seperti para pejabat eselon yang bisa pulang tanpa takut uang,” ujarnya.

Beda halnya dengan Reen, Eko yang juga menetap di Jayapura sudah jauh-jauh hari membeli tiket pesawat. Ia sudah membeli tiket pada Februari 2019 sehingga tinggal pulang sesuai jadwal yang telah ditetapkannya.

“Saya nggak tahu kemarin itu harga berapa ya, karena saya belinya sekalian beberapa tiket kepulangan terjadwal, namun jumlahnya waktu itu saya beli sekitar Rp17 juta untuk tiga kali pulang pergi dengan jadwal yang telah saya tentukan sebelumnya,” ujar Eko yang bekerja di kantor perpajakan Jayapura.

Meski begitu, Eko mengaku belum memiliki tiket untuk kembali ke Jayapura untuk pulang Lebaran nanti. Ia belum tahu kapan jadwal kembali dan berapa harga tiket yang mesti ia bayar.

Ia akan pulang ke kampung halamannya di Jawa untuk bertemu istri dan anak semata wayangnya yang cukup lama ia tinggalkan.

“Saya pulang tanggal 30 Mei nanti, namun saya belum tahu baliknya kapan dan berapa harga tiket pesawat tersebut saat balik nanti juga belum tahu,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah memperhatikan kondisi masyarakat yang ada di bagian paling timur Indonesia seperti Papua yang sangat bergantung kepada transportasi udara.

Jubi mengecek harga tiket di Traveloka.com pada Minggu, 12 Mei 2019 malam. Untuk penerbangan langsung Jayapura-Jakarta pada 30 Mei 2019 hanya tersedia dua penerbang, Batik dan Garuda yang harga tiketnya Rp5,7 juta.

Sedangkan Lion Air menyediakan sekali transit dengan harga tiket Rp4,6 juta hingga Rp5,1 juta. Harga ini hampir sama untuk sehari dan dua hari berikutnya.

Untuk penerbangan langsung Jayapura-Makassar pada 30 Mei, hanya tersedia tiket Lion Air Rp3,19 juta dan Batik Rp3,56 juta.

Untuk penerbangan dari Jayapura ke Surabaya pada 30 Mei 2019 dengan satu kali transit, harga tiket Lion Air adalah Rp4,4 juta hingga R4,6 juta. Sedangkan harga tiket Batik Rp7,1 juta dan Garuda Rp7,2 juta.

Dikutip dari CNN Indonesia, pemerintah akan melakukan rapat untuk mengintervesi agar harga tiket pesawat bisa lebih murah.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan kondisi duopoli pada pasar sektor penerbangan menjadi salah satu alasan pemerintah untuk mengintervensi harga tiket pesawat yang cukup mahal dalam beberapa waktu terakhir.

Duopoli merupakan kondisi di mana pasar suatu sektor industri hanya dikuasai oleh dua pemain. Saat ini, sektor penerbangan di Indonesia didominasi dua grup besar, yaitu Grup Garuda Indonesia dan Grup Lion Air.

Sebelumnya, ada Grup Sriwijaya, namun belakangan maskapai swasta itu merapat ke Garuda Indonesia.

“Sebenarnya semuanya kami serahkan ke market, cuma tidak bisa full karena ini duopoli, perlu ada intervensi, kecuali market itu persaingannya sempurna,” ujar Susi, Jumat, 10 Mei 2019. (*)

Menurut Susi, kondisi pasar duopoli memunculkan kerentanan persaingan harga yang tidak sehat dalam suatu industri. Sebab, ketika pemain A melakukan kenaikan harga, maka pemain B tidak serta merta akan mempertahankan harga. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top