Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Masyarakat adat harus berdiri di atas kekayaan sendiri

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, saat mengunjungi Festival Budaya Pesona Bahari Teluk Tanah Merah, beberapa waktu lalu – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengatakan masyarakat adat harus berdiri di atas hasil kekayaan, sumber daya alam, dan potensi lokal mereka sendiri. Mereka tidak boleh mengikuti pengaruh-pengaruh di luar dari kampung adat masing-masing.

Dikatakan, masyarakat di kampung adat memiliki batas-batas pemerintahan, batas-batas tanah yang dikelola secara umum maupun pribadi, sehingga keberadaan ini memberikan nilai dan harapan bagi masyarakat adat untuk tetap eksis dan kuat di waktu-waktu mendatang.

“Pemerintah daerah memberikan kewenangan penuh kepada masyarakat adat untuk mengatur dan mengurus diri mereka sendiri melalui pemerintahan kampung adat. Oleh sebab itu, tidak bisa ada intervensi dari luar,” jelas Bupati Awoitauw, saat dihubungi di Sentani, Jumat (18/10/2019).

Dikatakan, ketika kita melihat jauh kebelakang sebelum tahun 2013, tepatnya 24 Oktober, kita lahirkan semangat dan gelora masyarakat dalam hari kebangkitan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura. Masyaraat adat hanya sebatas pemadam kebakaran, bahkan sistem dan fungsinya sama sekali tidak begitu nampak dan tidak diakui oleh masyarakat umum bahkan pemerintah daerah.

Loading...
;

“Tahun ini memasuki usianya yang keenam, ada banyak hal yang sementara dan terus dilakukan untuk perbaikan sistem, dan keberlangsungan pemerintahan masyarakat adat itu sendiri. Dengan kewenangan yang sudah ada sejak leluhur kita, hak, tugas, dan fungsi harus dijalankan kembali dalam satu pemerintahan kampung adat,” jelasnya.

Bupati Awoitauw juga mengatakan pemerintah daerah sudah berulang kali mengingatkan agar tanah yang menjadi hak ulayat, sudah tidak lagi diperdagangkan dalam bentuk apapun kepada siapa saja. Karena tanah merupakan aset yang paling berharga yang harus dikelola dengan sebaik mungkin.

“Ketika tanah sudah tidak ada, siapa lagi yang bisa menolong bahkan memberikan bantuan untuk hidup pada waktu-waktu yang akan datang. Kita akan menjadi penonton di atas tanah kita sendiri,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, dirinya sangat berharap agar masyarakat adat tetap berdiri di atas jati diri mereka sendiri untuk mengelola semua sumber daya dan potensi yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakat di kampung masing-masing.

“Tanah, hutan, kayu, hutan sagu, danau, dan lahan pertanian adalah bagian potensi yang dapat dikelola untuk kesejahteraan masyarakat di kampung adat. Karena semuanya berada di atas tanah dan air milik masyarakat adat,” ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Dewan Adat Suku (DAS) Kabupaten Jayapura, Daniel Toto,  mengatakan sebagai masyarakat adat pihaknya tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas dan fungsi dalam sebuah sisitem pemerintahan kampung adat.

“Undang-undang 1945, undang-undang desa, undang-undang otonomi khusus sangat menjamin keberadaan kampung adat, sehingga hal ini menjadi peluang besar bagi masyarakat adat untuk kembali ke kampung dan mengelola apa yang mereka miliki di atas lahan, tanah, dan air mereka,” pungkasnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top