Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Masyarakat adat pertanyakan manfaat pembangunan resort di pantai wisata Sowa

Areal wisata Hiu Paus di Kwatisore yang akan dibangun proyek TNTC – Jubi/Titus Ruban.

Nabire, Jubi – – Masyarakat adat pemilik hak ulayat di Pantai Sowa (wisata Hiu Paus), Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, mempertanyakan pembangunan mega proyek resort yang dibangun di pantai tersebut.

Mereka menilai, tidak ada dampak yang dirasakan masyarakat bahkan sejak ramainya kunjungan wisatawan.

Dikabarkan, ada proyek di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC), dimana saat ini sedang dibangun salah satu investor. Tepatnya di wilayah Kampung Sima dan Kampung Akodiomi, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire.

Gunawan Inggeruhi, salah satu pemilik hak ulayat mengatakan, proyek yang hendak dibangun oleh salah satu pengusaha di areal tersebut, apa manfaatnya bagi pihaknya dan warga sekitar.

“”Saya mau tanya, apa manfaatnya bagi kami,”” ujar Inggeruhi kepada jubi di Nabire. Rabu (17/07/2019).

Loading...
;

Dikatakan Inggeruhi, pihaknya tidak paham nantinya akan dilibatkan seperti apa dalam proyek yang dikabarkan memakan dana miliaran rupiah itu. Sebagai penerima manfaat, pihaknya masih buta terhadap dampak dari proyek tersebut.

Ia bilang, jika manfaatnya hanya memberi peluang bisnis bagi sekelompok usaha kelas menengah keatas, serta keberhasilan hanya diukur dari tingkat Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanpa melihat dampak manfaat bagi masyarakat, maka sama saja bohong.

“Jika klaim, TNTC sebagai aset negara, maka pihaknya pertanyakan kehadiran negara seperti yang disebutkan dalam UUD 45, terkait kekayaan yang terkandung didalam bumi NKRI adalah milik negara yang diperuntukkan sebesar – besarnya untuk kesejahteraan/kemakmuran rakyat,” ujarnya.

“”Jadi ini kejar untung investor, atau kejar PAD atau apau dan apa peran Negara. Lalu ada dugaan, selama ini info yang kami dapat bahwa tidak ada PAD yang masuk ke kas daerah dari TNTC. Artinya ini hanya dinikmati sekelompok orang saja,”” bebernya.

Dia menilai, wilayah suku Yerisiam memiliki peran yang penting atas wilayah TNTC. Hal itu terbukti dengar sejarah kelam. Sehingga perlu diatur sebaik mungkin agar tidak menimbulkan konflik sosial kelak.

Sebab katanya, suku Yerisiam menganut sistem komunal, dalam mekanisme pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Apalagi menyangkut Sumber Daya Alam (SDA)nya, tidak dapat diputuskan oleh individu.

“Pengalaman terbukti saat pasca ekspansi sawit yang dibawa oleh satu dua orang dan kini dampaknya telah dirasakan oleh masyarakat, dan hingga kini belum tuntas. Perjuangan panjang mengadvokasi suku kami, baik membenahi permusuhan antara kelompok pro dan kontra dalam konflik sawit menjadi pelajaran berharga bagi suku yerisiam kampung Sima,” ujarnya.

“”Maka kami tidak ingin terulang kejadian Sawit yang mungkin saja di TNTC. Sebab hal itu tidak diurus oleh para elit, kami sebagai pengurus suku yang jatuh bangun menyelesaikan persoalan ini. Seakan terkesan para pemangku kepentingan mengadu domba masyarakat. Sekali lagi kami tidak mau terulang di TNTC,”” tegas juru bicara Yerisiam ini.

Dia meminta agar semua pelaku usaha yang ingin berinvestasi di wilayah adat sukunya, harus melalui lembaga adatnya sebagai pengambil kebijakan tertinggi.

Karena pihaknya menilai, mega proyek TNTC yang dibangun di Sowa sarat kepentingan. proyek yang diseburnya hanya untuk kelas elit;bupati, kadis pariwisata, dan kelompok lainnya).

Dia meminta kepada Bupati Nabire, Kepala Balai TNTC, Kadis Parawisata untuk membuka ruang dengan pemilik tempat wisata dimaksud untuk duduk membicarakan manfaat yang akan diterima oleh masyarakat yang terdampak, terutama Suku Yerisiam sebagai pemilik hak ulayat.

“”Tanpa ada diskusi dari berbagai pihak yang berkepentingan, tentunya tidak akan selesai masalah ini, jadi sekali lagi kami harap,”” ujarnya.

Terpisah, Legislator Papua, Jhon NR Gobai juga menginginkan agar Balai TNTC, Pemda Nabire dan Dinas terkait dan masyarakat adat pemilik hak ulayat untuk dapat bekerjasama dalam menjaga dan mengelola objek wisata alam tersebut, terutama masyarakat suku Yerisiam.

“Dengan adanya pertemuan dan kerjasama yang baik, seluruh pihak diharapkan dapat saling mendukung dalam pengelolaan Wisata Hiu Paus di Kwatisore. Sehingga nantinya menjadi sumber peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar lokasi wisata Hiu Paus, dengan peningkatan ekonomi, agar dampaknya dirasakan masyarakat setempat,”” ujarnya.

Gobai pun memberikan solusi dalam pengelolaan TNTC. Seperti ; membuat kelompok pengelola, adanya unit -unit bisnis pendukung wisata, bagaimana pengelolanya, mengatur berapa kontribusi bagi rakyat dan membuat kesepkatan untuk apa dana itu digunakan serta menentukan kemana dan berapa besar kewajiban kepada Pemda Nabire.

”Saya pikir harus duduk bersama, Pemkab jangan kerja diam -diam tanpa libatkan masyarakat sebab dampaknya akan buruk. Tidak susah kok, kalau mau ajak masyarakat bicara,”” tandasnya.(*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top