Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mahasiswa ‘eksodus’ bantah picu bentrok di Expo Waena

Sejumlah mahasiswa sedang lari ketika terjadi bentrok di Expo Waena, Senin (23/9). -Dokumentasi OG

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Seorang mahasiswa ‘eksodus’ Papua, OG, berhasil dihubungi Jubi, Senin malam (23/9). Ia sempat meminta izin untuk mengisi baterai ponsel pintarnya dulu, setelah itu ia mulai menuturkan kronologis bentrok antaraparat, mahasiwa, dan sejumlah warga di Expo Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua, pada siangnya.

“Saya selamat. Saat lari lalu singgah mencuci muka di salah satu halaman rumah, seorang ibu membukakan pintu lalu mengajak saya masuk,” kisahnya. Kepada tuan rumah, ia meminta izin mengisi baterai ponselnya untuk dipakai berkabar kepada rekan-rekannya yang lain.

OG menuturkan, sejak pukul 7 pagi, sejumlah mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uncen, bersama solidaritas gabungan mahasiswa Papua yang eksodus dari kota studi masing-masing di seluruh Indonesia, berhimpun di halaman auditorium Uncen.

“Itu sebagai bentuk aksi mogok kampus,” katanya.

Loading...
;

Sekitar pukul 10 siang, posko telah dibuka. Namun, kata dia, sudah ratusan aparat keamanan dengan senjata dan alat lengkap, berjajar di depan auditorium Uncen “Bawah” di Abepura, hendak mengawal massa aksi. Auditorium Uncen ini terletak di kampus pertama di Abepura, sehingga kerap disebut Uncen Bawah, sedangkan Uncen Atas yakni gedung baru kampus yang berada di Perumnas 3 Waena.

Tuntutan para mahasiswa pada aksi mogok kampus kali ini, katanya, untuk meminta rektorat Uncen memberikan gedung auditorium sebagai Posko Umum Pelajar dan Mahasiswa Eksodus, yang kembali ke Jayapura.

Sejam kemudian, kata OG, massa diminta untuk meninggalkan halaman auditorium oleh aparat. Mereka lantas diangkut menggunakan beberapa truk dan bus yang disediakan aparat.

“Kami dipaksa bubar. Kalau tidak akan ditindak. Akhirnya kami naik truk dan bus, untuk kembali ke posko di Expo Waena,” jelasnya.

Namun sesampainya di Expo Waena, ia heran karena sejumlah personel brimob telah menduduki posko di sana. Disusul larangan aparat, agar para mahasiswa tidak berada di posko.

“Sekitar pukul 12 siang, aparat gabungan TNI dan Polri membubarkan para mahasiswa,” katanya.

Tapi selain aparat, di sana juga telah ada massa dari warga sekitar yang mulai bertindak kasar kepada para mahasiswa.

“Ada ormas juga di sana. Kami dilempari batu dan botol. Selain itu polisi juga melempar gas air mata. Karena itu para mahasiswa marah. Terjadilah bentrok,” katanya.

Selanjutnya, kata OG, rentetan tembakan mulai terdengar. Mereka tercerai-berai lari untuk menyelamatkan diri, karena banyak batu dan suara tembakan. Sebagian mahasiswa menyelamatkan diri ke kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), yang letaknya tak jauh dari titik bentrok.

“Ada yang diam dan angkat tangan karena sudah ada laser-laser senjata juga. Kami memilih lari selamatkan yang perempuan-perempuan. Ada pagar kawat duri, kami tetap berusaha lewat,” katanya.

Lalu ia dan kawan-kawannya berlari ke arah permukiman. Di sanalah ia dan beberapa temannya berhasil sembunyi di salah satu rumah warga. Merasa telah aman, mereka selanjutnya berpindah lokasi karena kabarnya aparat mulai menyisir rumah.

“Belakangan kami mendapat kabar, tembakan aparat mengenai tiga orang mahasiswa lalu meninggal dunia. Lainnya luka parah, ada yang dirawat di RS Bhayangkara, Abepura,” katanya.

Ia juga mendapat informasi, sejumlah mahasiswa ditahan aparat keamanan. Mereka sempat dijemur, dipukuli, lalu diangkut menuju Mako Brimob Polda Papua, di Kotaraja, Kota Jayapura.

“Yang berhasil sembunyi di rumah-rumah warga, kembali ke posko eksodus per paguyuban kota. Sebagian lagi sedang berusaha dikontak,” katanya.

Sebelumnya, Rektor Uncen, Dr. Apolo Safanpo menyampaikan, pembubaran massa aksi yang berkumpul di halaman auditorium Uncen, berlangsung secara persuasif dan dialogis.

“Tidak ada kekerasan di dalam kampus Uncen. Kita bisa lihat bahwa anak-anak yang ada di kampus Uncen dari dini hari, pagi sampai siang tidak ada kekerasan. Semua pembantu rektor dan dekan hadir lalu dialog dengan anak-anak,” katanya, Senin malam (23/9).

Setelah kedua pihak sepakat, lanjutnya, para mahasiswa diarahkan ke Expo Waena kemudian terjadi kekerasan di sana. Ia juga mempertanyakan, siapa yang membuat situasi di sekitar Expo Waena memanas, hingga akhirnya menelan korban.

“Yang perlu dipertanyakan di Expo adalah ada siapa dan mengapa tiba-tiba situasi memanas? Ada pihak ketiga atau kelompok massa di sana. Ini yang kami duga sementara,” katanya.

Rektor juga menceritakan, bahwa sehari sebelum para mahasiswa menduduki halaman auditorium Uncen, ada enam pemuda hendak membakar gedung rektorat kampus tersebut yang terpantau televisi sirkuit tertutup atau Closed Circuit Television (CCTV).

“Di CCTV terekam ada enam orang yang buang bensin dan hampir terbakar, lalu mereka lari. Kemudian mereka ada rencana juga mau bakar kampus Uncen,” kisahnya.

Melihat itu, dirinya lantas meminta kepada Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Abepura, untuk mengantisipasi dan bersama-sama melakukan dialog secara damai dengan para mahasiswa, agar tidak boleh terjadi aksi kerusuhan di lingkungan kampus Uncen.

“Jangan sampai terjadi rusuh, maka saya minta kepada Kapolres Abepura melakukan dialog dengan anak-anak, supaya mereka tidak melakukan aksi-aksi anarkistis, seperti membakar kampus atau rektor atau auditorium. Itu supaya anak-anak bisa lakukan aksi dengan aman dan damai,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Yunus Wonda, meminta semua pihak menahan diri pascabentrok di Expo Waena, pun kerusuhan yang melanda Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Wonda berharap agar aparat keamanan, masyarakat, mahasiswa dan pelajar mesti menahan diri, dan menciptakan kondisi aman di Papua.

“Jangan terpancing dengan situasi dan kondisi, akhirnya membuat situasi Papua menjadi tidak aman. Keberhasilan kalian (mahasiswa dan pelajar) adalah masa depan tanah ini. Masa depan Tanah Papua,” kata Wonda, Senin (23/9).

Sampai hari ini, dikabarkan 17 warga sipil meninggal dunia dan 65 lainnya luka-luka, akibat kerusuhan di Wamena. Sejumlah warga di Wamena baik Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP, memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman seperti Mapolres Jayawijaya, Koramil serta sebagian lagi ke gereja-gereja. (*)

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top