Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mahasiswa USTJ: Jokowi dan Prabowo ke Papua hanya cari suara

Aksi Mahasiswa USTJ menolak kedatangan Jokowi, Senin (1/4/2019). Aksi itu digelar di halaman kampus mereka. – Jubi/Mawel

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura menilai kunjungan dua calon presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Prabowo Subianto ke Papua hanya untuk mencari suara dalam Pemilihan Presiden 2019 pada 17 April mendatang. Selain itu, kedua calon presiden dinilai sama-sama tidak memiliki solusi bagi persoalan Papua.

Presiden Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) Alex Gobay menyatakan hal itu menanggapi kunjungan kedua calon presiden ke Papua dalam sepekan terakhir. Joko Widodo berkunjung ke Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat, dan Jayapura, ibukota Provinsi papua, pada Senin (1/4/2019). Sementara Prabowo Subianto berkunjung ke Merauke pada 25 Maret 2019.

“Prabowo ke Selatan, Jokowi ke utara ini tidak memberikan  solusi bagi papua. Kedatangan ini cari suara saja,”ungkap Gobay kepada jurnalis Jubi di ruang BEM USTJ, Senin (1/04/2019).

Gobay menyatakan kedua calon presiden itu sama-sama mempersepsikan rakyat Papua sebagai separatis dan harus dihadapi dengan kekerasan dan operasi militer. Prabowo diingat rakyat Papua sebagai pemimpin operasi militer pembebasan sejumlah peneliti yang disandera kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Kelly Kwalik pada 1996. Operasi itu menewaskan para warga sipil di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Nduga.

Loading...
;

Sementara Joko Widodo dicatat rakyat Papua sebagai Presiden RI yang menyetujui penggiriman ratusan tentara dan polisi untuk menggelar “operasi penegakan hukum” pasca pembunuhan pekerja PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 lalu. Operasi pengejaran terhadap TPNPB pimpinan Egianus Kogoya itu membuat ribuan warga Nduga mengungsi ke Kabupaten Jayawijaya, Mimika, dan Lanny Jaya.

“Operasi demi operasi terus berlangsung. Rakyat mengungsi lagi. Trauma terus menumpuk,”ungkap Gobay. “Akan tetapi, kini kedua calon presiden datang mencari suara kepada rakyat yang menderita karena ulah dan keputusannya,” kata Gobay.

Gobay menyatakan kedua calon presiden datang dan menyatakan janji pembangunan kepada rakyat di Papua. Akan tetapi, kedua calon presiden sama-sama menghindari dari tuntutan utama rakyat Papua untuk menuntaskan berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua. Gobay menyimpulkan, memilih Joko Widodo atau Prabowo menjadi tidak ada bedanya lagi, karena mereka sama-sama tidak akan menyatakan komitmen menuntaskan kasus pelanggaran HAM Papua.

“Lebih baik golput saja. Karena legitimasi rakyat terhadap presiden tidak akan membawa dampak positif,” ungkapnya.

Arnol Jarinap, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia BEM USTJ mempertanyakan mengapa banyak orang memberikan puja-puji bagi Jokowi, sementara sejumlah program Jokowi malah memperparah pelanggaran HAM di Papua. “Lihat Jokowi dengan semangat membangun infrastruktur, tetapi pembangunan jalan di Nduga menimbulkan masalah pelanggaran HAM yang luar biasa,” ujarnya.

Jarinap mengingatkan sudah ada berbagai investigasi yang melaporkan krisis kemanusiaan yang terjadi pasca operasi pasukan gabungan TNI/Polri mengejar TPNPB pimpinan Egianus Kogoya. Berbagai investigas itu telah mencatat data warga Nduga mengungsi meninggalkan kampung halaman, jatuh sakit di pengungsian tanpa ada pemenuhan hak kesehatan dan banyak anak tidak sekolah, bahkan meninggal di pengungsian. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top