Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mahasiswa Merauke tolak rasisme dan tuntut pemulangan mahasiswa

Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ratusan mahasiswa dari 13 perguruan tinggi di Merauke turun ke jalan menolak rasisme terhadap orang asli Papua, Senin (30/9/2019). Para mahasiswa yang berasal dari empat kabupaten di Wilayah Adat Anim Ha itu meminta pemerintah segera memulangkan para pelajar dan mahasiswa anak adat Anim Ha yang bersekolah di luar Papua.

Agusta M Wanggadiwa, kordinator lapangan aksi itu, mengatakan para mahasiswa mendesak Pemerintah Kabupaten Merauke segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaen Asmat, Mappi, dan Boven Digul untuk memulangkan 250 mahasiswa yang berasal dari keempat kabupaten dari berbagai kota studi di luar Papua. “Sejak ujaran rasisme dan persekusi itu, mereka tidak nyaman di sana,” ungkap Wanggadiwa.

Menurut Wanggadiwa, para mahasiswa di Merauke menerima keluhan dari teman-temannya yang bersekolah di luar Papua. Mereka mengeluh tidak nyaman lagi berkuliah, sehingga banyak yang terpaksa memilih tinggal di kontrakan dan Asrama.

“Kami mau, mereka harus dipulangkan dulu. Situasi Papua yang terus bergejolak ini membuat teman-teman makin tidak nyaman. Jadi, pulangkan [mereka] dulu sambil lihat situasi,” ungkapnya.

Loading...
;

Wanggadiwa menyebut para mahasiswa juga menolak berbagai aksi kekerasan yang terjadi di Tanah Papua, termasuk kasus kekerasan yang terjadi Jayapura dan Wamena pada 23 September 2019. Mereka juga mendesak pemerintah menghentikan penangkapan terhadap para aktivis hak asasi manusia dan jurnalis, dan menolak deklarasi damai di Merauke yang dinilai sarat kepentingan.

Aksi para mahasiswa itu sempat dihadang aparat keamanan, namun para mahasiswa berhasil bernegosiasi dan diizinkan melanjutkan aksi mereka di Kantor Bupati Merauke. Para mahasiswa akhirnya diterima pemerintah daerah dan tokoh adat di wilayah selatan Merauke. “Kami sampaikan aspirasi ada sepuluh poin dan kami bubarkan diri dengan tertib,” ungkap Wanggadiwa.

Pastor Pius Conelius Manu Pr, pastor Imam di Keuskupan Agung  Merauke  yang ikut melihat aksi itu menyatakan aspirasi mahasiswa meminta pemulangan para mahasiswa asal Anim Ha dari berbagai kota studi di luar Papua itu harus diperhatikan. Pastor Pius menyatakan, rasa tidak nyaman dari para mahasiswa Papua yang berkuliah di luar Papua itu adalah fakta. “Mereka, [para mahasiswa Papua di luar Papua] tidak nyaman pergi ke kampus,”ungkapnya.

Pastor Pius juga mengkritik aparat keamanan yang dinilai tidak tegas menindak organisasi kemasyarakatan. Padahal berbagai organisasi kemasyarakatan itu kerap mengambil alih peran aparat negara sehingga justru melanggar hak asasi warga negara yang lain.

“Peran organisasi kemasyarakatan begitu subur, mengambil peran yang bukan peran mereka. [Mereka melakukan] ancaman fisik, baik secara langsung dan melalui pesan singkat. Gaya mereka amat arogan, dan mengambil alih peran aparat negara. Apakah aparat sudah tidak kuat lagi?” tanyanya.

Terkait keberatan para mahasiswa terhadap deklarasi damai yang dilakukan di Merauke, Pastor Cornelis menyatakan memahami penolakan para mahasiswa itu. Pastor Cornelis menegaskan orang di Merauke sudah hidup rukun dan damai, sehingga deklarasi damai di Merauke itu dinilai tidak berdasar.

“Deklarasi damai yang semu. Jadi deklarasi itu seolah-olah ada konflik [di Merauke], [yang akhirnya justru] menutupi fakta rasisme sementara ini amat sangat bahaya,”ungkapnya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top