Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Masalah rasisme di Deiyai, bukan hanya milik sembilan tersangka

Kuasa hukum, Emanuel Gobay (tengah) bersama dua tersangka yakni Yos Iyai (kiri), dan Steven Pigai (kanan) – Ist

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ditetapkannya sembilan orang tersangka pada kasus aksi anti rasisme di Deiyai tanggal 23 Agustus 2019 mendapat sorotan serius dari Imam Katolik Dekenat Paniai, Keuskupan Timika.

“Masalah rasisme ini masalah besar. Rasisme dialamatkan kepada orang asli Papua. Nah, sembilan orang ditahan karena rasisme maka sepatutnya Kapolres Paniai dan Dandim Paniai harus tahan kita semua orang Meepago,” ujar Pastor Santon Tekege, Pr kepada Jubi di balik telepon  selulernya, Kamis, (31/10/2019).

Pastor Tekege yang banyak advokasi kasus kekerasan di wilayah Meepago meminta kepada pimpinan Polri dan TNI di Paniai, tidak boleh bertele-tele terhadap berbagai pernyataan dangkal, seperti sembilan orang masih ditahan karena belum dikembalikan satu pucuk senjata yang hilang.

“Jangan banyak pernyataan dari Kapolres ataupun Dandim, kalau anda berdua mau tahan lebih baik tahanlah semua orang Meepago. Entah Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya dan Mimika. Ini bukan masalah sembilan orang, tapi ini masalah Papua dan Meepago,” katanya.

“Karena hampir semua aksi pada tanggal 19 Agustus di beberapa wilayah Meepago, massa aksi membawa alat-alat adat seperti busur, anak panah, pakai busana adat (Koteka, Moge, dan Noken asli),” ujarnya.

Loading...
;

Menurut dia, apabila alat-alat adat itu yang akhirnya dijadikan barang bukti maka dianggap terlalu dangkal. “Kenapa bilang wilayah adat Meepago kalau alat-alat adatnya dianggap sesuatu yang tidak berguna,” ucapnya.

“Kenapa bilang adat itu jati diri orang Papua, sementara polisi dan tentara jijik melihat barang-barang adat. Ini sangat keliru,” kata dia.

Emanuel Gobay, salah satu kuasa hukum mengatakan, enam tersangka dari penyidik Polres Paniai serahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Nabire. Sedangkan tiga tersangka lainnya dipindahkan ke Rutan Polres Nabire karena masih mendapatkan pemeriksaan tambahan oleh penyidik Polres Nabire.

“Kalau tiga orang yang masih di Rutan Polres Nabire lewat dari 40 hari, maka kami akan minta bebaskan demi hukum. Tapi kalau sebelum 40 hari berakhir, maka nanti bisa kita dampingi di Kejaksaan dan Pengadilan,” ujar Gobay. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top