Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Malapetaka di jalan trans-Papua

Presiden Jokowi bersama rombongan menjajal jalan trans-Papua dengan menaiki motor trail di ruas Wamena-Mamugu 1, Papua, 10 Mei 2017. Jokowi memilih motor trail untuk menjajal sulitnya medan pembangunan Jalan Trans Papua – Tempo/Biro Pers Istana Presiden

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Soleman Itlay

Lebih dari 100 orang kehilangan nyawa di jalan trans-Wamena-Nduga-Mumugi, Provinsi Papua. Sekitar 2.550 minuman beralkohol (minol) diselundupkan di jalan trans-Jayapura-Wamena. Kurang lebih delapan pelaku pencuri motor (curamor) ditangkap di jalan Wamena-Jayapura. Potensi penyelundupan narkoba dan ganja sangat besar di semua jalan trans di Papua.

Ada peristiwa yang sudah diketahui oleh publik. Tapi ada pula yang belum diakses oleh media massa. Namun, dalam pembahasan ini hanya tulis beberapa kejadian di jalan trans-Jayapura-Wamena dan Wamena-Nduga-Mumugi. Lebih jelasnya kita dapat membaca rekam kejadian yang bersumber dari media dan hasil investigasi penulis, dkk.

Kasus jalan transJayapuraWamena

Loading...
;

Oknum TNI/Polri tertangkap basah di jalan trans-Jayapura-Wamena, 1-2 Agustus 2018. Polsek Elelim sudah mengamankan barang bukti bersama dua orang pelaku, yaitu sopir mobil dan pemilik barang. Terdapat  2.550 botol minol berlabel. Jenisnya vodka dan jenis lainnya. Ada sembilan karton dan mobil sebagai barang bukti.

Akhir Agustus, Polsek Senggi, Koramil Senggi dan Satgas 644 Perbatasan menahan delapan pelaku curanmor di Senggi, Kabupaten Keerom. Mereka adalah AJ (23), FI (25), BP (18), SH (27), AH (22), JH (15), OI (27), dan AI (19). Polisi menjerat pelaku dengan pasal 365 ayat (1), dan ayat (3) KUHP. Ancaman hukumnya sekitar 15 tahun penjara. Kini ditahan di Lapas Kelas IIA Abepura.

Tidak hanya itu. Pengedaran obat-obatan terlarang, terutama narkoba dan ganja pun diduga kuat beroperasi di jalan trans ini. Dulu para bandar dan pengedar sulit menembus bandara Sentani—satu-satunya akses ke Wamena dan daerah pemekaran lain. Namun kini akses terbuka lebar setelah ada jalan trans-Wamena-Jayapura.

Kasus pengedaran narkoba dan ganja di jalan ini belum ditemukan. Namun bisnisnya sudah berjalan sejak pemerintah mengumumkan jalur tersebut bisa diakses oleh masyarakat umum. Para pengedar menjalankan bisnis dengan leluasa. Mereka merasa aman dengan pemeriksaan yang kurang ketat.

Dampaknya di Wamena dan daerah pemekaran sangat terasa. Banyak anak mengonsumsi narkoba dan ganja dengan bebas. Hingga kini belum ada penanganan serius oleh penegak hukum. Aparat hanya bisa meringkus Apianus Logo (36) di kampung Pirambot, Distrik Wolo, perbatasan Kabupaten Jayawijaya dan Mamberamo Tengah beberapa waktu lalu, tapi belum mengungkap jaringan lainnya.

KLB di jalan transWamenaNdugaMumugi

Sebanyak 200-an orang menjadi korban setelah jalan ini menghubungkan pemukiman warga sipil. Pada 2015 di Distrik Mbua, Dal, Mbulmu Yalma, Kabupaten Nduga dilanda kejadian luar biasa (KLB). Kematian misterius berakhir 2017. Akhir tahun 2015, sekitar 54 orang meninggal dunia. Sepanjang 2016-2017, menyusul sekitar 26 orang.

Setidaknya 80 orang meninggal akibat KLB tersebut. Korban paling banyak adalah anak-anak di bawah umur (1 bulan hingga 17 tahun). Kemudian menyusul usia remaja dan dewasa, sekira 18 tahun ke atas.

Tidak hanya manusia yang menjadi korban, tetapi juga ternak menjadi korban KLB. Sebanyak 54 orang kehilangan ternaknya, yakni; babi, ayam, ikan, dan kelinci. Sekitar 136 ekor babi mati, 195 ekor ayam, 23 ekor ikan, dan dua kolam buatan, serta tiga ekor kelinci. Peristiwa itu dikenal sebagai KLB Mbua. Sebelumnya jarang terjadi seperti ini. Namun KLB ini murni terjadi setelah Joko Widodo minta TNI membongkar jalan lewat program Nawacita ketiga. Hingga saat ini penyebab kematiannya belum ditemukan. Keluarga korban masih menantikan jawaban dari pihak berwajib.

Kecelakaan lalulintas di Gunung Iniyebel

Pertengahan 2013, sebanyak 13 orang mengalami kecelakaan di jalan trans-Wamena-Nduga-Mumugi, tepatnya di puncak Gunung Iniyebel. Kejadian ini menewaskan empat warga, di antaranya, Yutumus Lokbere (35), Simi Gwijangge (54), Yopin Kusumbrue (26), dan sopir strada. Sementara itu, sembilan orang lainnya.

Saat itu masyarakat menyewa Strada dari Wamena menuju Mbua. Pukul 11 siang mereka tiba di TKP. Tempat ini sebelah-menyebelah terdapat jurang. Saat itu sopir kehilangan konsentrasi akibat kabut yang hebat. Dia pikir jalan tengah-tengah. Tahu-tahunya salah ambil jalan.

Sopir ambil di jalur kiri dari arah Wamena. Mereka jatuh bolak-balik di jurang. Orang yang dalam mobil tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka mengalami pengulingan 6-7 kali. Mereka tidak bisa keluar lantaran pintu mobil tertutup rapat, sedangkan sembilan orang lolos karena melompat dari atas mobil. Media belum tahu kasus ini.

Penyanderaan karyawan Waskita Karya

Delapan karyawan PT Waskita Karya disandera oleh OTK, 11 Juni 2015. Diduga pelakunya TPNPB/OPM pimpinan Egianus Kogoya. Para pekerja jalan tersebut adalah Dominggus, Kasirim. Darno, Dudung, Boby, Marmo, Indah, dan Alfon. Mereka disandera selama 4 hari 3 malam, dan akhirnya dibebaskan.

Perusahaan, Waskita Karya menyerahkan uang tebusan kepada Terinus Unnue, yang mengaku sebagai kurir dari kelompok penyandera tersebut. Turut hadir dalam saksi dan jaminan pembebasan penyanderaan pada waktu itu adalah kepala suku Mugi, Jakaruma Kogoya. Bebaskan setelah menebus Rp 500 juta.

Aparat keamanan dan militer waktu itu tidak mengetahui kejadian ini. Pihaknya kaget setelah penyanderaan sudah dilakukan setengah hari sebelumnya. Para pelaksana kebijakan kepentingan nasional ini nyaris kehilangan nafas dan keluarga terkasihnya. Untung saja waktu itu pimpinan perusahaan sanggup membayar tebusan TPNPB/OPM.

OTK menembak mati pekerja jalan

Pada 1 dan 2 Desember 2018, OTK menembak mati 24 pekerja jalan trans Wamena-Nduga-Mumugi. Mereka adalah Jhony Arung, Anugrah, Alrpiianus, M. Agus, Aguatinus T, Martinus Sampe, Dirlo, Matius, Emanuel, Calling, Dani, Tariki, Markus, Allo, Aris Usi, M. Faiz, Yusran, Ayub, Yosafat, M. Ali Akbar, Petrus Ramli, Hardi Ali, Efrandi Hutagaol, Rikki Simanjuntak, dan Marg Mare. Tempat kejadian di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. Peristiwa ini berlangsung sore hari, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Korban rata-rata pekerja jalan trans-Wamena-Nduga-Mumugi.

Tidak ada kepastian soal status korban. Sebab ada dua sudut pandang yang berkembang. Satu pihak menyebut korban adalah warga sipil, tapi pihak lainnya menyebut korban adalah militer (mata-mata atau intelijen), yang menyamar sebagai pekerja jalan. CNN Indonesia pernah menaikkan laporannya. Media itu menyebut, proyek ini dikerjakan oleh kekuatan TNI dari Zeni Tempur AD sebanyak 394 orang personel. Bekerja sepanjang 278,6 kilometer.

Dari jarak itu dibagi lagi ke masing-masing kompi. Terdapat 3 komposisi. Pertama, POP-1 meliputi Denzipur-10 dan Denzipur-12. Kedua kompi ini ditugaskan dan dipercayakan untuk mengerjakan ruas jalan dari Wamena-Habema dan Habema-Mbua. Kedua, POP-2 dari kompi Yonzipur-18.

Kompi kedua ini diberi tanggung jawab untuk mengerjakan ruas jalan sepanjang Mbua-Mugi dan Mugi-Paro. Ketiga, POP-3 dari kompi Yonzikon-14. Yonzikon-14 mengerjakan ruas jalan Paro-Keneyam dan Keneyam-Mumugi. Kekuatan setiap POP berjumlah 107 personel.

Pidato Joko Widodo

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengantongi agenda untuk bertemu dengan sejumlah pihak, seperti pengurus PGRI dan lainnya. RRI Pro 3 melaporkan bahwa Beliau membatalkan agenda tersebut. Ia mengambil keputusan mendadak karena penembakan di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, 1 dan 2 Desember 2018.

Dikatakan, ia memimpin rapat terbatas di istana negara menjelang siang hari. Semua pihak terkait dihadirkan untuk memastikan dan mengambil langkah penanganan kasus secara bersama. Saat itu, Beliau menghadirkan Panglima TNI, Kapolri, Menteri PUPR, Menteri Pertahanan, dan sejumlah pihak terkait lainnya.

Dalam pidatonya, dari istana beliau menyampaikan rasa belasungkawa, mengutuk pelaku, memerintahkan operasi militer alias penegakan hokum, dan meminta agar perusahaan melanjutkan proyeknya.

Peristiwa ini menjadi satu-satunya peristiwa yang paling cepat direspons oleh Jokowi sebagai orang nomor 1 di Indonesia.

Sebelumnya ia pernah bicara soal Paniai Berdarah (8/12/2014). Tetapi tidak secepat kasus Nduga ini. Beliau menyinggung nasib 4 pelajar yang ditembak oleh aparat Indonesia itu, 27 Desember di stadion Mandala. Ketika itu dia berjanji untuk menyelesaikan kasus tersebut, termasuk mengadili para pelaku, tapi hingga kini tak kunjung terealisasi.

TNI/Polri menembak warga sipil

Beberapa menit kemudian, setelah Joko Widodo pidato di istana negara, Selasa (4/12/2018), pukul 11 siang, aparat gabungan (TNI/Polri) menewaskan 4 warga sipil. Mereka adalah Mianus Lokbere (20), Nison Umangge (21), Mentus Nimiangge (25) dan Yarion Pokniangge (55). Mianus dan Nison adalah pelajar SMA Negeri Mbua. Mianus kelas I SMA, Nison kelas III SMA.

“Tahun depan Nison mau ikut ujian nasional. Tapi pendidikan, nasib dan masa depan mereka dimatikan oleh timah panas dan bom,” kata seorang warga, Sabtu (30/12/2018).

Mereka ditembak dari atas perbukitan. Dibom dari udara menggunakan helikopter. Mianus ditemukan di perbukitan, dekat lapangan terbang Mbua. Nison ditemukan di sekitar halaman rumah, kampung Otelama, Distrik Mbua. Mentus ditemukan di kampung Kuru, Distrik mbulmu Yalma.

Yerion, menurut keluarga korban, waktu itu sedang sakit, sehingga hanya tinggal di rumah. Sementara warga ketakutan dan lari ke hutan. Di tubuhnya tidak ada tusukan dan peluru. Dia ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di rumahnya, kampung Silan, Distrik Dal.

“Orangtuanya panik. Kepanikan itu membuat dia mengalami serangan jantung dan meninggal dunia. Kami temukan dia dalam posisi tergeletak di rumahnya,” kata keluarga korban.

Kebijakan pemerintah pusat

Jalan trans-Jayapura-Wamena maupun Wamena-Nduga-Mumugi merupakan kebijakan dari pemerintah pusat. Proyeknya direncanakan era Soeharto pada 1980-an. Joko Widodo hanya mempertegas kebijakan tersebut dalam program Nawacita Ketiga.

Jalan trans di Papua, khususnya Jayapura-Wamena dan Wamena-Nduga-Mumugi telah membawa ancaman. Bandar dan pengedar minol, narkoba, ganja, dan pencurian adalah buktinya. Selain itu, ada KLB, kecelakaan lalulintas, penyenderaan, dan penembakan.

LIPI dan TAF (The Asia Foundation) telah memperlihatkan pencapaian Jokowi mengenai konektivitas jalan trans di Papua dalam kajian cepat yang dipublikasikan Juni 2018. Namun, peristiwa-peristiwa memilukan—seperti yang penulis sebutkan tadi—tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Jalan bukan solusi

Jalan tidak serta-merta membawa perubahan, membuat orang Papua lebih baik—semakin maju dan sejahtera. Dari rentetan peristiwa di atas dapat disimpulkan bahwa jalan bukanlah solusi, tapi membawa petaka, kehancuran, ancaman, kematian, dan dukacita. Jalan tidak membawa kemajuan dan kesejahteraan. Jalan tidak membawa kedamaian. Sampai dunia kiamat pun jalan trans tidak akan membuat OAP lebih baik.

Orang bisa hidup tanpa jalan

Ingat! Kalau jalan trans ini tidak dibangun, maka orang tidak akan bawa minol, narkoba, ganja, dan motor curian. Jika jalan trans-Wamena-Jayapura tidak ada, 80 orang Papua yang meninggal karena KLB Mbua mungkin bisa diselamatkan.

Kalau jalan tidak ada, ratusan hewan ternak dan peliharaan bisa hidup. Kalau jalan tidak ada, empat warga yang meninggal di gunung Iniyebel barangkali bisa hidup. Kalau tidak ada pengerjaan jalan, tidak ada penyenderaan 8 karyawan PT Waskita Karya pada 2015, penembakan 1 Desember tidak terjadi, dan tidak ada cerita 24 orang tewas. Mungkin 4 warga sipil tidak ditembak TNI/Polri usai mengevakuasi 24 pekerja.

Namun, semua ini terjadi karena kebijakan berbaur kepentingan tanpa mementingkan nasib dan masa depan OAP. Pembangunan jalan trans perlu dievaluasi kembali. Pemerintah harus mencari solusi lain untuk membangun tanah dan manusia Papua.

Pelajari masalah

Pemerintah pusat harus mempelajari persoalan Papua secara baik. Setelah mengerti dan memahami baru merumuskan dan melaksanakan kebijakannya. Jangan seperti sekarang. Melahirkan kebijakan yang jauh dari konteks masalah. Upaya seperti ini tidak akan menyentuh persoalan dan tidak akan cepat menyelesaikan masalahnya.

Pemerintah harus pintar-pintar melihat potensi di Papua. Kalau mau membuat OAP maju dan sejahtera, pemerintah harus serius mendorong pembangunan di sektor perekonomian, peternakan, perikanan, perkebunan, seni dan budaya, parawisata, dan pendidikan. Jika ini tidak diseriusi, termasuk pembangunan jalan trans, tidak akan bisa membuat OAP betah dengan Indonesia.

Jalan tidak akan pernah membuat orang Papua menuju pada tingkat kemajuan dan kesejahteraan. Jalan malah membuat orang, tanah, dan budaya Papua terancam punah. Pemerintah harus lihat masalah dan potensi daerah setempat. (*)

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Cabang Jayapura, Papua

Referensi Bacaan

LIPI dan TAF, (2018) Kajian Cepat: Ringkasan – Eksekutif – Rapind – Assessement – Infra – Papua.

Islami Adisubrata, (2018,” Belum Layak Pakai, Jalan Trans Papua Sudah Digunakan Seludupkan Minuman Beralkohol”, Tabloidjubi.com, 1 Agustus 2018. Lihat https://jubi.co.id/artikel-18221-belum-layak-pakai-jalan-trans-papua-sudah-digunakan-selundupkan-minuman-beralkohol.html

Itlay, Soleman dkk (2015), Laporan Investigasi KLB Mbua dan Laporan Pasca KLB Mbua,Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda KLB Wilaya Mbua2017

Jenaru, Aventinus dkk, (2016), Papua di Ambang Kehancuran, Beragam Peristiwa dan Fakta Hak Asasi Manusia di Papua 2016, Jayapura: SKPKC Fransiskan Papua

Koten, Bernard dkk, (2016), Papua “Suga yang Terlantar”, Laporan Hak Asasi Manusia, SKP Se- Papua 2015 – 2017.

Harun Rumbarar, (2015), “Ini Enam Tuntutan SKJWM Terhadap Kasus KLB Mbua”. Suara Papua.com, 2015. Lihat https://suarapapua.com/2015/08/08/ini-enam-tuntutan-skjwm-terhadap-kasus-klb-mbua/

Abeth You, (2016), “Solidaritas KLB Mbua: Negara Gagal Ungkap Penyebab Kematian”, Tabloidjubi.com, 25 Februari 2016. Lihat https://jubi.co.id/16/2016/02/25/solidaritas-klb-mbua-negara-gagal-ungkap-penyebab-kematian/

Marius Frisson Yewun, (2018), “Bupati: Tambah Pos TNI di Jalan Trans Papua”,  Antara News, 22 November 2018. Lihat https://www.antaranews.com/berita/770487/bupati-tambah-pos-tni-di-jalan-trans-papua

Liza, Kumparan (2018), “Komplotan Pencuri Motor Antar Kabupaten Tertangkap di Jalan Trans Papua”,  Kumparan,com, 1 September 2018. Lihat https://kumparan.com/bumi-papua/komplotan-pencuri-motor-antar-kabupaten-tertangkap-di-jalan-trans-papua-1535812811336273427

Liza, Kumparan (2018), “TNI Wamena Temukan Ladang Berisi 158 Batang Ganja”, Kumparan.com. Lihat https://kumparan.com/bumi-papua/ladang-ganja-subur-diantara-dua-kabupaten-di-pegunungan-tengah-papua-1533295225512257261

Kataharina Janus, (2015) “8 Pekerja yang Disandera 3 Hari di Papua Dibebaskan”, Liputan6.com, 14 Juni 2015. Lihat  https://www.liputan6.com/news/read/2251810/8-pekerja-yang-disandera-3-hari-di-papua-dibebaskan

Viktor Mambor, (2018), “24 Pekerja Jalan Trans Papua Diduga Tewas Dibunuh”, Tabloidjubi.com, 3 Desember 2018. Lihat https://jubi.co.id/artikel-21602-24-pekerja-jalan-trans-papua-tewas-dibunuh.html

BBC Indonesia, (2018), “ Jokowi Tentang Pelaku Pembunuhan Buruh Proyek Papua: Tumpas Sampai Ke Akar – Akarnya”, Bbc.com, 5 Desember 2018. Lihat https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46450499

Viktor Mambor, (2018), “Tiga Korban Tewas di Nduga Bukan Anggota TPNPB”, Tabloidjubi.com, 23 Desember 2018. Lihat https://jubi.co.id/artikel-22148-tiga-warga-sipil-yang-tewas-di-nduga-bukan-anggota-tpnpb.html

Editor: Timo Marthen

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top